Kebanyakan anak pada usia muda yakni antara umur 7 sampai 12 tahun biasanya hidup dalam keceriaan yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang diberikan oleh orang tuanya mulai dari fasilitas bermain, sarana dan prasarana hiburan yang baik hingga berbagai kebutuhan lainnya bahkan uang yang banyak juga diberikan kepadanya.
Anak yang seperti itu selalu kita dapati pada anak anak para pejabat di negeri ini.Namun berbeda dengan dua bocah ini yakni Irul (8 tahun) bersama dengan kakak kandungnya yakni Tulus Siagian (10 tahun), warga Panjang Bidang II Kelurahan Gunting Saga kecamatan Kualuh Selatan kabupaten Labuhanbatu Utara Provinsi Sumut.
Kedua bocah kakak beradik ini terpaksa menjual sayur dagangannya dengan cara menjajakannya dari rumah ke rumah demi untuk sesuap nasi alias "makan" sehari-hari.
Sambil menjunjung sayuran yang dibungkus kain diatas kepalanya, Irul, yang juga merupakan siswa kelas II di SD Negeri Panjang Bidang ini mengaku bahwa setelah pulang dari sekolah, ia dan kakaknya langsung berangkat ke berbagai lokasi untuk mencari tanaman sayuran yang tumbuh dengan liar di areal pertanian.
Biasanya mereka mencari jenis tanaman sayuran Genjer, Daun Ubi, Kangkung, Pakis dll. Setelah sayuran tersebut didapat, mereka pun mengikat dan membungkusnya dalam kain kemudian menjajakannya kepada masyarakat dengan harga Rp.1000,- per ikatnya.
"Sayuran ini kami jual seharga Rp.1000,-.per ikatnya sama orang yang mau membelinya bang," tutur Irul.
Terlihat, sambil menjunjung barang dagangannya di atas kepala, ke dua bocah ini berjalan tanpa menggunakan sandal di pinggir Jalan Lintas Sumatera diantara hilir mudiknya mobil mewah milik "orang kaya" dan pejabat di negeri ini. Kedua bocah ini tak menghiraukan apa yang dilihatnya dan tetap mendatangi rumah ke rumah mengetuk pintu hati agar sayurannya ada yang sudi untuk membelinya. "Buk..., mau beli sayurannya buk.., harganya cuma Rp.1000,- se ikat buk,".inilah ucapan yang keluar dari mulut Tulus Siagian yang menawarkan sayurannya di depan pintu rumah warga.
Berjuta harapan terlihat di wajahnya. Semoga sayurannya itu dibeli, namun harapan itu kadang hampa ketika salah seorang warga mengatakan, "maaf ya dek...kami sudah masak sayur tadi."
Mendengar ucapan ini, Tulus dan adiknya kembali menjunjung sayurannya dan beranjak pergi mencoba untuk menjajakan ke rumah yang lainnya.
Tulus mengatakan bahwa hal ini mereka lakukan untuk membantu orang tuanya dalam mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup mereka bersama dengan ke 4 orang adiknya yang masih Balita dan satu orang kakaknya yang duduk di SMP sebab ayahnya hanyalah seorang “penderes” di salah satu kebun milik warga yang hasilnya tidak mencukupi, sedangkan ibunya juga bekerja persis seperti mereka.
"Ayah kerjanya menderes bang, kalo mamak menjual sayuran juga macam kami sedangkan 4 orang lagi adikku masih kecil-kecil. Masih digendong mamakku bang," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa menjual sayuran ini mereka mulai dari pukul 14.00 hingga pukul 18.00 wib yang terkadang laku terjual sebanyak 40 ikat, namun terkadang 1 ikat saja pun tidak ada laku terjual bahkan mereka juga selalu pulang malam.
"Terkadang laku 40 ikat yang duitnya Rp.40.000,- tapi kadang kadang satu ikat pun tak ada laku bang,” sebut Tulus yang bercita-cita ingin menjadi Tentara tersebut.
Ia menambahkan bahwa uang yang didapat mereka nantinya diberikan kepada ibunya sebagai tambahan untuk biaya makan. "Uang yang dapat kami untuk makan bang," tandasnya.
Lain hal yang disampaikan oleh Irul yang bercita-cita ingin menjadi polisi, ia berharap bapak Bupati Labura sudi kiranya memperhatikan mereka. "Kepingin juga kami melihat bapak bupati itu bang, mudah mudahan ia mau memperhatikan hidup kami bang," tandasnya.
Memang terkadang terasa ganjil juga terlihat, dimana daerah Labuhanbatu Utara ini kaya akan berbagai potensi, namun kehidupan masyarakatnya masih ada saja diwarnai dengan hal hal yang seperti dialami oleh kedua bocah penjaja sayuran ini, dan tentunya ini adalah merupakan tanggung jawab dari kita bersama khususnya bagi para pemimpin di kab. Labura ini serta para anggota DPRD yang katanya adalah ‘wakil rakyat’ yang berjuang untuk kepentingan dan kehidupan rakyat. Semoga.