Proyek peningkatan Jalan Umar Baki, Kecamatan Binjai Barat, yang dikerjakan salah satu Perusahaan unit usaha berbadan hukum, yaitu Persereon terbatas (PT) yang berada di Jalan Seroja, Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, dinilai semrawut dan mengancam keselamatan pengguna jalan.
Pantauan awak media, hingga Jumat (2/12), peningkatan jalan dengan beton senilai Rp20 miliar itu membuat kendaraan yang melintas terlihat kesulitan, terlebih tidak adanya pengaturan lalulintas di titik jalan pasca pengecoran dan pengerukan.
"Biasanya Truk ngantri kalau mau lewat. Kalau yang mau cepat, mereka kadang nekat mengambil jalan yang bagus, akhirnya terjadi kemacetan," ungkap warga sekitar yang mengaku bernama Dani.
Biasanya, lanjut warga lainnya, masing masing pengendara memilih jalan dengan sembarang. Bahkan tak jarang para pengemudi harus melawan arus demi mendapatkan jalan yang dapat dilalui.
Fitri, pengguna Jalan Umar Baki, mengaku sangat resah dengan kondisi proyek tersebut.
"Setiap hari saya ngantar anak melintasi jalan itu. Jalannya semrawut tak karuan dan macet. Kalau hujan begini becek, begitu panas debunya luar biasa," keluh Fitri.
Ia pun berharap agar proyek tersebut segera dituntaskan, sehingga pengguna jalan tidak terganggu. "Ada perbaikan jalan bagus, tapi paling tidak bisa dirapikan agar tidak berbahaya bagi pengendara," harap Fitri.
Warga setempat juga mengakui, sejak proyek berjalan, kecelakaan lalu lintas kerap terjadi. Kebanyakan pengendara terperosok ke lubang dan pinggir jalan bekas galian proyek.
"Memang hancur kali cara kerjanya. Berserak tak karuan, kami pun resah. Debu dan kondisi jalan yang becek membuat tak nyaman. Kalau bisa dirapikan, karena banyak korban jatuh di jalan ini," ungkap warga setempat.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Binamarga PUPR Binjai, Ridho Purnama, saat dikonfirmasi via selulernya menegaskan, proyek peningkatan Jalan Umar Baki masih berjalan seperti biasa. "Tidak berhenti, masih berjalan. Pukul 03:00 dinihari mereka masih kerja," kata Ridho.
Terkait keluhan warga maupun pengguna jalan yang resah dengan pekerjaan terkesan lambat, Ridho mengaku, hal tersebut disebabkan produksi padat akhir tahun.
"Mungkin karena masalah produksi yang padat diakhir tahun, jadi antrian padat," ucapnya.
Hanya saja saat dikonfirmasi, Ridho mengaku masih memiliki kesibukan. Sehingga belum dapat dikonfirmasi lebih lanjut prihal pengerjaan yang dinilai semrawut. Mulai dari besi cor menonjol, tidak adanya pengaturan lalulintas di lokasi jalan pasca pengecoran, penanganan aset (bekas galian jalan), hingga penanganan jalan yang digali namun belum dikerjakan.