Senin, 09 Des 2019 12:39
  • Home
  • Opini
  • Mewaspadai Ideologi Hizbut Tahrir Berkedok Komunitas

Mewaspadai Ideologi Hizbut Tahrir Berkedok Komunitas

Medan (utamanews.com)
Oleh: Ahmad Baiquni, pengamat sosial politik
Sabtu, 10 Agu 2019 03:10
@AfifFuadS
Kegiatan KARIM di kalangan muda dan siswa SMA
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang telah dibubarkan, namun gerak ideologis mereka ternyata tetap ada dan bermetamorfosa dalam bentuk komunitas. Dimana komunitas royatul Islam (KARIM) telah membawa ideologi yang dianut oleh HTI untuk disebarkan pada kalangan anak muda.

Boleh jadi HTI memang sudah bubar, namun faktanya upaya membubarkan organisasi tidaklah sama dengan upaya menghapus paham radikal dan khilafah yang menjadi alasan bagi pemerintah untuk membubarkan HTI.

Tantangan pemerintah setelah membubarkan HTI adalah upaya memastikan bahwa ideologi khilafah juga ikut terkubur seiring pembubaran organisasi tersebut. Sampai kapan pun patut dicatat gerak ideologis mereka tak akan pernah mati. Meski bukan sebuah Ormas, namun pergerakan KARIM ternyata tidak berbeda dengan HTI, yaitu bertujuan untuk menegakkan khilafah di Indonesia.

Komunitas tersebut telah membawa legitimasi bendera tauhid sebagai simbol tegaknya khilafah Islamiyah ala HTI. KARIM bermain cukup halus di ranah SMA dan Komunitas, utamanya bagi anak muda yang haus akan ilmu keislaman, akan tertarik dengan iming- iming heroisme Islam.


Selayaknya sebuah pergerakan, ternyata KARIM juga membuka cabang di kota besar, target mereka adalah anak SMA dan komunitas, setiap bulan kegiatan mereka bukan hanya liqo dan kajian, tapi sudah merambah pada acara tadabur alam, aksi sosial, dan lain sebagainya. Mereka rupanya akan mengejar apa yang menjadi kesukaan anak muda, dan hal itulah yang patut kita waspadai bersama.

Pembubaran HTI tentunya bukan tanpa alasan, atas dasar Perppu No.2 tentang Organisasi Kemasyarakatan, pemerintah Indonesia mencabut badan hukum Hizbut Tahrir di Indonesia. Atas peraturan tersebut Indonesia telah menjadi negara ke- 17 yang menolak kehadiran Hizbut Tahrir, mengikuti jejak negara- negara seperti Mesir, Rusia, Malaysia dan lain- lain.

Mereka juga berpegang pada paham messianis alias kiamat sudah dekat. Sehingga Kiamat bukan hanya menjadi keyakinan tetapi dibuat menjadi bayang- bayang yang menakutkan, dengan tanda- tandanya yang sudah nyata. Agar selamat harus senantiasa berbaiat kepada khilafah dan panji- panjinya, itulah bentuk doktrin yang KARIM gunakan untuk menakut- nakuti umat.

Para Pembimbing Rohis yang tergabung di KARIM itu sudah mulai bergerak seiring dengan dibubarkannya HTI, doktrin dan propaganda tentang khilafah secara masif kepada golongan generasi muda yang merasa dehidrasi akan ilmu agama dan hanya mau belajar secara instant.


Tegasnya Karim dengan berbagai propaganda khilafahnya berpotensi  memecah belah bangsa dan negara Republik Indonesia. Padahal kita tentu telah berkali- kali mendapatkan penegasan bahwa NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.

Mantan Anggota HTI Ainur Rofik mengatakan bahwa HTI telah melakukan reorganisasi dan mentransplantasikan ideologinya ke dalam berbagai kelompok, salah satu yang paling menonjol secara terang- terangan adalah KARIM yang menampilkan simbol Hizbut Tahrir.

Kasus yang paling gamblang adalah yang terjadi di MAN 1 Sukabumi. Dimana seorang siswa anggota Rohis terbukti telah mengibarkan bendera yang identik dengan Hizbut Tahrir. Hal tersebut berhasil mencuri perhatian banyak pihak, hingga menteri Agama Luqman Hakim juga turut memberikan komentar dengan meminta pihak terkait untuk segera menyelidiki detail kejadiannya. Namun setelah ditelusuri, ternyata siswa yang mengibarkan bendera tersebut mengaku tidak tahu akan bendera yang dapat menimbulkan keresahan publik tersebut.

Siswa yang bersangkutan mengaku bahwa tindakan yang dilakukannya adalah semata- mata atas dasar keinginan untuk mencari perhatian kepada siswa baru agar mereka tertarik untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler kerohanian Islam.


Kalau mereka tidak tahu bahwa bendera tersebut merupakan atribut yang cukup meresahkan, pertanyaannya darimanakah anak Rohis selevel SMA tersebut mendapatkan bendera itu, mungkinkah mereka dikasih begitu saja, atau mereka membuat bendera sendiri tinggal mencontoh pola yang sudah ada?

Tidak bijak kiranya kita menyalahkan acara kerohanian Islam yang ada di lingkungan sekolah atau kampus. Namun tentu akan berbeda ceritanya jika melihat materi yang disampaikan berlawanan dengan semangat Islam sebagai agama rahmah dan ideologi negara.

Bagaimanapun juga, kita memiliki peran besar untuk menjaga peran pentingnya menjaga NKRI dari paham- paham Islam yang anti terhadap toleransi dan dapat mengancam keutuhan Bangsa Indonesia.

Editor: Herda

T#g:HTIKARIMKhilafah
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Rabu, 11 Des 2019 03:11

    Mewaspadai Reuni PA 212 Ajang Sosialisasi Khilafah

    Persaudaraan Alumni (PA) 212 berencana melaksanakan reuni layaknya anak sekolah pada 2 Desember 2019. Seperti tahun sebelumnya, acara tersebut diduga kuat akan dimanfaatkan oleh Kelompok eks Hizbut Ta

  • Minggu, 25 Agu 2019 03:25

    Ancaman Kehidupan Berbangsa Berwujud Ijtima' Ulama IV

    Point kelima hasil ijtima ulama disebutkan bahwa perlu dibangun kerja sama antara ormas Islam dan politik. Seperti yang kita tahu bahwa atmosfer Islam sebagai politik identitas sedang marak-maraknya d

  • Senin, 12 Agu 2019 03:12

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Indonesia

    Radikalisme merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia telah menjadi merekam bagaimana bahaya dan ancaman mereka yang telah mampu melulu lantakkan sendi- sendi keh

  • Sabtu, 20 Jul 2019 08:30

    Inginkan Khilafah di Indonesia, PA 212 Perlu Diwaspadai

    Asep Syaifudin selaku Pelaksana tugas Ketua PA 212, mengharapkan agar konsep khilafah bisa tegak berdiri di Indonesia. Menurutnya, khilafah atau sistem kenegaraan yang berlandaskan ajaran Islam itu ti

  • Sabtu, 11 Mei 2019 03:11

    Ancaman Ideologi Khilafah di Lingkungan Sekolah dan Pesantren

    Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting, karena dengan pendidikan maka seseorang akan memiliki pengetahuan, life skill dan wawasan yang lebih luas. Namun Pendidikan juga bisa menjadi ancaman yan

  • Minggu, 14 Apr 2019 03:14

    Tiada Tempat Untuk HTI di Bumi Serambi Mekkah

    Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) resmi dilarang di Indonesia sejak 17 Juli 2017. Langkah tersebut diambil setelah kajian pemerintah tentang gebrakan dan sepak terjang HTI. Hal yang paling mendasar adalah

  • Sabtu, 30 Mar 2019 08:10

    IPW Heran Kelompok Radikal dan Anti Pancasila Terakomodir Dalam Pilpres 2019

    Debat ke 4 Capres 2019 Sabtu malam ini menjadi penting di tengah berkembangbiaknya kelompok radikal anti ideologi Pancasila, eks teroris, dan para preman jalanan.

  • Jumat, 29 Mar 2019 22:29

    Mantan Kepala BIN: Di Pilpres 2019, Berhadapan Ideologi Pancasila dengan Khilafah

    Abdullah Mahmud Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), menilai Pemilu 2019 yang digelar serentak 17 April mendatang sangat berbeda dari Pemilu yang pernah dilaksanakan di Indonesia

  • Minggu, 03 Feb 2019 06:53

    Politik Pragmatisme Kubu Prabowo-Sandi

    Baru- baru ini, beredar luas di media sosial poster berisi komando pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab agar pendukung FPI menarik dukungan dari pasangan Prabowo-Sandi.

  • Senin, 17 Des 2018 03:17

    Waspada HTI, Tolak Radikalisme!!

    Gencarnya pergerakan organisasi terlarang HTI agar kembali mendapatkan ruang di Indonesia semakin masif. Berbagai upaya baik dari aparat maupun lembaga pemerintah tak kalah untuk menangkal propaganda

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak