Sejumlah peternak sapi di daerah Kabupaten Padang Lawas (Palas), saat ini merasa resah. Mereka khawatir, sapi yang mereka budidayakan, terkena penyakit yang kini menyerang banyak sapi bali. Bahkan,
ternyata sudah tak sedikit sapi bali yang mati mendadak dalam sepekan terakhir. Seperti di Desa Janji Raja, Kecamatan Sosa, peternak sapi yang mendapat bantuan modal dari Kementerian Sosial ini bingung ketika satu sapi yang mereka jaga terkena penyakit.
"Bingung kami, sapinya sudah dua hari tidak makan, kayaknya sakit perut. Akhirnya, kami minta bantuan dari petugas Dinas Perikanan dan Peternakan Palas untuk memberikan bantuan pengobatan," kata Yadani Daulay, seorang peternak sapi di Desa Janji Raja, kepada wartawan, Selasa (17/1).
"Ternyata, kata petugas, saat ini penyakit sapi bali sedang musim di Palas. Sapi yang sakit kemarin itu, langsung diberikan penanganan dengan disuntik, lalu diberikan obat dan suplemen makanan untuk mendapat tenaga. Setelah melihat kondisi penyakit sapi tersebut, petugas menyatakan sudah dalam kondisi parah penyakit sapinya. Bila tidak segera ditangani sapi akan mati mendadak,“ ujarnya.
Sementara, Adam Malik Siregar, petugas kesehatan hewan dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Palas, saat ditemui menegaskan, memang saat ini sedang musim penyakit sapi, khususnya sapi bali. Sudah banyak jenis sapi bali milik peternak di Palas yang mati mendadak.
"Saat ini penyakit untuk sapi bali memang sedang musim. Karena itu, kami mengimbau, bagi warga yang berniat membeli sapi untuk ternak, lebih baik ditunda dulu sementara. Sekarang ini belum tepat waktunya beli sapi ternak. Nanti, dibeli, sudah berpenyakit pula, rugi jadinya,” kata Adam Malik pula.
Untuk penanganan sapi bali yang sakit ini, pihaknya terus turun ke lapangan untuk memberi pengobatan sapi yang sakit. Seperti dilakukannya pada Sabtu (14/1) minggu lalu, ia sempat berkunjung ke beberapa kandang sapi bali milik warga di desa yang berbeda, atas permintaan peternak bersangkutan.
"Penyakit yang saat ini datang ke sapi bali, dominan penyakit diare ganas. Itu terlihat dari sapi yang mengalami sakit perut sampai lemas dan tak berdaya. Diduga, itulah penyebab kematian banyak sapi ini," terangnya.
Meski begitu, dikatakannya, upaya antisipasi penyakit tentu lebih baik daripada mengobati. Karena itu, ia juga menyarankan peternak untuk lebih rajin membersihkan kandang sapi agar tetap bersih. Kemudian, ketersediaan makanan yang aman juga perlu dijaga, karena sapi bali ini juga kuat minum dan minuman sapi yang layak harus disediakan cukup.
"Bisa dibayangkan, satu ekor sapi bali rata-rata memiliki harga jual di atas Rp 5 juta untuk umur di bawah satu tahun. Tentu, jika mati, akan banyak kerugian yang dialami peternak," ujarnya.
Dikatakan Adam, belum lama ini di Trans Aliaga unit 4, sebanyak empat ekor mati mendadak di kandangnya, kuat dugaan, penyakit yang menyerang sapi bali ini termasuk penyakit diare ganas. Karena itu, pengobatan yang dilakukan, fokus untuk penanggulangan penyakit di bagian perut sapi tersebut.
Adam Malik juga menyebutkan, baru-baru ini, satu ekor sapi bali yang termasuk kategori induk juga mati mendadak di Desa Mananti Sosa Julu. Bahkan, sapi yang mati ini baru beberapa jam tiba dari tempat pembelian.
"Karena memang, sapi bali ini tergolong hewan ternak yang kurang kebal terhadap penyakit. Bahkan, ada penyakit tertentu yang hanya menyerang sapi bali dan tidak menyerang ke jenis sapi yang lain. Itu yang saya khawatirkan akan terjadi untuk beberapa sapi ternak saat ini. Penyakit spesialis sapi bali itu, bisa saja menyerang sapi bali yang di Palas ini. Makanya kebersihan kandang dan ketersediaan pakan dan air minum yang cukup, harus terus diperhatikan oleh peternak," jelasnya. (MS)