Kamis, 30 Apr 2026

Anak umur 7 tahun sebabkan yayasan dan orang tua murid bersengketa dan tempuh jalur hukum

MEDAN (utamanews.com)
Rabu, 20 Jan 2016 10:06
MEDAN, (utamanews.com) - AAS (7 tahun) anak dari pasangan Nasita (31) dan Harry Hardian Siregar (36) warga Jalan Pasar Merah, Medan, yang kini telah berhenti bersekolah ternyata telah menyebabkan orangtuanya dan pihak yayasan An Nizam bersengketa sampai menempuh jalur hukum.


Ditemui di kantornya, Ketua Yayasan An-Nizam, Ir H Ali Umar mengatakan, bahwa pihaknya telah menerima 19 surat pengaduan dari orang tua murid sekelas AAS, terkait ketidaknyamanan anak didik akibat perbuatan Harry beberapa waktu lalu yang mengajarkan anaknya untuk berlaku keras terhadap teman sekelasnya. 

“Surat tersebut ditulis dan ditandatangani, serta dilengkapi dengan materai yang berisikan berbagai keluhan akibat Harry mengkomandoi AAS menendang teman sekelasnya yang sebelumnya menendang AAS. Di hadapan guru dan murid lainnya, Harry menyuruh AAS menendang temannya itu sebelum dia mengadukan hal itu kepada ayahnya saat berlangsung kegiatan belajar-mengajar. Sontak, suasana berubah menjadi mencekam bagi anak-anak lainnya yang melihat ulah ayah AAS,” ungkap Ali di ruang rapat guru, di lantai IV gedung An-Nizam, Senin siang, (19/1/2016). 
"Kami bingung menjawab surat keluhan dari orang tua murid ini.Kami juga punya rekaman di CCTV kami, saat ayahnya menyuruh AAS menendang temannya di hadapan guru dan teman-teman lainnya. Makanya kami juga menempuh jalur hukum. Tetapi kami masih ingin hal ini diselesaikan secara kekeluargaan," ujar Ali.

Kelakuan tak terpuji itu disebut bukan sekali ia lakukan. Kepala Sekolah SD, Darwis SAg, MPdi juga berkata hal senada. Dirinya pernah melihat langsung Harry memukul teman sekelas AAS hanya karena masalah sepele.

"Ayahnya ada memukul seorang anak, memang tidak terekam CCTV karena posisinya lagi di lapangan, tapi ada guru yang melihatnya. Dia bilang, “om, mana ada saya menabrak anak om, anak om yang nabrak saya”, ujar Darwis menirukan ucapan anak tersebut.

Wali Kelas AAS, Mardalita SS jjuga mengungkapkan kejenuhanannya menghadapi AAS. Bukannya menyerah saat memberi pengajaran, tetapi guru-guru di SD tersebut mengeluh karena kesulitan atas ulah AAS yang hiperaktif ketika di sekolah. 
produk kecantikan untuk pria wanita

Kepala Sekolah, dan guru lainnya menyarankan agar orang tuanya membawa AAS berkonsultasi ke psikolog agar mendapat rekomendasi mengenai cara mengajar AAS. Namun, orang tuanya merasa keberatan atas saran dari para guru. Ibunya menyalah pahami maksud tersebut.

"Kita nggak bisa bicara dengan emaknya, karena kita dicecar terus ketika menceritakan keluhan. Padahal kita cuma minta si AAS agar dibawa ke psikolog anak, agar kami mendapat rekomendasi mengenai cara mengajarnya. Karena psikolog lebih memahami karakter si anak," sebut Mardalita dan Darwis serentak.

Sebelumnya, Nasita sempat meminta agar anaknya dipindahkan ke sekolah lain dengan alasan yayasan tersebut telah gagal mengajar anaknya. Nasita bahkan meminta seluruh uang yang telah dikeluarkan untuk biaya administrasi AAS. Namun, entah mengapa, Nasita kembali menyekolahkan anaknya dan malah meminta surat pemecatan terhadap anaknya ketika pihak yayasan telah mengambil sikap agar tidak menerima AAS lagi untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

iklan peninggi badan
"Ibunya meminta anaknya agar dipindahkan sekolah, tapi semua uangnya dikembalikan. Sudah saya berikan semuanya Rp11 juta ke Kabiro keuangan. Tapi tidak dia ambil. Malah disekolahkannya lagi anaknya. Kan dia yang minta sebelumnya," aku Ali.

Kini, antara pihak orang tua AAS dan yayasan sama-sama telah menempuh jalur hukum. Padahal, permasalahan hanya berpusat pada si anak. Langkah tersebut belum tentu akan menyelesaikan masalah. Kedua pihak juga telah lupa akan kewajibannya memberikan pendidikan yang terbaik buat si anak.

“Jika seperti ini, si anak bukan malah mendapatkan pendidikan terbaik, tapi malah akan merusak psikologisnya yang berakibat terhadap karakter si anak ke depannya,” ujar seorang guru lain yang tak ingin disebut namanya.

Karenanya, pihak sekolah, katanya, seharusnya segera menemukan solusi agar AAS bisa tetap bersekolah, sementara orang tua memberikan kepercayaan penuh terhadap yayasan dan bukan malah membiarkan anaknya bolos sekolah. Juga, kepada si orang tua agar dapat mendengar keluhan dari guru demi mendapat hasil yang positif.

(rls)
Tag:
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️