Aliran kepercayaan Ahmadiyah akhirnya membatalkan kegiatan pertemuan Tahunan jemaat yang direncanakan berlangsung pada tanggal 6 hingga 8 Februari di Gedung Wisma Mangampu Tua di Jalan Prof Dr Hamka KotaTebingtinggi.
Batalnya kegiatan ini akibat dari penolakan masyarakat dan seluruh elemen ormas Islam yang ada di Kota Tebingtinggi, Jumat (6/2).
Di areal rencana pertemuan, Gedung Wisma Mangapu Tua, terlihat sepi akitivitas. Kunci gerbang depan tertutup dan di Masjid Ath Thahir di Jalan Batu Bara, juga terlihat sepi, hanya beberapa orang jemaat Ahmadiyah terlihat habis melaksanakan salat Jumat.
Menurut sumber yang dipercaya bahwa, informasi kegiatan pelaksanaan pertemuan tahunan jemaat Ahmadiyah di laksanakan di Pasar III jalan Krakatau Kota Medan.
Ketua Pimipinan Cabang Nadhlatul Ulama Kota Tebingtinggi Ir H Oki Doni Siregar, juga menjabat sebagai Wakil Walikota (WaWaKo) Tebingtinggi didampingi Sekjen, Samsuddin SPd, mengatakan pihak NU juga menolak kegiatan pertemuan jemaat Ahmadiyah di Kota Tebingtinggi. Apabila hal itu dilaksanakan, maka akan terjadi konflik ormas Islam dan masyarakat tentu saja menolak dengan keras.
"Intinya, kaum Nadylin menolak ajaran Ahmadiyah di Kota Tebingtinggi, karena tidak sesuai dengan hadist dan Al Quran", jelas Oki.
Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Kota Tebingtinggi Drs H Ahmad Dalil Harahap melarang keras ajaran Ahmadiyah berkembang di Kota Tebingtinggi. MUI tidak mengakui ajaran Ahmadiyah yang mengaku ada nabi terakhir setelah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad.
Menurut fatwa MUI, ajaran Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran agama Islam yang sebenarnya.
Fatwa tersebut berbunyi menurut ketetapan fatwa MUI tahun 1980 bahwa Ahmadiyah di luar agama Islam sesat dan menyesatkan, bagi mereka yang terlanjur mengikuti ajaran Ahmadiyah agar segera kembali ke ajaran Islam yang sesuai dengan hadist dan Alquran dan agar Pemerintah Indonesia melarang penyebaran Ahmadiyah melakukan kegiatannya. (Msp).
Ahmad Dalil Harahap menjelaskan, Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir tahun 1900 Masehi yang dibentuk oleh pemerintah Inggris di negara India yang tujuannya menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam dan jihad.
"Semuanya dilakukan agar kaum muslimin meninggalkan perlawanan terhadap penjajah. Semuanya dibentuk oleh Mirza Ghulam Ahmad dan corong gerakan ini ada di majalah Ad-Diyan yang terbit di Inggris," jelas Ahmad Dalil. (Msp).

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama