Diduga kuat karena dampak kemarau panjang dan angin kencang yang sudah lebih dari empat bulan terakhir melanda daerah di Kabupaten Padang Lawas (Palas), seperti yang terjadi di Kecamatan Sosa, Hutaraja Tinggi (Huragi) dan Kecamatan Batang Lubu Sutam (Batam), berakibat puluhan hektare (Ha) kebun sawit milik PTPN4 Sosa terbakar.
Tampak kebun sawit yang baru direplanting di lahan afdeling 1 PTPN4 Sosa, Selasa (18/10/2016). Dampak kemarau panjang dan angin kencang yang melanda daerah Kabupaten Palas selama lebih 4 bulan terakhir menybabkan rawan kebakaran lahan dan warga sulit dapat air bersih.
Manajer PTPN4 Unit Usaha Sosa, Marthias M, melalui Asisten SDM dan Umum, H. Suhendro Gunawan, kepada wartawan, Selasa (18/10) menyebutkan, seluas 99 Ha kebun sawit milik perusahaan BUMN yang terletak di afdeling 1,2,3, 5 dan afdeling 8 terbakar.
"Dari data yang ada, sebanyak 14.200 batang pohon sawit, mulai dari pohon sawit yang baru replanting, tanaman muda dan pohon tua, habis terbakar selama musim kemarau dan angin kencang ini. Tentu saja, akibatnya pohon sawit mengalami stagnansi/stess pertumbuhannya dan produksi TBS sawitnya berkurang," ujarnya.
"Kami menduga, penyebab kebakaran kebun sawit ini terjadi akibat adanya sisa puntung rokok yang dibuang sembarangan di rerumputan, yang ditiup angin kencang di atas rumput yang kering dan panasnya musim kemarau, sehingga api cepat tersulut dan merambat membaka kebun sawit kita," ungkapnya.
Untuk menanggulangi agar tidak meluasnya areal kebun sawit yang terbakar, lanjutnya, pihak manajemen PTPN4 Sosa mensiagakan satu unit truck tangki dari badan kordinator anti kebakaran (Bakortiba) dan berkordinasi dengan tim pemadam kebakaran dari BPBD Kabupaten Palas.
"Sedangkan untuk kebutuhan air guna pemadaan lahan yang terbakar, kami mengambil air dari aliran sungai sosa yang debit airnya juga sudah mengecil. Apalagi di saat musim kemarau seperti ini, setiap pagi dan sore hari banyak warga yang menggunakan air sungai sosa, karena air di sumur warga sudah kering. Makanya, kami ambil air dengan tidak mengganggu aktifitas MCK warga di sungai", ujarnya.
Diharapkannya, dengan kondisi seperti ini tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dengan sengaja membakar lahan atau areal kebun sawit dan areal-areal lainnya di sekitar kita. "Upaya kita selanjutnya adalah menambah personil pengamanan kebun atau centeng untuk mengantisipasi dan mengurangi sumber api di areal kebun sawit," terangnya.
"Juga mendirikan dan membentuk pos-pos di daerah-daerah tertentu yang diperkirakan rawan kebakaran. Kita prediksikan, bilan dalam jangka waktu satu bulan ke depan tidak turun hujan atau tidak ada air, kemungkinan besar ketersediaan air akan habis. Tapi, kita berharap hal itu tidak terjadi," harapnya.
Pantauan wartawan di sejumlah aliran sungai yang mengalir di beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Palas saat ini, dampat dari kemarau yang melanda daerah ini, memang terlihat jelas debit airnya kian mengecil, bahkan nyaris terputus. Seperti pemandangan yang terlihat di aliran Sungai Barumun Kecamatan Barumun, warga yang hendak menggunakan air sungai, harus membuat kolam-kolam atau sumur-sumur sendiri di dasar sungai, agar airnya layak dipergunakan. Sedangkan aliran air dari anak sungai atau sungai-sungai kecil lainnya, sama sekali tidak ada airnya lagi, hanya terlihat tumpukan pasir dan kerikil di dasar sungai-sungai tersebut. (MS)