Sabtu, 09 Mei 2026

Umar Zunaidi Hasibuan : Sungaiku Jangan Lagi Tercemari

Tebing Tinggi (utamanews.com)
Selasa, 12 Mei 2015 22:39
<i>Walikota Tebing Tinggi, Umar Zunaidi</i>
 Ist

Walikota Tebing Tinggi, Umar Zunaidi

Tebingtinggi – (Utamanews.com) - Kota Tebingtinggi yang diapit Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) terutama wilayah perkebunan PTPN 3 Kebun Rambutan, PTPN 4 Kebun Pabatu, PT Paya Pinang Grup dan PT Scofindo dan PTPN 3 Kebun Pamela, ke depan merupakan segitiga emas perlintasan dari Timur menuju Pematang Siantar dan perlintasan Barat menuju Kisaran dan Pekan Baru. Tebingtinggi juga dibelah oleh dua sungai, yakni Sungai Padang dan Sungai Bahilang, sungai tersebut langsung membelah jantung inti kota.

Pertokoan dan ruko-ruka banyak berdiri, karena kepadatan tingkat hunian di kota, mayoritas etnis Thionghoa menjadikan ruko menjadi tempat tinggal, rata-rata mereka tidak memiliki bak penampungan WC (Sptik tank) dan air limbah cucian, masyarakat membuangnya langsung ke dalam aliran Sungai Bahilang dan Sungai Padang. Ke depan, apabila hal demikian tidak menjadi perhatian bersama, diperkirakan 10 tahun lagi, air sungai tersebut sangat tercemar zat-zat kotoran manusia dan limbah-limbah rumah tangga.

Padahal seharusnya sungai bisa dimanfaatkan oleh warga yang bermukim di pinggiran sungai, tetapi saat ini tidak bisa dipergunakan lagi, karena selain bau tidak sedap, air sungai sudah tercemar tingkat tinggi sehingga membahayakan kesehatan seperti bisa menimbulkan penyakit diare dan gatal-gatal pada kulit tubuh manusia.

Tebingtinggi dalam pengembangannya menjadi Kota Jasa dan perdagangan yang dilalui oleh sungai, rentan terhadap permasalahan persoalan sanitasi, sekaligus menjadi tantangan dalam pemenuhan pelayanan dasar bidang sanitasi dan pengembangan infrastruktur perkotaan.
Kendala yang tetap dialami adalah fenomena pemikiran warga Kota Tebingtinggi, terutama yang tinggal bantaran sungai, masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan limbah sampah rumah tangga. Kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya sanitasi. Belum banyak mengetahui tata cara pembuatan spetik tank yang sehat dan jauh dari sumur. Kualitas air permukaan di Kota Tebingtinggi saat ini diambang normal dan banyak mengandung elkolin sehingga membahayakan jika dikomsumsi secara berkelanjutan dan masih minimnya fasilitas umum sanitasi yang ada.

Kota Tebingtinggi melalui pemerintahnya wajib melakukan hubungan kerjasama dengan pihak internasional, seperti yang dilakukan dengan pihak Pemerintah Australia (Australian Goverment) yang tergabung dalam AIIG dan INDII (Indonesia Infrastructure Initive), yang memberikan hibah kepada Indonesia yaitu kepada Pemko Tebingtinggi dalam capaian target MDGs tahun 2015 dalam layanan akses air minum dan layanan sanitasi.

Walikota Tebingtinggi  Ir H Umar Zunaidi Hasibuan sangat respon dengan apa yang dilakukan oleh pihak Pemerintah Australia yang peduli dengan masalah sanitasi di Kota Lemang ini, menurutnya, Tebingtinggi sangat membutuhkan Ipal untuk menyalurkan kotoran masyarakat dan limbah bekas cucian tertampung pada suatu tempat dan tidak lagi dibuang langsung ke dalam aliran sungai khususnya di kawasan padat penduduk, karena berbagai faktor, sehingga ini perlu dilakukan, dimana, tempat padat penduduk, untuk membuat septik tank dan bak penampungan kotoran tidak mungkin lagi karena bangunan yang pada sehingga tidak ada lagi ruang.

Penduduk di kawasan padat akan mengambil jalan pintas dengan langsung membuat saluran dan membuangnya langsung ke sungai, semangkin lama, maka sungai tersebut terus tercemari berbagai limbah. 
produk kecantikan untuk pria wanita

“Hal ini yang mendorong kuat hati saya untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Masyarakat juga diminta untuk tidak membuang sampah kotoran rumah tangga kedalam sungai. Pendidikan dan sosialisasi sanitasi harus secara berkelanjutan di informasikan kepada masyarakat,” jelasnya beberapa waktu lalu di Tebing Tinggi.

Untuk sektor air limbah, Pemko Tebingtinggi telah melaksanakan pembangunan Ipal di kawasan jalan Udang Kelurahan Badak Bejuang Kota Tebingtinggi dengan menyerap dana Rp3,2 miliar dari APBN 2013. Pembangunan Ipal tersebut akan melayani sambungan rumah (SR) sebanyak 125 SR dari APBD 2013, 100 SR dari APBD 2014 dan 175 SR dari RAPBD tahun 2015. Sedangkan untuk pembangunan Ipal komunal di Kelurahan Mandailing Kota Tebingtinggi menelan dana Rp1 miliar dari APBD tahun 2013 yaitu menyerap 200 SR pada APBD 2015.

Sektor air bersih, pemasangan istalasi pengolahan (IPA) dengan dana Rp8,7 miliar bersumber dari DAK 2014, pengadaan dan pemasangan pompa produksi untuk PDAM Tirta Bulian bersumber dari DAK 2014 sebesar Rp275 juta dan pemasangan sambungan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui pernyertaan modal kepada PDAM Tirta Bulian sebesar Rp5 miliar dari APBD tahun 2014. Sektor persampahan, Pemko Tebingtinggi juga telah melakukan pengadaan lahan TPA yang bersumber dari APBD 2013 sebesar Rp2 miliar dan pengadaan excavator yang ditampung di APBD tahun 2014. Sektor Drainase, Pihak Pemerintah Kota Tebingtinggi melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) melakukan peningkatan saluran sekunder Pinang Mancung Kota Tebingtinggi, peningkatan saluran skunder di Kelurahan pelita dan rehabilitasi saluran skunder di Kelurahan Bulian Kota Tebingtinggi.

iklan peninggi badan
Walikota Tebingtinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuan mengucapkan terima kasihnya kepada pihak Pemerintah Australia yang masih peduli dengan masalah sanitasi lingkungan, terutama IUWASH-USAID dalam melakukan pendampingan dan penyusunan Ipal di Jalan Udang Kota Tebingtinggi, dilakukannya sosialisasi kepada masyarakat sebagai calon pelanggan Ipal Kawasan dan Ipal Komunal, sedangkan untuk sAIIG-AusAID yaitu memberikan bantuan hibah melalui mekanisme reimbursment tahapan SR yang telah dibangun melalui dana APBD dan sanitasi dengan perjanjian penurusan hibah (PPH) sebesar Rp1,6 milir untuk 600 sambungan rumah (SR) di Kelurahan Badak Bejuang, Tebingtinggi Lama, Mandailing dan Kelurahan Pasar Gambir serta penerusan hibah sebesar Rp5 miliar untuk pemasangan jaringan 2.000 SR untuk MBR. 

“Dengan itu, Pemko Tebingtinggi bisa terbantu, jikalau berharap dari APBD dan PAD Tebingtinggi, kita tidak mampu melaksanakan pembangunan yang langsung menyentuh kepada masyarakat banyak,” ujarnya.

Pemko Tebing Harus Mampu Berikan Pemahaman Sanitasi

Wakil Walikota Tebingtinggi Ir H Oki Doni Siregar didampingi Kepala Bapedda, Gul Bakhri Siregar SIP MSi memaparkan sedikit kendala awal di masyarakat karena kurangnya informasi tentang sanitasi lingkungan, karena prinsip masyarakat yang kurang menghargai pentingnya sungai bagi kehidupan, makanya Pemko Tebingtinggi secara rutin baik pada forum diskusi dan program Jumat Keliling (Jumling) di setiap kelurahan. Sebanyak 35 kelurahan selalu memperdayakan program sanitasi seperti bahaya limbah masyarakat bagi sungai, masalah sampah dan pengolahan sampah menjadi nilai ekonomis dan keuntungan pendapatan masyarakat.

“Terutama di kawasan padat penduduk, kita selalu mengingatkan warga untuk mencintai lingkungannya, seperti pemanfaatan sampah organik yang bisa diolah menjadi pupuk kompos dan pengolahan sampah non organik menjadi komoditi kerajinan tangan seperti tas, sandal dan kerajinan lainnya,” kata Oki. 

Untuk program sanitasi ini, Pemko Tebingtinggi mengharapkan warga yang tinggal di bantaran sungai untuk tetap memperhatikan sungai dan jangan mencemarinya, dimana seperti pembuangan limbah kotoran dan limbah bekas cucian hendaknya warga menerima pemasangan SR untuk Ipal Kawasan sehingga sungai bebas tercemar kotoran. 

“Bayangkan saja, kalau warga yang membuang kotoran ke sungai seribu kepala keluarga (KK) dalam sehari, kalau setahun bagaimana tingkat pencemarannya, mungkin tidak terhitung lagi,” jabar Oki.

Dengan adanya program sanitasi ini, diharapkan kotoran dan limbah masyarakat mampu ditampung dalam bak pengolahan limbah dan tidak mencemari lingkungan. Warga diharapkan bisa mendukung program pemerintah untuk melestarikan lingkungan demi untuk kesehatan masyarakat itu sendiri.

Komunitas Pecinta Sungai Bahilang (Kecambah), Drs Abdul Khalik MAP menjelaskan bahwa tingkat pencemaran lingkungan khususnya kepada sungai di Tebingtinggi sudah diambang batas, mengapa hal itu demikian, karena lahan Daerah Aliran Sungai (Das) Sungai Bahilang yang membelah jatung kota telah menjadi pemukiman dan ruko penduduk, banyak sampah dan kotoran manusia dibuang langsung ke dalam sungai tanpa ada pengolahan limbah terlebih dahulu. Pemerintah Australia yang memberikan kepeduliannya tentang sanitasi lingkungan menambah kecerdasan masyarakat untuk semangkin peduli mencintai lingkungannya terutama sungai sebagai bagian dari hidup manusia.

Adanya sanitasi sektor Ipal Komunal dan Ipal Kawasan tersebut, ke depan sungai-sungai yang ada di Kota Tebingtinggi tidak akan tercemar lagi, bahkan warga kedepan bisa mempergunakannya sumber air sungai sebagai kebutuhan dari hidupnya, perilaku membuang sampah ke dalam sungai hendaknya bisa ditinggalkan masyarakat, karena Pemko Tebingtinggi melalui Dinas Pertamanan dan Kebersihan (DKP) telah menyediakan bak-bak penampungan sampah (bank sampah) yang terbagi untuk sampah rumah tangga organik dan non organik, bahkan untuk sampah organik, warga diharapkan bisa memfaatkannya untuk menjadi pupuk kompos dengan pengolahan yang benar. 

“Perilaku bisa menjaga dan mencintai sungai hendaknya bisa diterapkan terus di masyarakat, sosialiasasi tentang pemahaman pentingnya sungai bagi kehidupan harus terus dilaksanakan dan peranan Pemko Tebingtinggi menjadi terdepan didampingi dengan komunitas-komunitas pencinta sungai,” beber Khalik.

Berbagai tanggapan positif dan negativ muncul dari masyarakat, seperti Udin (50) warga jalan Udang Kota Tebingtinggi mengaku selama ini membuang kotoran dan cucian rumah tangga menuju saluran pipa pembuangan kedalam Sungai Padang, karena untuk membuat septik tank membutuhkan lahan dan biaya besar, tetapi setelah adanya program dari Pemerintah Australia atas bantuan pembuatan Ipal Kawasan, warga yang memiliki Sambungan Rumah (SR) tidak langsung membuangnya kedalam aliran sungai, tetapi dengan penyambungan tersebut, bisa membuangnya lewat saluran yang sudah ada tempat penampungannya.

“Awalnya kita sempat protes karena jalan di depan rumah digali sehingga menyulitkan lalulintas, tetapi setelah mendapat penjelasan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tebingtinggi, masyarakat menyadari bahwa pentingnya pembangunan Ipal untuk saluran kotoran masyarakat dan limbah cucian yang membahayakan ekositem sungai mampu teratasi,” beber Udin.

Lain lagi penuturan Acong (60) warga Senangin Kelurahan Badak Bejuang menuturkan beberapa kelemahan dari program sanitasi yang dilakukan oleh Pemko Tebingtinggi, tetapi dari kelemahan tersebut secara langsung masyarakat masih lebih banyak diuntungkan. Terutama saat pembangunan pengorekan penanaman pipa, penguna lalulintas jalan banyak terganggu dan setelah selesai, kondisi jalan tidak mendapat perbaikan seperti semula.

Sementara untuk keuntungannya, masyarakat selama ini tidak mengetahui program sanitasi dengan adanya program hibah dari Pemerintah Australia kepada Pemko Tebingtinggi masyarakat jadi mengetahuinya, beberapa keuntungan tersebut yaitu masyarakat jadi bisa menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah rumah tangga, kotoran manusia dan limbah cucian langsung ke aliran sungai. 

“Kita berharap kedepan, seluruh kawasan padat penduduk harus mempunyai Ipal Kawasan ataupu Ipal Komunal, karena dengan ini, kita tidak secara langsung telah menyelamatkan kelestarian ekositem sungai yang diambang kehancuran,” terang, Acong. (Msp)

Tag:
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️