LSM Martabat Sumut kembali melakukan kegiatan sosialisasi kepada kaum muda. Kali ini dengan mengusung munculnya kembali isu komunisme. LSM Martabat meyakini bahwa paham komunisme tidak akan pernah mati. Sampai kapan pun penganut paham komunis ini akan tetap berupaya untuk mengembalikan kejayaan ideologi komunisnya ke tataran politik nasional negara Indonesia.
Hal ini terbukti dengan adanya kegiatan sosialisasi kepada seratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan di ruang audio visual jurusan Sejarah, pagi tadi, 30 Agustus 2013, dengan tema "Masihkan komunisme menjadi ancaman di Indonesia".
Dalam sosialisasi tersebut, DR Hidayat, M.Si menjelaskan paham komunisme dan perilaku para penganutnya secara komprehensif, dari segi tinjauan akademisi dan penggambaran fakta sejarah.
"Penyebutan peristiwa pembunuhan 6 jenderal dan 1 Pamen TNI oleh PKI sebagai G30S/PKI merupakan jebakan dan penggelapan sejarah. Karena pengakuan saksi sejarah, peristiwa tersebut terjadi pada 1 Oktober 1965. Istilah G30S adalah permainan dialektika komunis untuk memanipulasi kebenaran sejarah. Nasution sendiri sebagai saksi mata pernah mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada jam 4.00 wib dini hari, Bung Karno menamainya Gestok. Dengan menggunakan istilah G30SPKI masyarakat hanya akan mengingat peristiwa penculikan jenderal dan gerakan militer di Jakarta, sehingga tidak menganggap peristiwa itu sebagai kudeta yang dilakukan oleh PKI, sebagimana Partai Palu Arit tersebut aksi menculik di daerah-daerah. 1 Oktober seharusnya diperingati Hari Duka Nasional, bukan sebagai Hari Kesaktian Pancasila Karena pada tanggal tersebut massa aksi masih melakukan penuntutan pembubaran terhadap PKI. 1 Oktober itu pengkhianatan Pancasila", ujar DR Hidayat.
"Mahasiswa harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang sejarah gerakan ideologi komunis di Indonesia dalam upaya mencari solusi dan menemukan strategi mengatasi gerakan komunis yang mengancam NKRI. Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual bangsa harus kritis dalam menyikapi persoalan bangsa saat ini, namun tidak meniru aksi-aksi radikal komunisme seperti yang terjadi pada orde lama", tambahnya.
Samson Sihombing dalam paparannya menyatakan bahwa saat ini ada beberapa mahasiswa yang kemungkinan hanya ikut-ikutan menggunakan slogan-slogan yang biasa digunakan kaum Komunis dan golongan radikal kiri. Contohnya beberapa kelompok mahasiswa yang kerap dalam aksi unjuk rasanya bernuansa Komunis, seperti mereka mengatakan ”Revolusi sampai mati” atau “Serikat Tani Indonesia”, walaupun ketika diajak berdiskusi tentang filsafat Marxis, pengetahuan mereka sebenarnya tidak seberapa. Namun mahasiswa tersebut potensial untuk menjadi Marxis sungguhan, dengan syarat ada yang membina mereka dan kondisi untuk itu juga mendukung. Seperti kasus Snievliet dan Baars, biasanya tokoh tua yang mendalam pengetahuan Marxismenya akan berada di belakang mendorong yang muda-muda. Kelompok muda itu dapat berasal dari mana saja, bahkan, dari mereka yang berlatar belakang gerakan Islam. Jika saja kalangan ini tidak mendalami taktik dan strategi perjuangan kaum Komunis, bukan mustahil akhirnya mereka terjerumus dan terlibat dalam pengaktifan gerakan komunisme tersebut. (smsn)