Hari kebangkitan nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei 1908–lahirnya Boedi Oetomo–dimaknai sebagai tonggak awal tumbuhnya kesadaran nasional (national consciousness) menuju nation state Indonesia merdeka, menyisakan sejumlah tugas bagi pemuda dan organisasi masyarakat di masa kini. Momentum hari kebangkitan nasional diharapkan dapat terus melestarikan nilai-nilai kesadaran nasional dan pelestarian nilai-nilai Pancasila di Indonesia. Dalam hal ini, muncul pertanyaan mengemuka bahwa masihkah nilai-nilai kebangkitan nasional relevan bagi perkembangan dinamika sosial politik Indonesia terutama terkait peran generasi muda dalam lingkup organisasi.
Hal tersebut menjadi topik utama dalam sarasehan LSM se-Kota Medan yang diselenggarakan oleh MENARAnews, bekerja sama dengan LSM Martabat dan Utama News. Pada acara yang digelar di Ruang VIP The Stage Café Medan, Selasa (11/6), Samson Sihombing selaku moderator sekaligus Ketua LSM Martabat mencoba mengajak rekan-rekan LSM untuk menyegarkan kembali pemahaman mengenai Pancasila dan arti momen kebangkitan nasional bagi pemuda di Sumut.
Acara bertajuk “Refleksi Peran Pemuda dalam Menjaga Nilai-Nilai Pancasila melalui Momentum Hari Kebangkitan Nasional” menghadirkan sejumlah pembicara seperti Drs.Hotlan Butarbutar, M.Si (akademisi Univ.Methodist Medan), Dedi Sahputra, MA (Redaktur Pelaksana Harian Waspada), dan Drs.Eddy Syofian, MAP (Kaban Kesbangpol Linmas Provinsi Sumut), serta dihadiri oleh sekitar 40 orang peserta dari organisasi LSM Perintis, LPPNRI-DPK, Matodis, Pabindo, Perkasa, GAN-SU, Recclasering, LSM Gempita, PLN Watch, LMP, Palapa Institute, LSM Gelora Anak Negeri, LSM Sidik, LIRA, LSM Perintis, dan sejumlah awak media.
Drs.Hotlan Butarbutar, M.Si (akademisi Univ.Methodist Medan), sebagai perwakilan akademisi, dalam paparannya mengemukakan bahwa penciptaan percepatan pembangunan nasional memerlukan landasan empat pilar kebangsaan, meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Hal ini diperlukan dalam rangka menyatukan kerangka keberagaman berbangsa dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, empat pilar kebangsaan diperlukan untuk menjadi pemahaman dalam menjalankan suatu negara.
Dalam hal memilih pemimpin, ia menekankan bahwa empat pilar kebangsaan diperlukan sebagai pedoman memilih pemimpin. Dalam hal ini, diperlukan peranan pemuda sebagai kekuatan dalam mewujudkan kebangkitan nasional. Oleh karena itu, ia mengharapkan agar masyarakat dapat memberi kesempatan bagi pemuda untuk memimpin dalam lingkup masyarakat dan negara.
Dedi Sahputra, MA (Redaktur Pelaksana Harian Waspada), sebagai perwakilan dalam perspektif media massa, dalam materi berjudul “Pemuda dan Peran Kebangkitan”, juga mengemukakan hal senada. Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa Indonesia telah memutuskan Pancasila sebagai falsafah bangsa. Namun, penghayatan mengenai kekuatan Pancasila dalam mengakomodir dan mensinergikan kekuatan bersama untuk tujuan bersama terus mengalami pergeseran yang menimbulkan pemahaman sektoral. Hal ini membuat Indonesia berada jauh tertinggal dari negara-negara lainnya.
Ia menambahkan, pada kenyataannya, Indonesia masih ‘miskin prestasi’ dan justru memiliki ketergantungan besar terhadap negara-negara asing terutama Amerika Serikat. Hal ini disebabkan adanya pemahaman yang menjadikan aspek politik sebagai ‘panglima’ sehingga pembuatan keputusan dalam bidang lainnya selalu mengacu pada kepentingan politis.
Dalam memaknai kebangkitan melalui momentum Harkitnas dan peranan Pancasila, terdapat tiga hakikat yang harus menjadi pedoman bagi generasi muda dan bangsa Indonesia. Pertama, bahwa kebangkitan adalah anugerah yang menjadi kebanggan bagi bangsa Indonesia. Kedua, potensi adalah misteri yang harus dikembangkan oleh masing-masing individu agar menjadi efektif. Ketiga, lingkungan adalah takdir yang melingkupi tiap individu. Oleh karena itu, masing-masing bangsa Indonesia harus menemukan momentum untuk mencapai kebangkitannya, demikian Dedi Sahputra menutup pemaparannya.
Sementara itu, Drs.Eddy Syofian, MAP (Kaban Kesbangpol Linmas Provinsi Sumut), sebagai perwakilan dari perspektif pemerintah dalam materinya mengemukakan bahwa bangsa dan jiwa bangsa Indonesia harus bangkit melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional demi Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa saat ini pemerintah tidak relevan lagi jika membuat jarak dengan masyarakat termasuk LSM. Oleh karena itu, keragaman masyarakat di Indonesia justru dapat diandalkan menjadi medium pemersatu bangsa.
Ia menegaskan, momentum setelah kemerdekaan Indonesia telah diawali dengan semangat persatuan untuk membangun identitas bangsa melalui empat pilar kebangsaan. Dalam hal ini, harus dipahami bahwa ideologi agama tidak sama dengan ideologi Pancasila. Oleh karena itu, Pancasila seharusnya tidak perlu dipermasalahkan dalam kehidupan berbangsa, terutama dalam konteks beragama, karena pada hakekatnya agama sangat relevan dengan Pancasila.
Indonesia harus memiliki kedaulatan nasional yang dibentuk melalui fondasi empat pilar kebangsaan. Kedaulatan tersebut meliputi kedaulatan ekonomi dan kedulatan wilayah. Oleh karena itu, bangsa Indonesia secara bersama-sama harus berupaya meningkatkan daya kompetitif agar dapat bersaing menghadapi tantangan global, tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Hendra Raja Munthe (perwakilan LSM Gelora Anak Negeri), sebagai salah satu peserta mengemukakan bagaimana menerapkan empat pilar kebangsaan itu kepada generasi muda saat ini. “Kalau bicara empat pilar ini sudah rancu, karena pemerintah sudah menghapus P4 dari kampus,” ujarnya.
Dari diskusi yang alot, akhirnya disepakati bahwa setiap ormas yang ada di Indonesia yang kemudian disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus berasaskan Pacasila. “Itu menjadi harga mati, Pancasila adalah dasar dan landasan,” ujarnya.
Acara sarasehan yang digelar oleh MENARAnews bersama LSM Martabat dan Utama News tersebut mendapatkan respon sangat positif dari para peserta yang berasal dari sejumlah LSM di Kota Medan. Kegiatan ini dianggap sangat bersifat positif dalam rangka menanamkan kembali pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila dengan sasaran LSM yang diharapkan dapat langsung mensosialisasikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat di lingkungan masing-masing. (AK)