Jumat, 19 Jul 2019 07:30
  • Home
  • Opini
  • Polemik Kampanye dan #SaveMukaBoyolali

Polemik Kampanye dan #SaveMukaBoyolali

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Adrian Sukma, Aktivis dan Pengamat Politik.
Selasa, 06 Nov 2018 04:06
Istimewa
Aksi masyarakat Boyolali mengecam Prabowo, Minggu (4/11).
Respon dari masyarakat Boyolali atas pidato yang disampaikan oleh Capres Prabowo menimbulkan trending topik yang hangat diperbincangkan di masyarakat. Pasalnya pesan yang disampaikan oleh Prabowo berkenaan dengan fisik yaitu, "Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini."

Adanya pesan seperti ini, itu ditanggapi oleh beberapa pihak merupakan bentuk penghinaan terhadap masyarakat Boyolali. Pesan tersebut telah menyentuh SARA karena dibumbui dengan kata Boyolali.

Seperti kita ketahui bersama, tipikal orang Indonesia ini sangat alergi terhadap SARA. Konten SARA ini sangat sensitif dan mudah menyulut api di tengah-tengah masyarakat maya. Pertanyaan terbesar sekarang, kenapa ada seorang calon pemimpin sebut saja Sandi-Prabowo yang suka sekali mencari perhatian dengan memunculkan ungkapan-ungkapan tidak berfaedah, kontraproduktif, tidak berdasar, dan tidak berilmu. Sebenarnya mereka ini berniat untuk menjadi pemimpin bangsa atau pemecah-belah bangsa?

Kita semua dapat perhatikan dengan seksama sejak awal Sandi ditetapkan sebagai wakil dari capres Prabowo, dirinya telah melontarkan statemen bahwa sepiring makan siang di Jakarta lebih mahal daripada di Singapura. Ini jelas pernyataan yang tidak masuk akal, sangat tidak berdasar. Bila digunakan untuk mencari perhatian masyarakat Indonesia tentu ini merupakan cara yang tepat, cara yang tepat untuk mencari perhatian layaknya anak kecil dungu yang berbuat bodoh sehingga menjadi bahan guyonan. Namun bagi se-kelas capres-cawapres tentu ini tidak bisa disamakan dan sangat disayangkan Indonesia memiliki calon pemimpin yang seperti demikian.

Banyak dari masyarakat bertanya-tanya sebenarnya apa yang salah dari Boyolali. Kenapa Prabowo menggunakan Boyolali sebagai bahan percontohan masyarakat yang tertinggal dan kenapa Prabowo bertindak seperti demikian. Kenapa strategi Prabowo untuk memenangkan kursi RI 1 harus mencari perhatian receh dari masyarakat? 

Bagi saya ini seperti kemunduran bagi bangsa Indonesia. Indonesia memiliki tokoh-tokoh yang jauh lebih unggul baik itu dari segi karakter, kepemimpinan, pengalaman, integritas, dan ilmu pengetahuan. Namun yang maju untuk menjadi calon pemimpin malah seseorang yang hanya mampu mencari perhatian murahan dan malah mengganggu kenyamanan masyarakat. Sepemahanan saya justru seorang pemimpin memikirkan solusi-solusi yang tepat untuk diterapkan dan mampu menyelesaikan segala permasalahan dari kepemimpinan sebelumnya. Bukan malah menghina masyarakat dan memunculkan prestasi berupa tagar #SaveMukaBoyolali.

Sekarang kita bahas dari kubu Jokowi. Banyak orang mengatakan, "Jokowi itu gak bagus-bagus banget, tapi kalo pilihan keduanya bang Wowo ya gue mendingan Jokowi." Kita masyarakat harusnya buka mata selebar-lebarnya. Jangan hanya bisa komplain, komentar, protes, dan menyalahkan. Sebagai perbandingan kita harus bisa berfikir luas, melihat ke kanan, ke kiri, dan juga ke belakang. Seperti apa kepemimpinan sebelum-sebelumnya? Berapa banyak perubahan yang telah mereka lakukan terhadap bangsa ini? Dan berapa besar perubahan yang telah didobrak oleh Jokowi? Kalau masyarakat membandingkan dengan negara maju seperti Rusia, Jerman, Inggris, dan Amerika ya tentu kita tidak akan pernah bisa menghargai setiap perubahan baik yang kita perjuangkan. 

Kemajuan itu butuh proses, dan proses itu butuh dukungan serta kerjasama semua elemen masyarakat. Bukan perjuangan untuk menegakkan khilafah yang malah mengancam persatuan bangsa.

Editor: Sam

T#g:BoyolaliPrabowoSARA
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Senin, 08 Jul 2019 03:08

    Menanti Rekonsiliasi Para Tokoh Bangsa Pasca Pilpres 2019

    Ribuan massa yang mengawal sidang MK akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Namun mereka tampaknya belum puas dengan apa yang menjadi putusan Mahkamah Konstitusi. Bahkan mereka tetap tidak mengakui

  • Jumat, 21 Jun 2019 03:21

    Kans Tipis Prabowo-Sandiaga Memenangi Sengketa Pilpres

    Proses Pemilu selalu menjadi ketegangan tersendiri, hingga situasi yang tadinya aman tiba-tiba bisa berubah menjadi memanas, apalagi jika terdapat pihak yang merasa dirugikan atau dicurangi, gugatan p

  • Jumat, 14 Jun 2019 15:14

    Kita Semua Saudara Sebangsa, Mari Dukung Hasil Sidang MK dengan Damai dan Bermartabat

    Pengumuman Pemilu 2019 sudah dilakukan oleh KPU dan Capres 01 sebagai pemenangnya, namun masih tertunda hasil finalnya dikarenakan pihak Capres 02 mengajukan gugatan sengketa pemilu ke Mahkamah Konsti

  • Sabtu, 08 Jun 2019 15:08

    Sulit Buktikan Pemilu Curang, Prabowo Harus Legowo

    Tuduhan Pemilu curang seakan menjadi lagu lama yang sering didengar, hal tersebut juga hampir bersamaan dengan klaim kemenangan yang cenderung berlebihan, padahal saat itu KPU belum memberikan pengumu

  • Jumat, 17 Mei 2019 03:17

    Surat Wasiat Prabowo dan Narasi Kecurangan Pemilu 2019

    Capres nomor 02 Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya bersama Sandiaga Uno dan BPN, akan melawan  dugaan kecurangan pemilu. Prabowo juga mengatakan bahwa dirinya akan terus berjuang bersama r

  • Senin, 13 Mei 2019 18:13

    BPIP imbau agama jangan dijadikan tunggangan politik

    Said Aqil Siradj, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), mengimbau agar pada pemilu kedepan, agama tidak dijadikan tunggangan politik."Baru kali ini pemilu isunya kemarin ag

  • Minggu, 12 Mei 2019 23:32

    Menangkal Kaum Pengusung Isu Kecurangan Pemilu

    Sejak tahun 1994, oleh panggilan konstitusi dan iman, saya melibatkan diri dalam kepemiluan. Bersama Mas Gunawan Muhamad (Pemred Tempo, sering disebut Mas GM), Nurcholis Madjid (Cak Nur), Mulyana Kusu

  • Jumat, 10 Mei 2019 17:10

    Bentrok tidak terjadi, massa pendukung KPU tinggalkan bundaran Bawaslu Sumut

    Apa yang dikhawatirkan masyarakat tidak terjadi. Bentrokan dapat dihindarkan karena massa pendukung KPU meninggalkan bundaran Bawaslu Sumut dan bundaran Adam Malik-Amir Hamzah.Amatan media ini, massa

  • Senin, 06 Mei 2019 22:06

    Japorman Saragih Apresiasi KPU dan Jajaran

    Japorman Saragih, tokoh masyarakat Sumatera Utara yang pernah 3 kali menjadi wakil rakyat di DPRD Sumut (1999-2004, 2004-2009 dan 2009-2014), mengapresiasi kinerja Penyelenggara Pemilu, khususnya KPU

  • Sabtu, 04 Mei 2019 16:14

    Amien Rais: PAN akan tetap berada di koalisi Prabowo-Sandi

    Amien Rais, selaku Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), menjamin partainya tidak akan pindah haluan ke koalisi Jokowi-KH Ma'ruf Amin."Itu (isu) omong-kosong," kata Rais, di Seknas

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak