Tokoh agama yang juga dipercaya sebagai Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Kota Binjai, Sanni Abdul Fattah, mengajak kepada seluruh elemen anak Bangsa, untuk menolak kedatangan band Coldplay ke Indonesia dengan segala kekuatan dan kemampuan yang ada.
Hal tersebut ditegaskan Sanni Abdul Fattah, saat dikonfirmasi awak media terkait polemik konser group band Coldplay yang rencananya akan manggung di tanah air pada November 2023 mendatang.
"Apapun harus kita pertaruhkan agar band perusak ini tidak menginjakkan kakinya di negeri ini karena tidak menutup kemungkinan akan menggaungkan LGBT dan faham Atheisme," tegas Sanni saat dikonfirmasi awak media, Senin (22/5) sore.
Sebagai tokoh agama, Sanni Abdul Fattah juga ikut mempertanyakan tujuan digelarnya konser Coldplay di tanah air.
"Ngapain digelar konser seperti itu di Indonesia. Sebab dapat merusak mental dan akhlak generasi muda kita. Apalagi sama sama kita ketahui bahwa group band (Coldplay) itu memperjuangkan LGBT dan Atheis dimana mana. Sementara negara kita berlandaskan Pancasila," ungkap Sanni dengan nada keras.
Untuk itu, lanjut Sanni Abdul Fattah, kami sebagai Ormas Islam, mendukung MUI dan Ormas Islam yang menolak kedatangan band Coldplay tersebut. "Wajib ditolak," ujar Sanni.
Pria yang juga dipercaya sebagai Ketua Pengacara dan Jawara Bela Ummat (Pejabat) Kota Binjai ini juga mengaku heran dengan orang orang atau tokoh di Indonesia yang masih ngotot mendatangkan band perusak mental dan pikiran anak bangsa tersebut.
"Apakah mereka mereka itu tidak berpikir. Dimana hati dan pikiran mereka. Bayangkan saja, band yang mempropagandakan LGBT dan menggaungkan Atheisme seperti itu malah dibela. Bahkan ada yang siap mensukseskan jalannya konser band perusak itu. Na'udzubillah," ujarnya dengan suara sedih.
Seharusnya menurut Sanni, mereka mereka yang merupakan tokoh di negara kita dapat menjadi benteng terdepan dalam menghalau segala kerusakan yang akan terjadi terhadap anak Bangsa.
"Namun apa yang terjadi?? Mengapa malah mereka mereka pula yang mendukung. Na'udzubillahi min dzaalik," tutur Sanni Abdul Fattah.
Dengan mendukungnya kedatangan group band asal Inggris "Coldplay" ke tanah air, Sanni kembali menegaskan bahwa kita semua menjadi tau siapa siapa yang menjadi pendukung dan pembela kerusakan tersebut, terutama pendukung LGBT dan Faham Atheis di Indonesia ini.
"Semoga mereka terbuka pintu hatinya dan membatalkan konser tersebut," demikian harap Sanni Abdul Fattah diakhir ucapannya.
Diketahui, polemik konser band Coldplay terus berdatangan dari sejumlah kelompok masyarakat. Salah satunya dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, yang mengaku mendukung penuh kedatangan bad Coldplay yang akan manggung ditanah air. Bahkan, pria yang akrab disapa Cak Imin ini berjanji siap menjaga dan mensukseskannya.
Dirinya juga menyebutkan tidak ada unsur gangguan jelang perhelatan Pemilu 2024 mendatang. Apalagi menurutnya, keberlangsungan konser tidak akan berujung gangguan tahapan pesta demokrasi lima tahunan ini.
"No problem, tidak ada masalah karena kita punya pengalaman pemilu yang smooth. Semua lancar lancar saja," tuturnya.
Bahkan Cak Imin akan menggelar konser yang sama dan gratis bila dirinya terpilih menjadi Presiden RI.
Sementara itu, Presidium Alumni 212 (PA 212) menolak dengan keras kehadiran group band Coldplay manggung di tanah air karena band asal Inggris ini dinilai sebagai pendukung gerakan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Selaras, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga dengan lantang menolak kehadiran Coldplay untuk manggung di tanah air. Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas.
Dirinya meminta kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, agar tidak melanjutkan rencananya mendatangkan group band asal Inggris tersebut karena dinilai bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, terutama Pasal 29 ayat 1. Selain itu, kedatangan Coldplay akan merusak akhlak dan moralitas anak anak bangsa.