Jati Putra, seorang dosen dengan fokus bidang ilmu sistem informasi di STMIK IBBI kota Medan, merupakan salah satu dari banyak individu yang menekuni bidang IT sebagai passion-nya.Jati, 36, juga menjadi seorang staff IT di perusahaan distribusi sepeda motor, Honda dan dia merasa dirinya dituntut untuk terus memperluas wawasannya mengenai segala hal yang berkaitan dengan dunia ilmu komputer.
Dari banyaknya ilmu komputer, Jati merasa cloud computing (komputasi awan) akan banyak dimanfaatkan di era teknologi ini karena kemampuan baiknya dalam menyimpan data. Untuk itu, Jati memilih Google Cloud Platform (GCP) mengingat mayoritas teknologi kedepannya akan berbasis cloud dan Google menyediakan pelatihan gratis untuk mendalami GCP.
"Sebelum mengikuti pelatihan dari Google, saya masih belum paham betul bagaimana proses mengaplikasikan cloud. Beruntung, teman saya mengenalkan program Google Cloud Study Jams yang tengah diadakan di kota Medan pada Maret 2019 lalu, sehingga saya dapat merasakan pengalaman cloud pertama saya," ungkap pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini, Selasa (16/6/20).
Google Cloud Study Jams merupakan sebuah kelompok belajar yang dikelola oleh komunitas untuk para developer. Ketekunan Jati dalam mempelajari ilmu GCP disini, membuatnya terpilih menjadi salah satu pengajar dasar-dasar cloud bagi komunitas mahasiswa di Sumatera Utara.
Jati kembali terjun dalam pelatihan cloud yang diadakan Google melalui JuaraGCP, program yang dirancang untuk mengajak developers di Indonesia menyelesaikan pelatihan tentang cloud computing di Qwiklabs. Pelatihan ini diadakan secara online demi mempersiapkan peserta dalam melanjutkan perjalanan pembelajaran untuk meraih sertifikasi GCP.
Kesempatan mengakses Qwiklabs secara gratis tidak di sia-siakan Jati. Ia mengambil banyak badges dan pelatihan dan berhasil menyelesaikan dua quest yaitu Cloud Engineering with Google Cloud dan Developing Applications with Google Cloud Platform. Jati mengimplementasikan informasi yang didapat dengan membuat suatu server yang dapat menampilkan website untuk melaksanakan praktikum perkuliahannya.
Selama belajar cloud, kesulitan yang Jati alami adalah kendala bahasa dari istilah teknologi yang terasa asing membuatnya bisa salah dalam melakukan instruksi selama pembelajaran. Untungnya, kini Jati memiliki rekan-rekan sesama peserta JuaraGCP dapat membantunya mengatasi kendala tersebut. Meskipun pelatihan JuaraGCP telah usai, ambisi para peserta untuk saling berbagi wawasan cloud terus membara dengan adanya grup di aplikasi pesan singkat. Temukan informasi JuaraGCP lengkapnya
di sini."Profesionalisme saya untuk tetap bisa berkarya dalam bidang IT mengantar saya untuk mendalami GCP. Seiring berjalannya waktu, saya senang ilmu baru ini bisa membawa banyak manfaat bagi orang lain. Selain mengoptimalkan sistem informasi di perusahaan tempat saya bekerja, saya juga dapat berbagi ilmu ini kepada murid-murid saya di kampus. Lebih dari itu, saya berkesempatan mengajar kelompok komunitas mahasiswa Sumatera Utara," ungkap alumnus Universitas Bina Nusantara Jakarta ini.