Jumat, 19 Jul 2019 07:28
  • Home
  • Opini
  • Hindari Golput, Mari Wujudkan Pemilu yang Aman dan Damai

Hindari Golput, Mari Wujudkan Pemilu yang Aman dan Damai

Medan (utamanews.com)
Oleh: Akbar Maulana, Pengamat Masalah Sosial Politik
Rabu, 17 Apr 2019 03:17
Humas Polda Kepri
Panglima TNI dan Kapolri jamin keamanan Pemilu 2019.
Masyarakat Indonesia semestinya patut berbangga dan bergembira, sebab dalam beberapa sektor, perjalanan demokrasi di negara ini semakin baik. Sistem pemilihan secara langsung lambat laun juga mengalami pembenahan. Masyarakat semakin cerdas serta pers memiliki kebebasan yang terbuka untuk mengawal demokrasi yang tentunya patut disyukuri.

Kemajuan ini tentu dapat menjadi modal dalam menyambut Pemilu 2019. Dimana dalam pesta demokrasi tersebut diharapkan menjadi perhelatan kontestasi politik yang aman dan damai. Selain itu Pemilu juga tidak hanya mengedepankan prosedural, tapi juga pada hasil yang berkualitas.

Pada kontestasi seperti Pilpres ataupun Pilkada, konflik antarkandidat masih sering terjadi dan hal ini melibatkan pendukung baik di dunia nyata seperti intimidasi oleh simpatisan gara- gara berbeda kaos, maupun intimidasi di dunia maya yang sering diwarnai dengan berita hoax maupun upaya delegitimasi KPU sebagai lembaga independen.


Model kampanye hitam juga masih sering ditemukan dalam setiap pelaksanaan pesta demokrasi. Mulai dari politisasi masjid hingga penyebaran ujaran kebencian, serta berita hoax yang santer mewarnai jagat dunia maya. Permasalahan tersebut memang tak mudah untuk dihindari, terutama dalam hal politisasi agama dimana sentimen agama merupakan topik yang mudah digoreng untuk disebarkan kepada khalayak. Oleh karena itu, dibutuhkan pemilahan antara seruan moral agama dalam hal kepemimpinan dan pemanfaatan agama dalam kepentingan politik sesaat. Maka, para tokoh Agama juga perlu menyadari hal ini serta mewaspadai akan adanya upaya politik praktis yang dibalut dalam materi dakwah.

Tokoh masyarakat maupun tokoh agama tentu berperan penting dalam penguatan demokrasi yang substansial, bukan sebaliknya yang menggerus demokrasi dengan ujaran kebencian di tempat ibadah. Upaya menjual ayat ataupun hadis untuk memenangkan calon tertentu, merupakan hal yang harus dihindari oleh para tokoh agama. Sebab cara seperti itu hanya akan memperkeruh jalannya demokrasi di Indonesia.


Politisasi agama serta penyebaran berita bohong hanya akan menjauhkan demokrasi dari nilai-nilai kedamaian, karena hal tersebut berpotensi menimbulkan gesekan sosial bagi para pendukung maupun simpatisan salah satu Paslon. Dampak terburuknya justru akan membuat umat terpecah belah. Padahal sejatinya, Pemilu diselenggarakan demi melahirkan pemimpin berkualitas dan menciptakan demokrasi yang baik.

Pemilih yang cerdas tentu memiliki peran penting dalam upaya terwujudnya demokrasi di Indonesia. Pemilih yang cerdas akan serta merta memilih sesuai hati nurani bukan karena uang atau intimidasi. Sejatinya Pemilu merupakan sarana untuk menyeleksi calon pemimpin yang kredibel. Dengan begitu, kualitas calon pemimpin sangat ditentukan oleh proses pemilu. Oleh karena itu, penting adanya bagi masyarakat untuk memilih calon pemimpin yang dipandang kredibel, tentu masyarakat tidak boleh golput, karena hal tersebut hanya akan menguntungkan bagi calon yang tidak kredibel.

Perilaku Golput biasanya dilakukan oleh orang yang kritis yang memandang bahwa dalam pemilu tidak ada calon yang dianggapnya kredibel. Padahal Golput hanya akan memberikan peluang bagi pihak yang kurang kompeten untuk memenangkan pemilu. Potensi akan terjadinya intimidasi saat 17 April 2019 kelak memang patut diwaspadai. Oleh karena itu Ketua Pimpinan GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menghimbau kepada seluruh kader Anshor dan Banser untuk menciptakan Pemilu Damai dengan gerakan Rabu putih. Gerakan ini merupakan langkah dari Ansor untuk merespons adanya kelompok yang diduga akan melakukan intimidasi saat jelang pemungutan suara 17 April mendatang.

GP Ansor telah berkoordinasi dengan TNI maupun Polri. Secara teknis, ketika di lapangan menemukan adanya intimidasi dari pihak tertentu, maka Banser akan berkoordinasi dengan aparat. "Pada seluruh kader itu, kita sudah bagi tugas dengan sistem layer, yaitu ada Banser yang memakai seragam bertugas membantu aparat TNI- POLRI menjaga keamanan, sedangkan yang tak berseragam mereka memakai baju putih bertugas mengajak calon pemilih untuk ke TPS dengan memakai baju putih," ungkapnya.

Oleh karena itu masyarakat tidak perlu takut untuk memberikan hak pilihnya, justru yang lebih menakutkan adalah ketika angka Golput akan memberikan kemenangan kepada calon pemimpin yang mudah marah, tidak kredibel dan di-backingi ormas Islam konservatif untuk memimpin Indonesia 5 tahun ke depan.
Editor: Iman

T#g:Banser
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Rabu, 27 Feb 2019 17:47

    Kapoldasu Kecam Upaya Pembubaran Tausiyah Gus Muwafiq pada Harlah NU di Tebing Tinggi

    Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol. Agus Adrianto mengecam dan sangat menyesalkan keributan yang dilakukan sekelompok pemuda yang diduga anggota FPI, saat berlangsungnya Hari lahir Nadhlatul Ulama ke-93

  • Rabu, 27 Feb 2019 12:57

    PC NU, GP Ansor, Rijalul Ansor dan Banser Palas Deklarasikan Pemilu Damai 2019

    Sejumlah pengurus Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PC) Kabupaten Padang Lawas bersama sejumlah Pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Palas dan ratusan pasukan Satuan Ko

  • Minggu, 24 Feb 2019 20:54

    Satkorcab Banser Palas Cetak 119 Kader Militan

    Satuan Kordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna Kabupaten Padang Lawas (Satkorcab Banser Palas) kembali melakukan kaderisasi angkatan keempat dan berhasil mencetak sebanyak 119 kader militan, lewat p

  • Jumat, 22 Feb 2019 20:52

    150 Santri Ikuti Diklatsar Banser IV PC GP Ansor Palas

    Sebanyak 150 orang santri santriwati dari sejumlah pondok pesantren (Ponpes) yang tersebar di daerah Kabupaten Padang Lawas (Palas), ikuti kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dasar Barisan Ansor Serba G

  • Minggu, 17 Feb 2019 17:57

    Ceramah Gus Nur di Medan Dianggap Provokatif

    Ceramah Ustad Sugi Nur Raharja atau Gus Nur dinilai penuh dengan ujaran kebencian dan memecah belah masyarakat Indonesia. Hal inilah yang membuat warga masyarakat resah atas kehadiran Gus Nur disaat m

  • Kamis, 17 Jan 2019 08:57

    Perbedaan Sebagai Kunci Toleransi Indonesia

    Belakangan, spanduk penolakan gereja di Jagakarsa, Jakarta Selatan viral beredar di media sosial. Dalam spanduk tersebut, tertulis bahwa warga Jagakarsa menolak gereja mengingat mayoitas penduduk di d

  • Senin, 29 Okt 2018 01:29

    Tiga Pilar Jember Bekali Diklat Terpadu Dasar GP Anshor Ranting Kencong

    Bupati Jember dr Hj Faida MMR, membuka Diklat Terpadu Dasar (DTD) angkatan ke V kader Gerakan Pemuda Anshor (GP Anshor) Pengurus Ranting Kec Kencong, diikuti 100 Peserta, di MI Assuniyah 45 Desa Paseb

  • Jumat, 26 Okt 2018 18:27

    Aliansi Umat Islam Labuhanbatu Kecam Pembakaran Bendera Tauhid oleh Oknum Banser Garut

    Ribuan kelompok massa yang tergabung dalam AL-UOIS dan Aliansi Pemersatu Pemuda Islam (APPI) berunjuk rasa damai, di Bundaran Simpang Enam Rantauparapat, Jum'at (26/10) sore.Masyarakat dalam hal

  • Senin, 27 Agu 2018 13:57

    Banser Ansor Palas Lahirkan 72 Kader Militan

    Satuan Kordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna Kabupaten Padang Lawas (Satkorcab Banser Ansor Palas) kembali lahirkan pasukan militan sebanyak 72 kader, lewat mekanisme Pendidikan dan Latihan Dasar

  • Minggu, 27 Mei 2018 19:07

    Banser Ansor Palas Gelar Sholawat dan Bukber

    Dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci ramadhan tahun 1439 hijriyah dan menjalin hubungan silaturrahim dengan pemerintah serta warga masyarakat di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Satk

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak