Secara spontanitas, kita akan langsung menggaruk bagian yang memerah tersebut bukan? Kalau sudah begini, kesalnya bukan main.
Nyamuk itu nggak menggigit, tapi...
Kita beranggapan kalau selama ini nyamuk itu menggigit, padahal nyamuk nggak menggigit loh, tapi menghisap. Dan yang melancarkan aksi ini adalah nyamuk betina. Ia menggunakan mulutnya yang berbentuk seperti jarum untuk menusuk ke dalam kulit mangsanya, lalu ia gunakan untuk menghisap darah.
Perlu kalian ketahui, kalau bagian dari kulit sekitar kurang dari lima persen terdiri dari pembuluh darah. Nah, jadi ketika nyamuk hinggap di tubuh kita untuk nyari makanan atau ngemil, ia akan menggunakan moncongnya.
Kalau dari jauh sih moncong nyamuk kelihatan kayak jarum tipis, tapi, moncong ini (disebut proboscis), adalah alat penggergaji dan penghisap, dan terbungkus dalam tabung yang disebut labium. Lalu ketika si nyamuk mau menghisap darah kita, tabung pembungkus tadi akan membuka dan memperlihatkan enam bagian mulut (filamen) yang menusuk ke dalam kulit.
Hebatnya lagi, ketika si nyamuk menghisap mangsanya, keenam bagian mulut ini akan mekar dan bergerak secara fleksibel untuk mencari pembuluh darah terdekat.
Kenapa kita bisa merasa gatal?
Sebenarnya gatal berasal dari bekas "gigitan" nyamuk bukan karena gigitan nyamuk, melainkan karena respon dari sistem imun tubuh terhadap air liur tersebut. Air liur si nyamuk mengandung kadar enzim dan protein yang nantinya akan melewati pembekuan darah alami tubuh kita. Hal inilah yang menyebabkan reaksi alergi ringan pada tubuh kita.
Lalu sistem kekebalah tubuh kita akan merespon alergen tersebut dengan cara melepaskan HISTAMIN. Histamin apa sih? Jadi histamin ini menyebabkan pembuluh darah di sekitar area bekas gigitan nyamuk meradang, sehingga kemudian timbul bentol merah di kulit. Histamin juga mengiritasi ujung-ujung saraf dalam kulit dan menyebabkan rasa gatal.