Pesan positif ini pernah saya dengar ketika masih duduk di bangku sekolah di Rumbai, Pekanbaru. Penyebabnya adalah kehadiran guru baru, yang dianggap akan membuat aturan dan suasana berbeda dari guru sebelumnya yang berstatus favorit.
Mari kita tinggalkan bagian “perkenalan” antara guru baru, yang belum punya jam terbang di sekolah lain, dengan sebagian besar murid, yang sudah berada di yayasan sekolah tersebut sejak usia dini dan kerap berhasil memberi pengaruh berlebih kepada para pendidik.
Di pengujung musim 2012/13, kita menunggu pembahasan transfer pemain yang diyakini melibatkan beberapa nama beken, seperti Neymar, Radamel Falcao, Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, hingga Fernando Torres.
Siapa sangka, pembicaraan menyoroti lalu-lintas pemain didahului cerita dan pergerakan sejumlah pelatih. Pengunduran diri Sir Alex Ferguson dari panggung sepak bola setelah 26 tahun menangani Manchester United, adalah berita besar.
Lalu, terpilihnya David Moyes sebagai pengganti Sir Alex menghadirkan perdebatan sengit mengenai masa depan Man. United.
Kubu Chelsea kini bersiap melakoni perubahan sepeninggal Rafael Benitez yang memberi klub tersebut tiket ke Liga Champion musim depan dan mahkota Liga Europa. Benitez bekerja dalam tekanan dan menghadapi sikap benci dari banyak pendukung The Blues, namun ia berhasil memenuhi target pengelola klub.
Benarkah Jose Mourinho, yang kembali ke Chelsea usai meninggalkan bara di Real Madrid, bisa memetik keuntungan dari perubahan besar di kubu Man. United? Kemampuan para pemain beradaptasi dengan situasi baru ikut menentukan jawabannya.
Ditinggal Mourinho, tentu saja tim Real Madrid akan memasuki fase baru, menjalani transisi kepemimpinan, dengan harapan dapat memetik situasi “merugikan” di Barcelona terkait kondisi fisik Tito Vilanova, Pelatih tim Catalan tersebut.
Jangan lupa, di Madrid pelatih asal Portugal itu mendapat ruang gerak yang sangat luas. Mourinho disebut pelatih paling berkuasa sepanjang sejarah Real Madrid. Akankah ia mendapat hal serupa di Chelsea? Sejak Roman Abramovich berkuasa di klub asal Kota London tersebut pada 2003, Chelsea sudah memiliki 10 manajer.
Pada Maret 2012, tak lama usai Andre Villas-Boas dipecat, petinggi Asosiasi Manajer di Liga Inggris menyebut tingginya tingkat turnover di kursi manajer Chelsea itu sebagai hal yang memalukan bagi sepak bola Inggris.Setelah Mourinho meninggalkan Chelsea pada September 2007, The Blues memiliki delapan manajer sebelum memanggil kembali pelatih yang terkenal dengan sebutan The Special One ketika berada di panggung Premier League.
Bayangkan bagaimana para pemain Chelsea, seperti John Terry dan Frank Lampard, terlibat dalam arus perubahan di era Abramovich dan masih bisa bertahan, bahkan berprestasi.
Manchester City juga berubah wajah setelah melepas pelatih Roberto Mancini dan menggantikannya dengan Manuel Pellegrini, arsitek tim Malaga di Spanyol. Seolah, tim berjulukan The Citizens ini tak memandang perubahan besar yang terjadi di Man. United, rival utama, sebagai sebuah keuntungan bagi mereka.
Faktor perubahan dalam tim menyangkut pelatih juga bisa kita lihat di klub-klub Serie A: Internazionale dan Napoli. Entah klub besar mana lagi yang ikut melakukan "operasi wajah".Klub yang menjadi buah bibir usai final Liga Champion 2013, Bayern Muenchen, juga menjalani masa perubahan ketika Jupp Heynckes menyerahkan kepemimpinannya di tubuh Die Bayern kepada Pep Guardiola, "insinyur" tika-taka FC Barcelona.
Sambil menunggu perkembangan berita transfer yang terus menjanjikan kehebohan musim ini, mari mencoba menjadi pemain dari tim-tim yang berganti pelatih tersebut. Apakah kita akan seperti murid yang kehilangan guru favorit dan menerka seperti apa gerangan guru baru? Atau, apakah guru baru itu akan suka pada kita?
Di manakah posisi para pemain yang tak siap menghadapi perubahan di dalam tim dan punya cara pandang berbeda dengan manajemen? Bila tak ingin meninggalkan klub, tentu pilihan terbaik adalah menjadi bagian dari perubahan itu. Harapan pengelola tim adalah si pemain membantu proses perubahan dalam tim menuju keinginan pemilik dan pendukung klub. Ujung-ujungnya duit juga kok, karena perubahan itulah yang diyakini bisa memenuhi aspek finansial klub guna memenuhi kewajiban mereka kepada pemain.
Kepada pemain yang timnya berganti pelatih dan meragukan keputusan manajemen itu, mereka disebut bakal kesulitan bergerak dan mengikuti perubahan bila terjebak akan masa sekarang yang kerap dilebih-lebihkan dan meremehkan apa yang bisa diberikan oleh masa depan.Tokoh hebat bernama Mahatma Gandhi punya nasihat tentang hal ini, "Jadilah perubahan sehingga perubahan itu bisa terjadi."