UNTARA (Universitas Tapanuli Raya) sangat diharapkan masyarakat Tapanuli. Berkaitan dengan hal ini, KAMI (Kaum Milenial Indonesia) wilayah Tapanuli Utara (Taput), mengadakan diskusi virtual dengan tema "Polemik Wacana Universitas Tapanuli Raya."
Adapun narasumber yang ikut memberikan pandangannya di dalam diskusi ini adalah Drs. Nikson Nababan M.Si (Bupati Taput), Prof. Dr. Marlon Sihombing, M.A (Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara), Deny Kurniawan, M.Sc, PhD (Koordinator Pengembangan Kelembagaan Perguruan Tinggi Akademik) dan Dr. Ir. Ridwan Anzib, M.Sc (Direktur Kelembagaan Mewakili Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Republik Indonesia), juga Hokkop Situngkir, S.T, IR (Founder dan Executiv Director ID Next Leader).
Diskusi ini dimulai dengan kata sambutan dari Prihartini Simbolon selaku Direktur Wilayah Sumatera Utara dan dipandu oleh Artinus Hulu sebagai Moderator.
Webinar yang diselenggarakan pada Selasa, 15 September 2020 via Aplikasi Zoom Meetings ini diikuti oleh berbagai kalangan seperti Mahasiswa, Dosen IAKN, Pegiat Sosial Budaya, Pemerintah Kabupaten Taput Pemuda, dan beberapa dosen dari kampus lainnya seperti USU dan lainnya. Peserta yang hadir/join dalam webinar Kaum Milenial Indonesia mencapai 79 orang.
Pada sesi pemaparannya, materi pertama oleh Bupati Taput (Tapanuli Utara) menyebutkan bahwa sudah waktunya desa tidak lagi menyumbangkan sumber daya manusianya ke kota. Akan tetapi, bagaimana daerah sudah bisa mengelola sumber daya manusianya sendiri. "Ini juga bisa membangun perekonomian dengan mendatangkan mahasiswa dari luar kota masuk ke daerah Tapanuli", ujarnya.
Sementara Menurut Prof. Dr. Marlon Sihombing, M.A mengatakan, "Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) merupakan salah satu institut negeri keagamaan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah perguruan tinggi. Apabila sebuah perguruan tinggi maju dapat membuat kotanya semakin maju juga."
"Maka harapannya, pendirian UNTARA bisa menjadi model penggerak,wahana untuk mengikuti perubahan, sebagai pengembangan kreativitas dan bisa menjadi cagar budaya serta kearifan lokal. Bahkan bisa jadi Taput menjadi kota 'Malang'nya Sumatera Utara", ungkapnya.
Deny Kurniawan, M.Sc, PhD dan Dr. Ir. Ridwan Anzib, M.Sc senada menyampaikan, bahwa Tapanuli Utara memiliki beberapa pendidikan tinggi, seperti Akper Pemkab, IAKN dan UNITA.
"Sesuai dengan Surat Menteri Keuangan bahwa ada daerah yang terdapat moratorium terkait PTN dan PTS. Moratorium memiliki daerah khusus dan sesuai kebutuhan. Pendirian PTN dapat dilakukan apabila hasil evaluasi dan pengkajian menyimpulkan bahwa diperlukan pendirian PTN. Selama pemerintahan Jokowi belum ada pendirian Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Proses pengubahan dari IAKN menjadi UNTARA ini kemungkinan bisa memakan waktu dan proses yang sangat panjang karena melibatkan beberapa pihak terutama kementerian", ujarnya.
Hokkop Situngkir sebagai pemateri terakhir berpendapat, "Indonesia butuh gaya kepemimpinan yang baru menghadapi dunia yang baru yaitu dengan adaptif dan kerja cepat, Orientasi hasil dan Inovatif."
"Cara yang sudah diikuti belum tentu yang terbaik, harus terus melakukan uji coba terhadap cara baru. Hal ini akan membawa kita kepada daya saing yang baik, pemerataan pembangunan, serta kualitas hidup dan SDM yang terampil", terangnya.
Peserta diskusi juga menyampaikan pendapatnya, seperti Wilmar Simanjorang (Mantan PJ Bupati Samosir). Ia mengatakan bahwa hadirnya Universitas Negeri di Tapanuli akan berdampak baik terhadap kemajuan berbagai sektor di Tapanuli Raya.
Berbeda dengannya, Simion Harianja, salah satu dekan di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) bernada keberatan menerangkan, "Mulai sejak abad ke-19, IAKN sudah dikenal sebagai lembaga pencetak guru, khususnya guru agama Kristen."
"IAKN dikenal dan menjadi poin emas di Tapanuli Raya, sangat disayangkan bila IAKN harus ditransformasi menjadi UNTARA", terangnya.
Adapun polemik antara 'pro dan kontra', terkait tema webinar tersebut berlangsung selama diskusi. KAMI yang merupakan organisasi kepemudaan dimana di dalamnya didominasi oleh Mahasiswa, berharap semua masyarakat Taput khususnya anak muda ataupun milenial mulai melek dengan wacana yang digaungkan oleh Pemerintah.
"Milenial harus terus bergerak dan berdiri walau sedang diuji pandemik Covid-19, karena melalui diskusi ini juga KAMI mengajak masyarakat semua untuk lebih partisipasi aktif dalam setiap kebijakan yang akan dicanangkan oleh Pemerintah", ujar panitia.