Demi masa depan yang lebih baik, Rakyat Palas harus evaluasi kepemimpinan TSO-Zarnawi
MEDAN (utamanews.com)
Oleh: John
Senin, 09 Okt 2017 04:29
Padang Lawas (Palas) merupakan salah satu dari dari 8 (Delapan) Kabupaten se-Sumatera Utara yang akan ikut melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018.
Menurut jadwal yang ditetapkan KPU, para bakal calon akan mendaftar pada Januari 2018. Sedangkan pemilihan akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018. Dengan demikian waktu untuk menentukan pemimpin Palas lima tahun berikutnya sudah relatif singkat. Oleh karena itu, rakyat Palas harus benar-benar dan sungguh-sungguh menjadi subjek perubahan melalui Pilkada 2018. Menjadi pelaku aktif dalam proses Pilkada dalam menyongsong kepemimpinan yang lebih baik.
Demikian dikatakan Direktur Lingkar Studi Pembangunan (LSP) Sumut Ansor Harahap berkaitan dengan Pilkada Palas 2018.
"Momentum Pilkada 2018 harus dimanfaatkan rakyat Palas dalam menentukan masa depannya, menjadi subjek perubahan, menjadi pelaku aktif, setidaknya untuk diri dan keluarganya untuk memastikan pilihan tersebut adalah figur yang tepat dan atas dasar nurani dan akal sehat", kata Ansor, Minggu, (8/10).
Menurut Ansor yang juga mantan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Padang Lawas (Gema Padang Lawas), salah satu langkah yang perlu dilakukan rakyat Palas adalah melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan Ali Sutan Harahap (TSO)-Zarnawi Pasaribu yang hampir pasti sebagai salah satu pasangan calon peserta Pilkada 2018.
"Karena hanya dengan mengevaluasi kepemimpinan TSO-Zarnawi rumus perubahan bisa dinilai sebab pengalaman kehidupan ber-Palas dalam banyak aspek hanya didapat dari sejauhmana perjalanan pemerintahan daerah dijalankan. Bahwa ukuran-ukuran pembangunan harus cermat dan jernih dilihat serta menyeluruh. Pada akhirnya ada kesimpulan sebagai pertimbangan dalam memilih pemimpin di periode berikutnya," jelas Ansor.
"Mustahil perubahan terwujud kalau pemerintahan yang sedang berkuasa tidak dinilai baik buruknya secara sungguh-sungguh oleh rakyat Palas, diantaranya, sejauhmana pembangunan berjalan, kemiskinan dan pengangguran berkurang, apa saja yang telah dinikmati masyarakat, bagaimana pelayanan kesehatan, penyelenggaraan pendidikan, jalankah pemberdayaan masyarakat, dan lain sebagainya, semuanya harus jernih dilihat oleh rakyat melalui tokoh, ulama, aktivis, mahasiswa, dan paling penting kesadaran dari individu rakyat itu sendiri, khususnya kelas sosial menengah ke bawah", tambahnya.
Artinya, kata Ansor, rakyat tidak boleh mudah terpesona dengan 'gegap gempita' klaim pencapaian atau melihat pembangunan yang ada yang bisa saja sesungguhnya masih jauh dari kewajaran bila dibandingkan dengan besarnya APBD Palas selama ini. Untuk itu, rakyat perlu kritis melihat perjalanan pemerintahan sejak TSO menjabat Bupati Palas sehingga tidak ada lagi penyesalan di masa akan datang.
"Misalnya, apakah pembangunan itu sudah dikerjakan dengan sungguh-sungguh, apakah proyek-proyek besar seperti Mesjid Agung dan lainnya sudah menjadi kebutuhan mendasar atau itu tidak lebih dari citra saja. Pada aspek lain berjalankankah pembangunan itu sehingga pembangunan yang berjalan tersambung atau sinergi, semua harus dilihat dengan tajam bila ingin perubahan, karena kesempatan memilih pemimpin tidak bisa dilakukan setiap tahun, artinya, dampaknya untuk lima tahun kedepan bahkan lebih," ungkapnya.