Program ketahanan pangan khusus desa di Kabupaten Batu Bara menuai sorotan tajam. Paket bioflok ternak ikan nila yang seharusnya menjadi penopang ekonomi masyarakat desa, kini justru diduga kuat berubah menjadi ajang bancakan pihak-pihak tertentu, Rabu (28/01/2026).
Benarkah demikian? Terkonfirmasi di atas kertas (RAB atau Spesifikasi) program ini terlihat mulia untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan warga desa. Namun fakta di lapangan berbicara lain.
Diketahui ada puluhan desa di Kabupaten Batu Bara paket bioflok dilaporkan bakal tidak berfungsi maksimal, terbengkalai, bahkan ada yang diduga hanya formalitas proyek. Diantaranya Desa Sumber Rejo, dan Desa Kuwala Gunung Kecamatan Datuk Lima Puluh. Bila mana hal ini tidak dijalankan secara serius dan matang.
Anggaran yang dikucurkan tidak sedikit untuk program paket bioflok per-desa bervariasi. Terkoreksi berdasarkan lampiran RAB (Rincian Anggaran Biaya) yang merujuk pada spesifikasi 8 kolam yang berdiameter 4 meter menelan anggaran sebesar Rp. 125,210 juta.
Kemudian 6 kolam yang berdiameter 4 meter menelan biaya sebesar Rp. 109,052 juta.
Sementara data berikutnya ada 4 kolam berdiameter 4 meter dengan bajet sebesar Rp.75,570 juta.
Beberapa sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, sejak awal pelaksanaan program, sudah tercium aroma tak sedap. Mulai dari dugaan pengadaan yang tidak transparan, kualitas sarana atau mutu yang dipertanyakan.
Lebih ironisnya lagi, di beberapa desa, kolam bioflok disebut hanya jadi pajangan proyek. Sepertinya patut diselidiki RAB paket kavling kolam biovlok item biaya yang terdiri dari, pertama biaya paket kolam fullset terpal premium inc serta jasa instalasi spesifikasi paket, kedua biaya paket pembangunan kolam bioflok (jasa plus bahan material), ketiga biaya paket pembangunan atap kolam bioflok dan bio security.
Kemudian keempat anggaran jenis mesin roots blower, kelima biaya paket perlengkapan titik aerasi, keeanam biaya paket instalasi listrik dan perlengkapan cadangan listrik seperti genset, kemudian terakhir keenam paket kelengkapan belajar, probiotik obat-obatan dan alat ukur kualitas air.
Mengenai hal tersebut datang sebuah keinginan masyarakat bahwa "Inspektorat diminta untuk melakukan audit anggaran dana desa (ADD) yang diperuntukkan paket bioflok ternak ikan nila".
Begitu juga APH untuk turun tangan dan mengusut tuntas dugaan penyimpangan ini. Sebab program yang memakai uang rakyat ini akan berubah menjadi ladang memperkaya segelintir orang.
Siapa itu? Tentunya pertanyaannya ini menjurus siapa dibalik inisiator paket bioflok ikan nila. Apakah datangnya dari pihak desa atau kemudian konsultan/suplayer, atau pihak fasilitator," kata seorang tokoh masyarak lalu dinilainya ada indikasi kolusi yang berujung kepada gratifikasi.
Lanjutnya, jika dugaan ini benar, maka ini bukan sekadar kegagalan program, melainkan ada indikasi kejahatan terhadap kepentingan rakyat dan bentuk pengkhianatan terhadap tujuan ketahanan pangan itu sendiri.
Intinya publik menunggu, apakah kasus ini akan dibongkar sampai ke akar-akarnya. Atau justru akan mengendap seperti banyak kasus lain sebelumnya. Dapat dipastikan tim kami akan terus menelusuri dan mengungkap fakta-fakta di balik paket bioflok desa di Kabupaten Batu Bara, ujarnya serius.