Minggu, 03 Mei 2026

Remaja Masjid & Teknologi: Dari Warnet ke Masjid yang Aktif dan Kreatif

Medan (utamanews.com)
Oleh: Rifqih Azpha Arqilah Sipahutar Kamis, 19 Jun 2025 22:19
Rifqih Azpha Arqilah Sipahutar bersama remaja masjid
 Istimewa

Rifqih Azpha Arqilah Sipahutar bersama remaja masjid

Rifqih Azpha Arqilah Sipahutar, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dengan NIM 220902112, melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Sumatera Utara (Bappelitbang).

Di tengah gempuran teknologi dan derasnya arus hiburan digital, remaja masjid menghadapi tantangan baru. Bukan sekadar persoalan ibadah, tapi tentang bagaimana bertahan menjadi generasi yang tetap punya nilai, akhlak, dan semangat kebersamaan—tanpa harus mengasingkan diri dari teknologi. Sebagai mahasiswa kesejahteraan sosial, saya menjalani praktik kerja lapangan untuk mendampingi Remaja Masjid Amanah dalam sebuah program pembinaan yang penuh cerita dan pembelajaran. Di sinilah saya menyaksikan bahwa remaja masjid tidak kekurangan potensi—mereka hanya butuh ruang, kepercayaan, dan cara baru untuk berkembang.

Di awal pengamatan saya, fakta mengejutkan muncul: banyak remaja masjid yang justru lebih akrab dengan warnet ketimbang ruang kegiatan masjid. Aktivitas game online, media sosial, hingga konten hiburan lainnya menyita waktu dan perhatian mereka. Padahal, masjid seharusnya menjadi tempat utama bagi pembinaan spiritual dan sosial. Bukan karena mereka tak peduli agama, tapi karena pendekatan kegiatan masjid terasa kaku dan kurang relevan dengan dunia mereka. Tidak ada ruang berekspresi, tak ada program yang membangkitkan semangat mereka. Maka muncullah inisiatif sederhana tapi bermakna: menjadikan masjid bukan hanya tempat salat, tapi juga tempat tumbuh.

Disini saya melakukan pendekatan kelompok remaja masjid dengan intervensi group work, ada beberapa tahapan group work yang saya lakukan meliputi, Engagement, Intake, Contract, Assesment, Planning, Intervensi, dan Evaluasi. Lewat forum diskusi (FGD), rapat mingguan, hingga evaluasi bersama, remaja diajak untuk menyusun sendiri program mereka. Dari sini muncul rasa memiliki dan tanggung jawab. Mereka tidak lagi menunggu disuruh. Mereka mulai bergerak, berinisiatif, dan mencintai rumah ibadah mereka sendiri. Peningkatan kegiatan masjid. Lebih dari itu, remaja jadi percaya diri, terampil, dan sadar bahwa masjid adalah tempat mereka bisa tumbuh. Mereka tak lagi sekadar ikut-ikutan, tapi ikut berpikir dan membentuk masa depan komunitasnya. Kini mereka rutin salat berjamaah, aktif menyusun agenda, bahkan siap tampil di depan umum. Kegiatan sosial seperti Jumat Berkah membentuk empati, kerja bakti menumbuhkan semangat gotong royong, dan pelatihan digital membuka jendela masa depan.
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️