Sabtu, 19 Sep 2020 02:48

Sejarawan Desak Masyarakat Waspadai Bahaya Laten PKI

JAKARTA (utamanews.com)
Minggu, 29 Sep 2013 14:15
ardi-lamadi.blogspot.com
Lambang Partai Komunis Indonesia
Sejarawan UI Abdurakhman mendesak masyarakat untuk tidak melepaskan kewaspadaan terhadap bahaya laten PKI yang pada tahun 1965 melakukan pemberontakan yang lebih dikenal sebagai peristiwa G 30 S/PKI. 

"PKI itu bahaya laten. Tidak akan pernah berhenti sampai mencapai tujuan," kata Abdurakhman kepada Antara yang menghubunginya dari Jakarta, Sabtu. 

G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia merupakan gerakan yang didalangi PKI untuk mengubah dasar negara Pancasila menjadi Komunis. Oleh karena itu pula tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. 

Peristiwa G 30 S/PKI tersebut mengakibatkan enam perwira tinggi dan dua perwira menengah TNI AD serta seorang perwira pertama gugur. Putri terkecil Jenderal A H Nasution yaitu Ade Irma Suriani Nasution juga turut menjadi korban. 

Kesembilan perwira tersebut antara lain, Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani, Letjen Anumerta S. Parman, Letjen Anumerta Suprapto, Letjen Anumerta M.T Haryono, Mayor Jendral Anumerta Donald Isac Panjaitan, Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siwomiharjo, Kapten Piere Andreas Tendean, Brigjen Anumerta Katamso Dharmokusumo dan Kolonel Anumerta Sugiyono Mangunwiyoto. 

Sekalipun telah berlangsung 48 tahun yang lalu, masih ada beberapa pihak yang meragukan peran PKI di balik peristiwa tersebut. Di beberapa buku pelajaran peristiwa tersebut juga disebut dengan peristiwa G 30 S, tanpa embel-embel PKI. 

Berbeda dengan pihak yang meragukan peran PKI dibalik peristiwa tersebut, Abdurakhman tetap meyakini adanya keterlibatan PKI. 
"Itu keterlibatan PKI jelas. Memang ada yang melihat peristiwa tersebut dari sisi lain tapi saya melihatnya seperti akademis lain. Akademis melihat itu jelas PKI." katanya. 

Pembelajaran 

Menurut Abdurakhman, peristiwa sejarah merupakan bagian dari proses pembelajaran, demikian pula dengan peristiwa G 30 S/PKI. Menurut dia, yang terpenting bukan peringatan akan peristiwa tersebut namun proses pembelajaran apa yang dapat diambil dari peristiwa tersebut. 

"Di balik G 30 S/PKI ada pembelajaran apa sih. Hari Kesaktian Pancasila, apa yang ada di balik itu," katanya. 

Menurut dia, perlu adanya kebijakan yang tepat soal proses pembelajaran tersebut, misalnya melalui penyuluhan dan pendidikan. 
Menurut dia, masyarakat juga perlu bijak melihat peristiwa tersebut, baik orang yang terlibat serta keturuannya anggota PKI. Menurut dia, masih ada beberapa orang yang sinis melihat keturunan PKI, namun jangan sampai hal tersebut justru membuat keturunan PKI kehilangan haknya. 

Menurut dia, masyarakat harus menanamkan nilai-nilai Pancasila untuk menyikapi peristiwa tersebut. 
"Kalau Pancasila kan benda mati. Yang diperlukan itu nilai Pancasila yang tertanam di diri. Kalau nggak tertanam percuma," katanya. (Ant/rr)
T#g:PKI
Berita Terkait
  • Minggu, 23 Agu 2020 21:13

    DPC HIPKI Langkat Bagikan Ribuan Masker Kepada Warga Terdampak Erupsi Sinabung

    Berbagai jenis bantuan seperti bahan makanan berupa Sembako maupun masker, terus disalurkan untuk korban yang terdampak Erupsi Gunung Sinabung.Bantuan yang diberikan kepada warga sekitar yang terdampa

  • Kamis, 30 Apr 2020 13:40

    Gugus Tugas Covid-19 Palas Terima 100 Paket Sembako GAPKI

    Juru Bicara Gugus Tugas (Gugas) Percepatan Pencegahan Covid 19 Kabupaten Padang Lawas (Palas), Marza Jenova didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Palas, Lelly Ramayulis, menerima sebanyak 100 pa

  • Rabu, 03 Apr 2019 21:03

    Kominfo: [HOAKS] Pendukung Jokowi Di Acara Debat Memakai Pin Di Topi Lambang PKI

    Beredar foto seorang lelaki yang memakai jaket bertuliskan Jokowi-Ma'ruf yang menghadiri acara debat Capres ke empat pada tanggal 30 Maret 2019. Pria tersebut menggunakan topi hitam dan tampak pi

  • Minggu, 24 Mar 2019 20:44

    Generasi Milenial Peduli Negara, Anti Komunisme & Hoax: Jokowi Komunis Adalah Hoax

    Sebelum mengenal apa itu komunisme lebih dalam, kita harus mengenal ciri-ciri paham komunisme. Komunisme itu atheis, yaitu tidak beragama. Orang komunis tidak mungkin mempunyai agama. Selain itu orang

  • Minggu, 03 Feb 2019 06:53

    Politik Pragmatisme Kubu Prabowo-Sandi

    Baru- baru ini, beredar luas di media sosial poster berisi komando pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab agar pendukung FPI menarik dukungan dari pasangan Prabowo-Sandi.

  • Minggu, 30 Sep 2018 18:30

    Aktifis #2019KitaTetapBersaudara Gelar Nobar Film G30S/PKI

    Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto mengapresiasi aktifis gerakan (hastag) #2019KitaTetapBersaudara yang menggelar nonton bareng (nobar) Film G30S/PKI di D'jong Cafe, Sabtu (29/9) mala

  • Kamis, 20 Sep 2018 04:20

    Mewaspadai Politisasi Hoax Isu PKI Jelang Pilpres

    Pemilihan presiden dan wakil presiden baru Indonesia memang masih akan digelar pada April 2019 mendatang. Namun, meskipun kampanye secara resmi belum dimulai dan waktu Pemilu masih cukup panjang, suhu

  • Kamis, 15 Feb 2018 05:45

    Opini Kebangkitan PKI Dimobilisasi Kekuatan Politik Tertentu

    Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas mengatakan, opini kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) di masyarakat tidak terjadi secara alamiah.Menurut dia, opini soal ke

  • Rabu, 14 Feb 2018 18:54

    Masyarakat Cerdas, Jangan Mau Diprovokasi Isu PKI

    Pengguliran isu komunisme akhir-akhir ini kembali terjadi. Seorang pria bernama Wahyudin Firmansyah harus mendapatkan 9 jahitan di kepalanya akibat dihajar oleh massa di Kelurahan Sukaratu, Kecamatan

  • Rabu, 14 Feb 2018 18:04

    Momok PKI, Membodohi Masyarakat

    Pada 2018, Indonesia akan memasuki tahun politik dalam rangka memilih kepala daerah untuk lima tahun ke depan. Setahun kemudian, pada 2019, Indonesia kembali memasuki tahun politik dengan digelar

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak