Berita mengejutkan di hari Rabu dini hari. Maskapai penerbangan Batavia Air berhenti beroperasi karena Perseroan dinyatakan pailit. Sekitar 3500 pegawai dan kaum profesi harus berhenti dari pekerjaan.
Cukup ironis, melihat perseroan penerbangan nasional tidak sanggup mengusung pakem sustainablity, ketika di saat yang sama kita melihat data pertumbuhan penumpang amat tinggi. Kesanggupan masyarakat menggunakan moda udara juga berkembang amat cepat. Ada semacam mismatch jika tidak hendak dikatakan paradox awam: "Kok bisa bangkrut, bukannya "market" lagi bagus-bagusnya?” Ada semacam gap bisu antara fakta kesanggupanmanajemenoperasi dan kesempatan besar yang ditawarkan oleh meningkatnya daya beli masyarakat.
Perubahan dan kesempatan pasar yang amat besardan sexy menuntut kesanggupan antisipasi manajemen dan leadership yang cakap, konsumen yang makin cerdas dan makmur, peta kompetisi global yang makin keras, menuntut pemain dalam industri penerbangan harus jeli merumuskan competitiveness yang tajam dan kinclong. Selain itu, perlu sebuah kejelian alias kesanggupan antisipatif yang visioner. Perihal kemampuan antisipasi strategis dalam menghadapi turbulensi pasar ini, bukanlah hal yang baru. Dua windu yang lalu, pakar manajemen A Slywotzky, PhD, jauh-jauh hari sudah mengingatkan pentingnya "Strategic Anticipation (1996)", jika perseroan ingin terus hidup langgeng.
Peringatan tersebut kemudian diperkuat oleh Dr. Gary Hamel. Dekade lalu, Hamel kembali mengingatkan bahwa strategi, teknik dan metode yang sebelumnya terbukti sukses mengantar perseroan terbang ke level tertentu. Tidak bisa menggaransi bahwa pakem tersebut masih jitu untuk mengantarnya ke langit yang lebih tinggi. Strategi ini sering ditelan keusangan zaman (G. Hamel, 2000, dalam Strategic Decay).
Keterlambatan antisipatif akan membawa chaos dan memaksa produsen membayar harga yang amat mahal dalam kualitas layanan. Selain itu, service provider berisiko ditinggalkan pelanggan, atau tidak sanggup meraup kesempatan bisnis, ketika gelombang rezeki tersebut hadir. Kita hanya bisa menjadi konsumen dan penonton yang hebat jika tidak antisipatif. Pertumbuhan pasar penerbangan yang eksponential menuntut keberanian untuk bertindak secara antisipatif- strategis. Misalnya, kesanggupan daya tampung dan upgrading bandara. Sebagai contoh, bandara Surabaya yang baru saja selesai diperbesar kapasitasnya. Namun, sudah terasa amat padat dan sesak. Begitu juga Bandara Soekarno-Hatta yang sudah overcapacity dan crowded . Sekalipun Terminal 4 dibangun, tapi sangat mungkin ketika baru saja akan diresmikan. Ia sudah terlampaui oleh lonjakan kebutuhan dan ekspektasi konsumen. Fenomena seperti ini akan menguras pikiran manajemen dalam urgency dan emergency jangka pendek. Bak Brigade pemadam kebakaran yang sibuk, dari satu panggilan emergency ke emergency lainnya. Akhirnya, sisa alokasi kemampuan working memory untuk memikirkan pertumbuhan strategis menjadi berkurang dan tumpul.
Begitu juga antipasti pelayanan yang terkait dengan support industri penerbangan. Misalnya, dalam hal bengkel maintainance pesawat dan fasilitas repair dan overhaul. Perseroan yang terkait dengan penerbangan seperti support industri perlu merumuskan blue print untuk antisipasi lonjakan kebutuhan ini, bila ingin menjadi pemain utama yang siap dan sigap. Antisipasi strategis inilah yang terlihat ketika GMF Aero Asia melakukan ground breaking perluasan hangar ke-4, yang memiliki kapasitas muat 16 pesawat, dan menguras kocek Rp 500 milliar.
Dalam bincang –bincang lunch dengan CEO GMF AeroAsia Richard Budihadianto, saya senang mendengar CEO ini mengatakan jika hangar baru tidak dibangun, potensi pendapatan yang cukup besar tidak dapat direalisasikan, dan peluang pasar yang terus berkembang tidak dapat diserap secara maksimal. Inilah salah satu view strategis leadership. Sebuah keberanian investment, yang akan berbuah manis dalam long term persepective, meskipun keputusan seperti itu bisa tidak terlihat cantik dalam persektif jangka pendek, dalam kacamata Price Earning Ratio.
Kemampuan antisipatif strategis mencegah organisasi jatuh dalam khasanah kelabakan, emergency dan urgency. Ia memungkinkan organisasi tetap terbang tinggi dan sustained terhadap turbulensi.