Jumat, 22 Mei 2026
Strategi berhadapan dengan informasi dan hoax menurut Akademisi
MEDAN (utamanews.com)
Senin, 06 Mar 2017 10:13
Berita hoax, informasi hoax, saat ini marak beredar di media sosial, khususnya facebook dan juga di blog-blog pribadi serta situs-situs berita online yang biasanya tiba-tiba menjamur menjelang perhelatan pemilihan umum di tanah air. Fenomena ini juga ramai dibicarakan netizen, bahkan seolah sudah menjadi hal lumrah menemukan informasi hoax saat ber-facebook-an.

Pemerintah pun sudah tanggap akan hal ini dengan membentuk Badan Siber Nasional walaupun sudah ada undang-undang IT, yang mengatur pelanggaran aturan dalam hal itu.

“Hoax merupakan pemberitaan palsu, atau usaha untuk menipu, atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang diinginkan pembuat hoax. Maka wajar sang pencipta hoax tersebut tahu bahwa berita/informasinya palsu. Saat ini seringkali kita dihadapkan kepada pola kerja penyampaian informasi yang fragmentaris dan bersifat hoax. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut, bukan mustahil akan terjadi “polusi pemikiran”, bahkan kebingungan di tengah masyarakat,” demikian terang Abdul Karim Batubara, MA., baru-baru ini.

Menurut Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ini, timbulnya kebingungan dalam diseminasi informasi yang bersifat hoax dapat berangkat dari adanya kekurang-pahaman akan sumber informasi. “Wawasan tentang sumber informasi, bukan mustahil belum dimiliki dan dihayati secara luas oleh para masyarakat kita sehingga dapat menimbulkan kekurang tepatan dalam menempatkan informasi yang bersangkutan,” tuturnya.
Selama ini, informasi yang terhimpun sebagai bahan untuk diseminasi banyak didasarkan pada apa yang lebih dulu sampai. Hanya dalam hal-hal tertentu saja kita siap dengan pemahaman yang kompehensif akan konteks sumber informasi.

Berbicara tentang informasi, tidak pernah ada informasi yang bersifat “netral”. Suatu informasi selalu diciptakan berkaitan dengan konteks pola pikir tertentu untuk melayani kebutuhan-kebutuhan, baik yang bersifat nasional, organisasi, maupun kebutuhan personal/pribadi. Karena itu, perumusan informasi dengan tujuan analisis dan diseminasi, tidak lepas dari pemahaman atau konteks terciptanya suatu informasi. Informasi tidak bisa dikatakan baik atau buruk. Penilaian seperti itu hanya dibuat oleh pemakai informasi yang banyak bergantung pada pengetahuan dan pola pandang diri masing-masing.

Fakta dalam suatu peristiwa merupakan mata rantai yang tidak terlepas dari sumber fakta, sifat informasi, sistem nilai, serta refleksi kehidupan masyarakat pada waktu fakta informasi tersebut muncul ke permukaan. Hal ini kiranya perlu dijadikan landasan berpijak atau setidaknya menjadi rujukan berpikir manakala kita dihadapkan pada kenyataan timbulnya informasi hoax. Bagaimana strategi diseminasi informasi yang akan ditempuh agar informasi yang disediakan atau disajikan tidak terlepas dari tatanan yang menghendaki terciptanya intellectual practice and development pada masyarakat luas.

“Dalam menghadapi informasi hoax, Muchyidin mengatakan setidak-tidaknya kita perlu memperhatikan empat hal sehingga informasi yang disebarluaskan diperhatikan dan mendapat tempat di tengah masyarakat, yakni universalisme, nasionalisme, kelembagaan sosial, dan falsafah individu,” ungkap Dr. Abdul Karim, Master dalam bidang Komunikasi Islam, UINSU tahun 2010 ini.
produk kecantikan untuk pria wanita

Universalisme yaitu strategi penyajian informasi yang menekankan nilai-nilai universal. Hal ini biasanya berkaitan dengan absolute information. Aspek nasionalisme adalah penyajian informasi yang mempertimbangkan unsur emosional, berkaitan dengan kebanggaan agama, nasional, loyalitas politik, kesatuan etnis, patriotisme, kebesaran bangsa dan negara. Aspek kelembagaan sosial merupakan proses penyajian informasi yang memberikan penekanan prioritas sejalan dengan aspirasi yang berlaku di masing-masing lembaga sosial.

Karena itu, tambahnya, dalam aspek penyajian informasi perlu memperhatikan kesadaran individual dan kepribadian individu-individu yang menjadi sasaran informasi. Dengan memperhatikan keempat aspek tersebut, yang perlu dihindarkan adalah dampak bahaya informasi, yaitu menimbulkan hal-hal yang destruktif dan hoax. 

“Lebih lanjut, Imam Al Ghazali mengemukakan proses diseminasi dan penerimaan informasi perlu disertai ide, imajinasi, self-expression, kemampuan intelektual dan pikiran sehingga dapat menyajikan informasi yang memadai dan penuh kebijakan (wisdom). Menurutnya kebijakan akan terjadi apabila knowledge dikembangkan secara tepat dan sempurna sehingga dapat membedakan penilaian infromasi yang benar dari yang salah, memisahkan kepercayaan yang baik dari yang jelek, dan membedakan tindakan yang baik dari tindakan yang salah,” pungkasnya. (SN)
busana muslimah
Berita Terkini
Berita Pilihan
adidas biggest sale promo samsung flash sale baju bayi wardah cosmetic cutbray iklan idul fitri alfri
Kontak   Disclaimer   Karir   Iklan   Tentang Kami   Pedoman Media Siber

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

gopay later