Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn didampingi Ketua TP PKK Pematangsiantar Ny Liswati menghadiri dan membuka kegiatan Pradaksina dalam rangka Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE Tahun 2026, di Vihara Samiddha Bhagya, Jalan Thamrin, Kecamatan Siantar Barat. Sabtu (17/05/2026), Malam.
Pada kesempatan tersebut, Wali Kota Wesly Silalahi SH MKn mengatakan bahwa dalam rangka pembukaan kegiatan pradaksina atau ritual mengelilingi kota dalam rangka perayaan hari trisuci waisak 2570 be tahun 2026 di kota pematangsiantar, turut berbahagia dapat bersama dan berkumpul dalam meningkatkan Toleransi di Pematangsiantar.
“Atas nama pribadi dan pemerintah kota pematangsiantar, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan ini dengan penuh semangat kebersamaan dan nilai-nilai spiritual.
Perayaan Hari Trisuci Waisak, lanjut Wesly Silalahi, merupakan momentum suci bagi umat buddha untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan wafatnya Sang Buddha.
“Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya seperti cinta kasih, kedamaian, pengendalian diri, dan toleransi sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Kegiatan Pradaksina yang dilaksanakan malam ini bukan hanya menjadi simbol spiritual dan religius, tetapi juga menjadi wujud nyata harmoni serta kerukunan umat beragama di kota pematangsiantar. Saya berharap kegiatan ini dapat semakin mempererat persaudaraan, menjaga persatuan, serta menumbuhkan semangat kebajikan di tengah masyarakat,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar senantiasa mendukung kegiatan keagamaan yang membawa pesan damai, toleransi, dan kebersamaan.
“Kita patut bersyukur karena Kota Siantar terus dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan hidup rukun antar umat beragama. Saya mengucapkan selamat memperingati hari trisuci waisak 2570 be tahun 2026 kepada seluruh umat buddha. Semoga melalui perayaan ini, kita semua memperoleh kedamaian batin, kebijaksanaan, dan semangat untuk terus menebarkan cinta kasih kepada sesama,” tuturnya.
Ketua DPD Walubi Sumatera Utara Brillian Moktar menyampaikan bahwa perayaan Waisak berjalan dengan baik.
“Tadi ketua Panitia sudah banyak menyampaikan tentang Waisak dan Pradaksina, bahwa agama Buddha ini pada intinya adalah kesadaran. Pradaksina ini ada hubungan dengan kesadaran, kita melangkah, kita renungkan,“ katanya.
Umat Buddha itu bukan hanya di siantar bahkan di dunia, lanjut Brillian Moktar, kita adalah Makhluk yang paling sabar.
“Jadi kalau dicubit, jangan dibalas. Tadi juga diceritakan tentang Waisak, ada tiga peristiwa penting dan peristiwa penting ini sudah diperingati sudah 2570 tahun dan waktu yang berkesinambungan begitu lama, ini peristiwa yang sangat luar biasa. Tangan satu diatas, dan satu tangan dibawah, artinya apa, saya lahir yang terakhir kali,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap orang yang beragama Buddha atau siapapun yang belajar tentang agama Buddha, harus bisa mengentaskan kependeritaannya.
“Pesan saya melalui Waisak tahun ini 2570, Pak Wesly dan semua majelis, Walubi dan Permabudhhi, Umat Buddha harus bersabar sesuai tema kementerian, Dharma menjaga Perdamaian Dunia. Maka kita harus meningkat lagi, nomor 1 di Indonesia adalah kerukunan umat beragama di Siantar,” pungkasnya.
Ia juga mengingatkan sesuai pesan Ketua DPD Walubi Siantar-Simalungun Susanto, langkah demi langkah dijaga, dan suara dijaga.
Ketua DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun Susanto (Aleng) menyampaikan syukurnya bahwa hari yang penuh makna Waisak dapat berkumpul dalam suasana penuh bahagia guna memperingati hari Trisuci Waisak.
“Atas nama perwakilan umat Buddha Indonesia atau Walubi, saya menyampaikan ucapan selamat hari raya Waisak kepada seluruh umat Buddha. Semoga momentum suci ini membawa kedamaian, kebijaksanaan, dan cinta kasih bagi kita semua,” ucapnya.
Ketua DPD Walubi Siantar-Simalungun Susanto juga menjelaskan bahwa hari Waisak mengingatkan kita pada tiga hal agung dalam kehidupan Siddharta Gautama yaitu kelahiran pangeran Siddharta, pencapaian penerangan sempurna, Parinibbana (Wafat).
“Dimana Sang Buddha saat peristiwa suci ini bukan sekedar peringatan historis, tetapi menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk terus menapaki jalan damai dalam kehidupan sehari-hari. Ditengah tantangan kehidupan modern, perbedaan, perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika kehidupan berbangsa, ajaran Buddha mengingatkan kita untuk senantiasa mengembangkan mental atau cinta kasih karunia, welas asih, simpati atas kebahagiaan orang lain serta Upekkha (keseimbangan batin),” katanya.
Nilai-nilai inilah, lanjut Susanto, yang akan memperkuat persatuan, memperkokoh kerukunan dan menjadi momentum untuk memperdalam praktek dharma, memperkuat sila, mengembangkan samadhi, menumbuhan paramita dalam kehidupan nyata. Melalui perbuatan baik, pelayanan sosial, kepedulian terhadap sesama serta penghormatan terhadap semua makhluk kita wujudkan Buddha Dharma menjadi nyata.
“Saya juga mengajak seluruh umat Buddha, khususnya generasi muda Buddhis untuk terus menjaga persatuan, aktif dalam pelayanan serta menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang damai, toleransi dan bermartabat. Semoga berkat Waisak membawa kedamaian bagi Indonesia dan seluruh dunia. Semoga semua Makhluk hidup berbahagia,” tandasnya.
Ketua Panitia Dr Erbin Chandra SE MM dalam laporannya mengatakan bahwa Pradaksina memiliki makna yang sangat sakral.
“Tujuan kita bukan pawai, bukan heboh-hebohan, bukan euforia saja tapi sebenarnya ini momen bagi kita untuk merefleksikan apa yang sudah kita perbuat selama satu tahun terakhir,” katanya.
Erbin Chandra mengatakan bahwa Waisak momentum kita untuk mengintrospeksi, baik dari pikiran, perbuatan dan ucapan agar kita mempunyai komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah melaksanakan Pradaksina.
“Kami dari panitia, khususnya DPD Walubi Kota Pematangsiantar mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya tentunya kepada Bapak Wali Kota Wesly Silalahi, dukungan yang sangat luar biasa, setiap kegiatan dari Walubi kemarin juga waktu Cap Go Meh bapak juga hadir membersamai kita,” katanya.
Karena hasil dari Setara Institut kita berada di Posisi ke-4, kata Erbin Chandra, sebagai Kota Paling Toleransi di Indonesia. Berani menunjukkan komitmen kita bersama, kepedulian kita bersama untuk membangun kota tercinta.
Ia juga mengatakan bahwa saat pradaksina, kita memegang lilin elektrik mengikuti perkembangan zaman.
“Jadi lilin ini melambangkan kebajikan yang harus selalu kita lakukan, seperti lilin yang mengorbankan dirinya untuk memberikan penerangan bagi siapapun tanpa mempedulikan etnis, suku, ras dan gender bahkan semua makhluk,“ tuturnya.