Sebanyak 5 dari 62 orang pengungsi Rohingnya yang berada di Gedung Nasional, Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, berusaha untuk kabur/melarikan diri.
Peristiwa tersebut dibenarkan oleh Kanit Reskrim Polsek Tanjung Pura, Iptu Kaspar Napitupulu, saat dikonfirmasi awak media, Senin (3/6). "Benar, ada lima orang yang melarikan diri," ujar Kaspar.
Dirinya juga mengatakan,dari jumlah tersebut, sebanyak empat orang pengungsi Rohingya sudah diamankan. Sedangkan satu orang lagi masih menghilang.
"Untuk satu lagi kita belum kelihatan. Tapi nanti kelihatan itu," ujar Kaspar.
Untuk ke-empat pengungsi yang berhasil diamankan, sebut Kanit Reskrim Polsek Tanjung Pura, berhasil diamankan di sekitar Kecamatan Tanjung Pura.
"Masih bingung mereka, alasannya mau cari makan. Katanya makan yang dikasih kurang," jelas Kaspar.
Sementara itu, warga Kecamatan Tanjung Pura hingga saat ini kian resah mendengar kabar jika beberapa pengungsi Rohingya kabur.
"Akibat kedatangan pengungsi Rohingya ini kamipun menjadi resah, apalagi kami dengar mereka melarikan diri gini. Kami takut kalau mereka nanti mencuri dan masuk ke rumah-rumah warga," ujar seorang warga bernama Risma.
Diketahui, puluhan pengungsi Rohingya yang berada di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, berjumlah sebanyak 62 orang.
Mulanya, para pengungsi yang berasal dari Myanmar ini dikabarkan masuk ke perairan Kabupaten Langkat, tepatnya di Desa Kwala Langkat, berjumlah 51 orang, pada Rabu (22/5) pagi.
Tenyata ada 11 orang pengungsi Rohingya lainnya yang tiba di Kantor Camat Tanjung Pura pada Kamis (23/5) malam.
Artinya, ada sebanyak 62 orang pengungsi Rohingya yang masuk ke Kecamatan Tanjung Pura. Semuanya saat ini sudah dikumpulkan menjadi satu di Gedung Nasional yang berada di Kecamatan Tanjung Pura.
"Para pengungsi Rohingnya ini kemari sejak hari Jumat sekitar pukul 16.00 Wib dari Kwala Langkat sebanyak 51 orang, malam sebelumnya ada 11 orang juga yang datang ke Kantor Camat Tanjung Pura, dibawa oleh maysarakat Desa Kwala Langkat," ujar Lurah Pekan Tanjung Pura, Suwanto, Selasa (28/5).
Suwanto juga menjelaskan, ia mengaku tak mengetahui puluhan pengungsi ini datang berasal dari negara mana.
"Tapi ketika mereka dikumpulkan, ada anak dan bapaknya bertemu. Informasi yang kita dapat mereka tidak satu kapal," urainya.
"Kenapa dari Desa Kwala Langkat dipindahkan kemari, kami juga kurang faham. Tapi informasi yang kita dapat dari pimpinan, masyarakat Desa Kwala Langkat tidak menerima sehingga diantarkan ke kecamatan. Di kecamatan inilah ada gedung yang kosong yang namanya Gedung Nasional, maka sama pimpinan diletakkan di sini sementara. Kita dari pihak kelurahan hanya disuruh membantu," sambungnya.
Suwanto juga menambahkan, Pemerintah setempat saat ini hanya berusaha memfasilitasi para pengungsi Rohingya. "Namun bantuan material tidak ada, hanya secara moril kita sudah membantu gimana supaya mereka sementara berada disini," beber Suwanto.
Ada hal yang menarik dalam peristiwa tersebut, para pengungsi Rohingya tampak memakai gelang berwarna kuning.
"Semalam ada tim UNHCR yang datang kemari, mereka mendata satu persatu pengungsi rohingya ini. Kemudian mereka di kasih gelang, jadi kalau secara simbolis menurut kami, ini pengungsi-pengungsi yang sudah di data UNHCR," tegas Suwanto.
Disinggung sampai kapan para pengungsi Rohingnya ini berada di Gedung Nasional, Suwanto mengatakan masih menunggu perintah pimpinannya.
"Artinya sepanjang mereka di sini, kita berusaha bagimana caranya mereka para pengungsi Rohingya tidak menjadi masalah sama kita," ungkapnya.
Selama berada di Gedung Nasional, sebut Suwanto, puluhan pengungsi Rohingya mendapat penjagaan ketat oleh pihak kepolisian, TNI, Satpol PP, Kecamatan, dan Kelurahan.
"Seperti kalau keluar gedung dan saat mereka mengambil wudhu," ucap Suwanto.
Meski begitu, Suwanto juga tidak menampik bila tenyata masyarakat Kelurahan Tanjung Pura sudah resah atas keberadaan pengungsi Rohingya.
"Banyak masyarakat yang sudah komplain dengan kedatangan mereka di sini, karena ada hal-hal yang ditakutkan mengganggu aktivitas masyarakat. Sampai sejauh ini banyak masyarakat yang tidak suka adanya keberadaan rohingya disini. Cuma masih bercerita secara pribadi," tutup Suwanto.