Center Community Education (CCE) Sumut, Conservation Development Forest (CDF) Sumut, dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut menjalin kerja sama dengan Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara (STTSU) dalam melaksanakan penyuluhan edukasi pengelolaan hasil hutan yang berkelanjutan bagi kelompok perempuan dan anak-anak dari KTH Lestari Hutan di Desa Mariah Nagur, Kabupaten Serdang Bedagai.
Kegiatan ini merupakan bagian lanjutan dari program peningkatan kapasitas pengelolaan hasil hutan masyarakat (HKM) pada kelompok tani Lestari Hutan. Program ini hadir sebagai respon atas kendala internal yang muncul akibat penyalahgunaan area perhutanan sosial, seperti praktik penanaman kelapa sawit di kawasan hutan.
Direktur Eksekutif CCE Sumut, Dra. Frida Purba, mengungkapkan bahwa CCE telah menandatangani MoU, MoA, dan IA bersama STTSU untuk mendukung kegiatan penelitian, penyuluhan, dan pengabdian masyarakat di berbagai daerah dampingan.
Menurutnya, penyuluhan kepada perempuan dan anak-anak menjadi langkah strategis dalam meredam potensi konflik internal. Dengan bekal pengetahuan sejak dini, mereka diharapkan dapat menjadi penyampai informasi positif mengenai pengelolaan hutan yang lestari. Kolaborasi dengan STTSU juga memperkaya materi penyuluhan dengan perspektif tanggung jawab moral dan spiritual terhadap lingkungan sebagai ciptaan Tuhan.
Kegiatan yang berlangsung pada 5–6 September 2025 ini menghadirkan lima dosen STTSU sebagai fasilitator sekaligus menjalankan program pengabdian masyarakat.
Kelima dosen tersebut adalah Dr. Eka Helena Siregar, M.Th., Dr. Mastia Lelyna Sinaga, M.Psi., Dr. Nila Kesuma, M.Pd.K., Januaster Edy S. Siringoringo, M.Pd.K., serta Dr. Fritz Octo Amando De Houtman Saragih, S.Sos., M.M., yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif CDF Sumut.
Pihak KTH Lestari Hutan sebelumnya telah mengoordinasikan izin pelaksanaan kegiatan dengan Kepala Desa serta bekerja sama dengan salah satu sekolah dasar setempat untuk penyediaan lokasi.
Sekitar 40–60 anak sekolah dasar turut hadir dalam kegiatan penyuluhan ini.
Acara dibuka oleh perwakilan SDN 106869 Mariah Nagur, Bapak Tumanggor, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Dr. Fritz Saragih selaku Ketua Program, yang mewakili Dra. Frida Purba.
Para fasilitator memberikan materi mengenai pemahaman lingkungan sejak usia dini, seperti perbedaan sampah organik dan non-organik, manfaat tanaman bernilai ekonomi skala rumah tangga (durian, rambutan, mangga, jengkol, petai, dan lainnya), serta bahaya dari praktik yang merusak hutan, seperti penebangan liar, penanaman sawit, dan alih fungsi lahan.
Dr Mastia Lelyna Sinaga menjelaskan bahwa setiap sesi diisi dengan pertanyaan interaktif dan permainan edukatif untuk meningkatkan daya ingat anak-anak. Beberapa permainan yang diberikan antara lain lomba memilah sampah, lomba menulis nama pohon hutan dalam waktu tiga menit, serta lomba mewarnai dengan tema “menjaga lingkungan.”Tingginya antusiasme peserta terlihat dari meningkatnya jumlah kehadiran, dari 42 anak pada hari pertama menjadi 65 anak di hari kedua.
Januaster Edy Siringoringo menambahkan bahwa semangat anak-anak sangat menginspirasi para fasilitator, meskipun mereka tinggal di desa yang terpencil dan berbatasan langsung dengan kawasan hutan dengan akses jalan yang cukup sulit. Bagi sebagian besar fasilitator, ini merupakan pengalaman pertama mengunjungi desa terjauh di Kabupaten Serdang Bedagai.
Pada penutupan kegiatan, seluruh peserta bersama timpenyuluhan menyampaikan seruan bersama: “Mari menjagalingkungan, tanamlah tanaman yang bernilai ekonomis sesuaidengan kriteria tanaman hutan.”
Selain itu, anak-anak peserta juga mendapatkan kenang-kenangan berupa buku cerita, alat tulis, dan tas ransel yang disiapkan oleh CCE Sumut dan CDF Sumut.