Pemerintah Kota (Pemko) Binjai menggelar gerakan pangan murah bagi masyarakat yang dilaksanakan di Jalan Letnan Umar Baki, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Binjai Barat.
Beberapa bahan komoditas yang disediakan diantaranya telur ayam dengan harga Rp45.000/papan, gula pasir Rp13.500/Kg, minyak goreng merk Minyak Kita Rp13.500/Kg, serta beras Rp53.000/5 Kg.
Kepala Dinas (Kadis) Ketapang Kota Binjai Ralasen Ginting, saat dikonfirmasi awak media mengatakan, gerakan pangan murah ini dilaksanakan sebagai upaya pengendalian stabilisasi pasokan dan harga pangan serta mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.
"Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu masyarakat agar dapat memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau, di bawah harga pasar, serta menjaga ketersediaan bahan pangan," ujar Ralasen, Kamis (14/9).
Senada juga dikatakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Binjai Joko Waskitono. Diakuinya, gerakan pangan murah ini diharapkan dapat membantu masyarakat Kota Binjai untuk memenuhi kebutuhan pangan secara lebih terjangkau.
Tidak hanya itu, lanjut Joko, memperkuat langkah pengendalian inflasi pangan dengan memastikan ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga juga menjadi tujuan dari kegiatan tersebut.
"Saat ini berbagai strategi telah dilakukan pemerintah untuk menstabilkan ketersediaan dan harga bahan pangan. Salah satunya dengan gerakan pangan murah," urai Joko.
Dikatakan Joko Waskitono, Pemerintah memberikan subsidi ke sejumlah komoditas pangan sehingga harganya menjadi lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat bisa mendapatkan bahan pangan dengan harga yang wajar.
"Saya berharap agar kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan dengan skala lebih besar, secara rutin setiap bulan dan tahun, serta melibatkan lebih banyak pihak maupun mitra-mitra distributor," harapnya.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Binjai ini pun berpesan agar masyarakat yang berbelanja harus tepat sasaran.
"Artinya, jangan sampai yang datang membeli justru mereka yang punya toko, warung, atau yang punya usaha jual beli sembako, dengan tujuan untuk dijual kembali," demikian tutup Joko Waskitono.