Dipicu tren pergaulan bebas di masyarakat, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dewasa ini banyak diderita oleh usia produktif 19 tahun s/d 30 tahun. Demikian dikatakan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Labuhanbatu.
"Setiap bulannya kami mendapat 3 kasus penderita ODHA," kata Ade Irma, Ketua PKBI, Rabu (7/10) siang di Kantor Dinas Kesehatan Labuhanbatu.
Ia menilai, angka ini diprediksi naik hingga 15 persen setiap tahunnya seiring ditemukan beberapa penyakit infeksi menular seksual (IMS) di kalangan pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menegah Atas (SMA) sederajat di Kabupaten Labuhanbatu.
Meningkatnya penularan, bisa saja dibawa dari luar Kota Rantauprapat, karena, Kota Rantauprapat merupakan kawasan titik istirahat bagi pekerja transportasi yanga mau ke Medan atau sebaliknya. "Ini bisa saja membawa penyakit menular seksual," katanya.
Ade menghimbau kepada semua pihak agar ikut berpartisipasi dalam penanggulangan dan antisipasi penularan. Dengan menguatkan sosialisasi dampak dan akibat dari sex bebas, tidak diskriminasi dan menyiapkan program-program perencanaan di masyarakat.
Catatan PKBI, terdapat 140 orang terpapar sebagai ODHA di Labuhanbatu hingga September 2015, 5 (lima) pria diantaranya adalah berstatus PNS di Pemkab Labuhanbatu dan sebagian besar oleh ibu-ibu rumah tangga dan yang telah meninggal dunia 43 orang.
Kondisi ini diperparah oleh adanya ODHA dari daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Labuhanbatu Selatan yang masih bergantung pelayanan case support treatment (cst) dari Kabupaten Labuhanbatu. "Hal ini sungguh memberatkan para pendamping sebaya," ungkap Bobby Agus Tirtana, Konselor HIV/AIDS Labuhanbatu.
Menurut dia, biaya CST sangat membebani para petugas di Labuhanbatu. Hal ini disebabkan identitas penderita ODHA yang berasal dari luar Labuhanbatu dan anggarannya tidak ditampung oleh APBD.
"Sangat memberatkan sekali, bila ada penderita ODHA dari luar, karena kami akan patungan membayar biayanya dengan alasan kemanusiaan karena untuk alat tersebut hanya ada di Labuhanbatu," ungkap Bobby.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu, dr Alwi Mujahid Hasibuan mengaku telah berupaya mensosialisasikan program-program pencegah penularan penyakit HIV/AIDS dengan melibatkan komponen masyarakat seperti KPA, PKBI, PMI, rekan-rekan wartawan dan ibu-ibu rumah tangga.
Sosialisasi ini ditujukan kepada populasi kunci yakni pekerja seksual, waria dan gay yang ada. Selain itu, kata Alwi, telah ditemukannya kasus HIV/AIDS pada siswa SMP, membuat Kota Rantauprapat yang religius terbantahkan. (TR)