Pagelaran Seni Budaya Daerah (PSBD) ke-V Kabupaten Asahan hari ke-11 acara di Pentas Utama diisi oleh Etnis Karo Asahan dengan bermacam pagelaran seni budaya dan hiburan yang didatangkan dari Tanah Karo.
Acara yang digelar di Jl. Taufan Gama Kisaran ini dimeriahkan oleh artis-artis Plato Ginting, Duo Bortanggenk, Jacky Raju Sembiring (Indonesia Got Talent 2023), Rudang Mayang Etnik, Tarian Lima Serangkai, Tarian Landek Sada Tan, Tarian Kreasi, Sulap Karo Mpuh Sembiring, Tarian Gundala-Gundala, dan turut dihadiri oleh Bupati Kabupaten Karo Cory Sriwaty Br Sebayang yang sengaja datang dari Kabanjahe dengan membawa rombongan OPD Kabupaten Karo pada Selasa (01/08/2023) ke Kota Kisaran.
Acara diawali dengan persembahan hiburan lagu-lagu Karo oleh artis dan tarian-tarian pemberian cindera mata berupa "Bulang-Bulang" dan "Uis Kadang-Kadangen" kepada Bupati Asahan, Wakil Bupati, Kapolres Asahan serta pemberian "Uis Nipes" dan Plakat kepada Bupati Karo dan "Uis Nipes" kepada Kajari Kota Tanjung Balai.
Dalam acara persembahan budaya Etnis Karo, Bupati Asahan dan Bupati Karo didampingi Wakil Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin, Kapolres Asahan AKBP Rocky Hasuhunan, Ketua FORKALA Asahan, Ketua PK PKK Kabupaten Asahan, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Tanjung Balai Rufina Br Ginting, perwakilan Etnis se-Asahan serta tamu undangan lainnya didaulat menari bersama Panitia dan Ketua Merga-Merga dari silima merga.
Ketua Panitia etnis Karo Asahan 2023, Agus Jaka Putra Ginting yang juga merupakan Kadis PUPR Kabupaten Asahan dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Asahan yang sudah memberikan panggung kepada etnis Karo pada malam hari ini.
Agus Jaka juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Bupati Karo Cory Sriwaty Sebayang beserta rombongan yang telah memenuhi undangan Panitia PSBD Etnis Karo Kabupaten Asahan 2023 untuk dapat hadir pada pagelaran seni budaya Karo ini.
Acara dilanjutkan dengan tarian Gundala-Gundala yang menceritakan legenda seorang raja bernama Sibayak dan putrinya "Legenda Gurda-Gurdi".
Tarian ini lahir dari sebuah legenda di Tanah Karo pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja bernama Sibayak. Suatu hari Raja bertemu seekor burung raksasa bernama Gurda-Gurdi dimana burung tersebut merupakan jelmaan dari petapa sakti. Lalu Raja Sibayak membawa pulang Gurda-Gurdi dan menjadikannya sebagai penjaga putrinya.
Kekuatan Gurda-Gurdi terletak pada paruhnya, oleh sebab itu ada larangan yang menyatakan bahwa paruhnya tidak boleh disentuh oleh siapapun. Suatu ketika paruhnya tersentuh oleh sang putri. Gurda-Gurdi pun menjadi marah dan meronta. Melihat kejadian itu, Raja Sibayak mengutus pasukannya untuk menyerang Gurda-Gurdi hingga akhirnya Gurda-Gurdi itu pun meninggal.
Hal ini membuat masyarakat Karo bersedih dan merasa kehilangan sosok Gurda-Gurdi, karena sesungguhnya ini semua terjadi hanya karena kesalahpahaman saja. Masyarakat menangis hingga turun hujan seolah menandakan bahwa langit pun ikut berduka atas kepergian Gurda-Gurdi. Sejak itulah lahir tarian Gundala-Gundala ini, mengisahkan hidup Gurda-Gurdi sekaligus menjadi tarian pemanggil hujan. Demikian kisah Tarian Gundala-Gundala.
"Dalam sambutannya, Bupati Karo Cory Sriwaty Sebayang berpesan kepada masyarakat Karo di Kabupaten Asahan agar tetap melestarikan adat dan budaya Karo, kemudian dukung program Pemerintah Kabupaten Asahan serta hidup rukun antar seluruh etnis yang ada."
Bupati Karo juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemkab Asahan yang telah memberikan lahan dan membantu pembangunan Jambur Merga Silima di Kabupaten Asahan. Ini merupakan kebanggaan masyarakat Karo Asahan dan semua Suku Karo yang ada di Tanah Karo, bahkan dimanapun mereka berada, jelas Cory.
"Selain itu, Bupati Karo berpesan kepada Bupati Asahan mohon agar dapat diperhatikan etnis Karo yang menjabat di pemerintahan khususnya Pemkab Asahan agar etnis Karo dapat bekerja dan membangun Asahan secara bersama-sama, jelas Cory.
Bupati Asahan H Surya, B.Sc dalam pidatonya, mengucapkan terima kasih kepada panitia penyelenggara Pagelaran Seni Budaya Etnis Karo, sehingga kegiatan ini bisa terselenggara dengan baik sampai saat ini.
Bupati Asahan juga berharap kepada semua etnis yang berjumlah 14 etnis dan khususnya etnis Karo Asahan, untuk selalu menjaga kerukunan dan persaudaraan. "Ini masih ada enam etnis yang belum kebagian lahan untuk membangun rumah adatnya dan ke depan sudah diprogramkan oleh Pemkab Asahan untuk setiap etnis akan mempunyai tempat tersendiri untuk bangun rumah adatnya," jelas Surya.
Surya menambahkan, setelah acara PSBD ini selesai, Pemkab Asahan akan menyerahkan lahan kepada enam etnis sebidang tanah untuk dibangun rumah adat masing-masing sehingga seluruh etnis sudah mendapatkan tempat.