Politisi PDIP Trimedya Pandjaitan meminta Polri memberi akses media massa untuk masuk ke rumah dinas Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, yang disebut menjadi lokasi baku tembak antarpolisi.
Hal tersebut dinilai dapat mengungkap kronologi peristiwa yang hingga kini belum terungkap. Kehadiran pers untuk melihat bekas baku tembak.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi ini menyayangkan, sampai satu minggu usai peristiwa, masyarakat belum mengetahui hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah dinas Kadiv Propam.
"Paling tidak pers boleh masuk. Ada enggak bekas tembak-tembakan itu di sekitar rumahnya? Di dinding atau di tangga, darah, kan enggak pernah ada (ditampilkan)," kata Trimedya dalam webinar yang disiarkan lewat instagram @diskusititiktemu, Sabtu (16/7).
Trimedya menyebut tak mungkin terjadi insiden baku tembak tanpa meninggalkan bekas, misalnya seperti darah, kaca pecah, atau lainnya. Untuk itu, kata Trimedya, polisi perlu menunjukkan bukti-bukti itu.
"Kita yang orang hukum, keliatannya ya akal sehat kita dibalikkan. Nah itu kan harusnya ada. Enggak mungkin dong orang tembak-tembakan, enggak ada bekas darahnya, kaca pecah atau apa, itu kan enggak pernah dilihatkan," jelasnya.
Trimedya menyebut ada ketidaksiapan yang seolah ditutupi oleh pihak kepolisian ketika merilis kasus baku tembak ini.
Dimulai dari keterangan pertama yang disampaikan Divisi Humas Mabes Polri pada Senin (11/7) yang terlihat tak ada kesiapan merilis kasus tersebut.
Ditambah lagi dengan konferensi pers Polres Metro Jakarta Selatan pada Selasa (12/7) karena tidak ada barang bukti yang disuguhkan ke publik.
"Aneh, saya tahun 91 sudah jadi pengacara. Enggak pernah tuh saya melihat ada konferensi pers barang bukti enggak ditunjukkan. Itu enggak ditunjukkan barang buktinya, itu selongsong seperti apa? Jenis senjata seperti apa?" ujarnya.
Atas beberapa kejanggalan itu, Trimedya mengaku memberikan tiga usulan kepada Listyo lewat aplikasi pesan WhatsApp yaitu untuk membentuk tim khusus; menarik berkas ke ke Markas Besar (Mabes) Polri karena sudah termasuk isu nasional; dan menonaktifkan Freddy Samdo.
Mabes Polri menyatakan Brigadir J tewas usai baku tembak dengan Bharada E di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Jumat 8 Juli lalu. Brigadir J bertugas sebagai sopir istri Sambo.
Polisi menyebut Brigadir J masuk kamar dan melakukan pelecehan seksual ke istri sang jenderal. Ia mendapat tujuh luka akibat tembakan Bharada E di tubuhnya.
Namun, pihak keluarga tak percaya jika Brigadir J melakukan pelecehan seksual. Mereka pun menemukan luka sayatan di tubuh Brigadir J hingga dua jari putus.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah membentuk tim khusus. Ia memastikan tim akan bekerja secara profesional dalam mengusut insiden baku tembak ini.