Sabtu, 02 Mei 2026

Pendampingan Mahasiswa Kessos FISIP USU terhadap PPKS di RPS Kota Medan: Ruang Pemulihan dan Harapan

Medan (utamanews.com)
Oleh: Tiara Ratna Sari Selasa, 17 Jun 2025 22:17
Tiara Ratna Sari
 Istimewa

Tiara Ratna Sari

Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU, praktikum juga merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa. Melalui PKL, mahasiswa diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung di lapangan serta mengimplementasikan teori-teori yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik nyata di lingkungan kerja. Tiara Ratna Sari dengan NIM 220902007 merupakan salah satu mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial (FISIP) Universitas Sumatera Utara yang melaksanakan kegiatan Praktikum I di Rumah Perlindungan Sosial (RPS) Kota Medan yang berlokasi di Jl. Bunga Turi II, Sidomulyo, Kec. Medan Tuntungan.

Praktikum ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa dalam menghadapi dan menangani berbagai permasalahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Kegiatan PKL ini dilaksanakan selama 3 bulan, dimulai pada tanggal 03 Maret 2025 hingga 20 Juni 2025 di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan. Rumah Perlindungan Sosial diresmikan pada tanggal 02 Januari 2025 yang merupakan tempat persinggahan bagi para PPKS. Di sinilah para PPKS akan mendapatkan rehabilitasi, konseling, serta pendampingan agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Pada awal pelaksanaan PKL, praktikan lebih memperhatikan proses penyesuaian diri dengan lingkungan kerja serta menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang bertugas di Rumah Perlindungan Sosial. Secara perlahan, praktikan mulai memahami sistem kerja yang berlaku, termasuk struktur kelembagaan, ketentuan internal, serta standar operasional yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan di sana. Peran aktif para staf dan pekerja sosial memberikan banyak arahan dan dukungan dalam mengenalkan praktikan dan rekan-rekan praktikan pada teknik asesmen dan pendekatan terhadap klien.

Selama pelaksanaan PKL yang dijadwalkan tiga kali dalam sepekan, yakni setiap hari Senin, Kamis, dan Jum’at, praktikan mendapatkan kesempatan untuk langsung terlibat dalam berbagai aktivitas yang berlangsung di RPS. Praktikan berpartisipasi dalam kegiatan pemulangan PPKS ke daerah asal mereka dan melakukan pengantaran ke panti, seperti ke Panti Sosial Tresna Werdha ‘Abdi’. Praktikan juga berpartisipasi dalam melakukan pemeriksaan kesehatan para PPKS ke Puskesmas terdekat, rujukan ke RSUD Pringadi Medan, dan juga ikut berpartisipasi dalam penjemputan ODGJ di Rumah Sakit Jiwa Ildrem.
Tidak hanya kegiatan di luar, praktikan juga ikut terlibat dalam aktivitas administratif dan pelayanan harian di lingkungan RPS seperti pencatatan data para PPKS, merekap data-data PPKS, melakukan asesmen awal dan juga berinteraksi langsung dengan PPKS. Rumah Perlindungan Sosial menyediakan kebutuhan dasar seperti pakaian dan makanan bergizi tiga kali sehari. Kegiatan di RPS mencakup rutinitas senam setiap hari Jum’at dan pembinaan keagamaan yang dilaksanakan secara teratur untuk mendukung pemulihan fisik dan spiritual para PPKS sebagai salah satu program dari RPS. Setiap PPKS juga mendapatkan pendampingan intensif dari pendamping dan pekerja sosial untuk membantu proses rehabilitasi dan kemandirian sosial mereka.

Sebagai tugas yang diberikan, praktikan mendapatkan tanggung jawab untuk melaksanakan asesmen hingga tahap terminasi terhadap PPKS. Praktikan memilih klien dengan inisial SC yang berlatar belakang sebagai gelandangan pengemis. Berdasarkan hasil asesmen, praktikan menggunakan metode case work dengan tahapan yang dikembangkan oleh Zastrow. Adapun langkah-langkah penanganan masalah klien disusun berdasarkan tahapan sebagai berikut:

Engagement, Intake, Contract: Sebagai klien anak di bawah umur, praktikan memulai pendekatan kepada SC dengan santai untuk menciptakan rasa aman dan kepercayaan dari SC terhadap praktikan. Setelah terjalin kedekatan emosional, praktikan mulai menjelaskan maksud dan tujuan proses pendampingan, peran pekerja sosial, serta manfaat yang akan didapatkan oleh klien. SC menunjukkan respon yang positif dan menyatakan ketersediaan untuk mengikuti proses bimbingan, sehingga disepakati kontak kerja sama antara praktikan dan klien.

Asesmen: Pada tahap asesmen, praktikan menggali latar belakang, kondisi sosial, serta permasalahan utama yang dialami oleh klien. SC, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, merupakan anak piatu yang tidak melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan Sekolah Dasar. Ia memutuskan hidup di jalanan dan mengemis karena tidak tahan terhadap perlakuan kasar ayahnya yang sering melakukan kekerasan fisik. Selain itu, SC juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, yaitu teman-temannya yang menjadi pengemis di jalanan.
produk kecantikan untuk pria wanita
Praktikan menggunakan model BPSS (Bio Psiko Sosial Spiritual). Praktikan menggunakan model ini karena dinilai mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh serta membantu mengeksplorasi situasi dan permasalahan yang dialami klien. Praktikan juga menggunakan tools Ecomap, yaitu menggambarkan hubungan sosial klien dengan lingkungan sekitarnya, termasuk relasi positif maupun negatif yang mempengaruhi kehidupannya. Dari hasil asesmen, ditemukan bahwa SC memiliki hubungan yang lemah dengan ayahnya, namun cukup erat dengan teman-temannya di jalanan.

Planning: Setelah memperoleh gambaran menyeluruh tentang kondisi klien, tahap perencanaan dilakukan dengan merumuskan strategi intervensi yang relevan. Tujuan utama dari tahap ini yaitu membantu klien keluar dari lingkungan jalanan, mengembalikan semangat hidup, dan membangun kembali kepercayaan dirinya. Berdasarkan kebutuhan dan potensi yang dimiliki SC, praktikan merancang kegiatan bimbingan sosial secara rutin yang bersifat individual. Dalam tahap ini, praktikan menggunakan teori Strength Based Approach, yang berfokus pada penguatan potensi dan kelebihan klien, bukan hanya permasalahannya. Praktikan mendorong klien untuk mengenali kekuatan dalam dirinya, seperti keberanian bertahan hidup dan keinginan untuk berubah. Selain itu, pendekatan ini menekankan pada pemberdayaan, sehingga klien tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam proses perubahannya sendiri.

Intervensi: Pada tahap ini, praktikan melakukan bimbingan sosial individual setiap minggu dengan SC, dengan membahas nilai-nilai kehidupan, adab, dan keterampilan dasar dalam berinteraksi sosial. Klien juga dimotivasi untuk mengikuti kegiatan keagamaan setiap minggu serta senam bersama, yang menjadi bagian dari program rehabilitasi di RPS untuk menjaga keseimbangan fisik dan emosional klien. Klien juga difasilitasi dengan kebutuhan dasar seperti pakaian, makanan, serta melakukan eksplorasi terhadap minat klien untuk menemukan potensi yang bisa dikembangkan. Tidak hanya itu, praktikan juga berpartisipasi dengan pihak RPS untuk mencari tahu keberadaan keluarga SC untuk mempersiapkan kemungkinan pemulangan SC ke keluarganya.

iklan peninggi badan
Evaluasi: Berdasarkan pengamatan dan wawancara mendalam, diketahui bahwa SC mulai menunjukkan tanda-tanda positif, seperti rasa percaya diri yang meningkat, berkurangnya keinginan untuk kembali ke jalanan, serta tumbuhnya semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih terarah. SC juga mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan pendidikannya. Evaluasi ini dilakukan tidak hanya berdasarkan pengakuan klien, tetapi juga dari observasi praktikan terhadap partisipasi SC dalam kegiatan dan interaksinya dengan lingkungan sekitar. Proses ini mengonfirmasi bahwa intervensi berjalan efektif dan membawa dampak yang konstruktif terhadap perkembangan klien.

Terminasi: Pada tahap ini, SC dinilai telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, baik secara psikologis maupun sosial. Kepercayaan dirinya meningkat, ia mulai memikirkan masa depan, dan pihak keluarga telah menunjukkan kesiapan untuk menerima serta membina SC kembali. Proses terminasi dilakukan dengan cara yang mendukung, di mana praktikan memberikan penguatan dan apresiasi kepada SC atas usaha dan perubahan yang telah dicapai. Selain itu, praktikan juga menyampaikan harapan agar SC tetap konsisten dalam perubahan positif yang telah ia capai, sekaligus menjaga komunikasi dengan pihak RPS sebagai sistem pendukung lanjutan.

Praktikan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Mia Aulina Lubis, S.Sos., M.Kessos., selaku Supervisor Sekolah, dan Bapak Trisno Mulyono Hutagalung, S.H., selaku Supervisor Lembaga, yang telah mendampingi serta membimbing praktikan selama pelaksanaan praktikum. Ucapan terima kasih juga praktikan sampaikan kepada Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kessos., selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Praktikum I, serta ucapan terima kasih kepada Bapak Khoiruddin, S.Sos., S.E., M.M., selaku Kepala Dinas Sosial Kota Medan, dan Ibu Mariance, S.STP., MSP., selaku Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada praktikan untuk melaksanakan praktikum di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan.
Editor: Budi
Tag:
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️