Pemkab Tobasa mengirimkan enam orang penenun ulos ke Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Disana, mereka akan menimba ilmu menenun ulos berbahan sutra. Majalaya menjadi rujukan karena sebagai pusat tekstil, pengrajin tenun daerah itu telah memproduksi ulos berbahan sutra. Pangsa pasar mereka bukan hanya Jakarta, tapi beberapa Negara di Eropa.
Kadis Koperindag, Joni Hutajulu, mengatakan pengiriman enam pengrajin ini adalah merupakan program koperindag demi pengembangan ulos berbahan sutra di Tobasa tanpa melupakan motif ulos yang selama ini dikenal masyarakat. Joni mengungkapkan, ulos berbahan sutra sangat diminati terutama pangsa pasar Eropa seperti, Belanda, Jerman dan beberapa negara lainnya. Motif ulos Batak, kata Joni, memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh suku lain dan telah diakui oleh dunia.
“Nah, kita mencoba dengan ciri khas motif ulos Batak yang kita miliki, diproduksi dalam bentuk ulos berbahan sutra. Memang dari segi harga, pasti lebih mahal dari harga ulos yang beredar sekarang di pasaran. Pangsa pasar yang kita inginkan memang Jakarta dan Eropa,”kata Joni (24/1) di Balige.
Joni menambahkan, menjadikan daerah Tobasa salah satu sentra penghasil ulos berbahan sutra bukanlah sekedar mimpi. Hanya saja, perlu dukungan dari pihak pihak termasuk pengusaha tenun dalam memberhasilkan program ini. “Kalau hanya enam orang yang kita kirimkan tidaklah cukup. Pengusaha kita ajak juga turut andil mengirimkan pekerjanya yang ahli dalam menenun agar ilmu tersebut tersebar cepat. Kalau mereka (pengusaha) bersedia, kita dengan senang hati” paparnya.
Sejauh ini, produk ulos Tobasa dihasilkan oleh 634 orang pengrajin gedokan dan 24 pabrik yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang tersebar di beberapa kecamatan. Ke-enam penenun yang akan dikirim mewakili keduanya, yakni empat dari pengrajin yang menggunakan ATBM dan dua dari pengrajin gedokan. Selain menimba ilmu, mereka sekaligus diwajibkan menghasilkan ulos sutra. “ Rencananya, hasil karya mereka akan dipamerkan di Batam Expo sekitar Juni tahun ini,” ujar Joni.
Setelah mendapat pelatihan, para penenun ini akan dibantu untuk mengembangkan ulos sutra di daerah kerja masing masing. Pemkab siap memberikan bantuan alat tenun, karena alat tenun sutra berbeda ukuran, benang dan pemasaran. Joni mengungkapkan, dari segi pemasaran, pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan pengusaha Majalaya. Dikatakan, mereka siap menampung hasil tenunan Tobasa. “ Mereka siap menampung berapa pun jumlahnya,”paparnya.
Pengusaha ulos Tobasa Mangarti Sigalingging mengatakan, para pengusaha Tobasa bukannya tidak mau menghasilkan ulos berbahan sutra. Ulos sutra pernah juga mereka produksi namun terkendala pemasaran. “ Inilah kesulitan kita selama ini, bukan pekerja kami terkendala soal teknologi. Tapi memang pemasarannya tidak ada, dan ulos sutra hanya bagi kalangan tertentu. Sebagai pengusaha, tentu kami juga memikirkan laba,”ujarnya.
Mangarti menambahkan, usahanya pernah juga membuat ulos songket bercampur motif Palembang dan Batak. Sama halnya dengan ulos sutra, produk ini kurang diminati karena memang harganya belum terjangkau masyarakat. “ Jadi intinya adalah soal pemasaran dan keuntungan yang didapat oleh pengusaha dan pengrajin itu sendiri. Kalau pengusaha rugi, tentu karyawan kami tidak mendapat upah,”tandasnya.
Namun demikian, bila rencana kerjasama yang dilakukan oleh pemkab dalam hal ini Dinas Koperindag dengan pihak Majalaya terlaksana, para pengusaha siap memproduksi ulos sutra. “ Tapi harus dengan kontrak yang jelas, jangan hanya secara lisan. Kami siap mengeluarkan dana untuk membeli mesin dan seluruh biaya produksi,”ungkap Mangarti. (Syahroni)