Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem hutan mangrove.
Ungkapan itu disampaikan Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut (PPKPL) KLHK, Dasrul Chaniago, saat menghadiri kegiatan penanaman puluhan ribu bibit mangrove oleh PT Agincourt Resources (PTAR), di pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Kamis (2/2/23).
"Indonesia adalah negara kedua dengan garis pantai terpanjang di dunia. Barang tentu sangat rentan terjadi perubahan iklim, mitigasi, dan adaptasi. Karenanya, ekosistem hutan mangrove menjadi penting dijaga untuk melindungi wilayah pesisir," paparnya.
Pada tahun 2021, KLHK telah merilis peta mangrove nasional seluas kurang lebih 3,36 juta hektar. Dan, tercatat sebagai ekositem mangrove tropis terluas di dunia, yang menyimpan sekitar 20 persen keanekaragaman hayati.
"Bayangkan. Berapa negara di dunia ini, yang bergantung pada keanekaragaman hayati di Indonesia," kata Dasrul.
Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut, KLHK, menambahkan, hutan mangrove menyimpan banyak manfaat dan bernilai ekonomi. Dikarenakan, tanaman jenis dikotil yang hidup di habitat air itu merupakan rumah bagi berbagai jenis biota laut.
"Selain itu, mangrove yang sehat mampu meredam benturan gelombang besar. Sehingga, dapat menekan terjadinya abrasi pantai. Mangrove adalah infrastruktur ekologi, yang menjadi pagar terhadap aktivitas teresterial khususnya kehidupan sosial ekinomi masyarakat," jelasnya.