PPS (13), diduga mendapat perbuatan perundungan atau bully antarsiswa yang terjadi di lingkungan sekolah SMP Negeri 4 Sibolga, pada Senin (11/7/2022) kemarin. Akibat kejadian itu, siswa yang mengenyam pendidikan di bangku Kelas VII, SMP Negeri 4 Sibolga, trauma untuk masuk bersekolah.
Hal itu dapat tanggapan serius dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Aktivis HMI Sibolga dan Tapteng yang diketahui bernama lengkap Raju Firmanda Hutagalung, menyesalkan kejadian pengeroyokan pada PPS siswa SMP Negeri 4 Kota Sibolga oleh kakak kelasnya. Ungkapan itu di sampaikan Raju kepada Utamanews.com, Jumat (15/7/2022).
"Kekerasan yang masih terjadi di lingkungan sekolah biasanya karena banyak faktor, salah satunya adalah sistem pencegahan, kontrol dan pengaduan yang lemah atau malah tidak ada," tutur Raju.
Padahal, lanjut Raju, sudah ada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan atau Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulangan Kekerasan di lingkungan satuan Pendidikan.
"Dalam Permendikbud No 82 Tahun 2015 ini, jadi salah satu regulasi yang dikeluarkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Dan tentang pencegahan penanggulangan tindak kekerasan. Permendikbud yang bagus ini, aturannya kerap tidak diimplementasikan oleh sekolah," ujar Mantan Presiden Mahasiswa STIT-Muhammadiyah Sibolga.
Masih kata Raju, dalam sistem pencegahan seharusnya sekolah membentuk tim satgas anti kekerasan, faktanya banyak sekolah tidak melakukan ini.
Sambungnya, pencegahan juga bisa dilakukan dengan menggunakan kamera pengawas atau CCTV di lokasi-lokasi rawan terjadi kekerasan.
"Jika belum ada system pencegahan dan pengaduan, maka pihak sekolah wajib dievaluasi agar ada perbaikan system. Dan menurut saya, atas peristiwa yang terjadi di SMP Negeri 4 Kota Sibolga itu, Kepala Sekolahnya Layak untuk dievaluasi apa bila perlu dicopot jika memang tidak perduli terhadap kenyamanan dan ketentraman anak-anak di sekolah," tegas aktivis HMI Sibolga - Tapteng ini.
Raju juga berpesan agar Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Sibolga, menjadikan pengeroyokan di SMP tersebut menjadi atensi agar dapat diselesaikan dan tidak terulang di dunia pendidikan di Kota Sibolga.
"Kita bermohon kepada Dinas Pendidikan Kota Sibolga, agar peristiwa ini menjadi atensi agar dapat diselesaikan dan tidak terulang di Dunia Pendidikan Kota Sibolga," ungkap Raju Firmanda Hutagalung.
Sebelumnya, Guru Bidang Kesiswaan SMP Negeri 4 Sibolga, Rita Megawati Pardosi, yang diminta konfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan, pihaknya hingga kini masih menunggu kesediaan orangtua siswa pelaku pengeroyokan untuk memenuhi surat panggilan dari sekolah.
"Intinya, persoalan kasus pengeroyokan siswa di lingkungan sekolah, itu bukan tidak kami selesaikan, kami selesaikan. Tapi, orangtua siswa yang melakukan pemukulan itu tidak datang memenuhi surat panggilan dari pihak sekolah, sampai sekarang. Bagaimana kami mau melanjutkan untuk penyelesaian (perkara)- nya. Dan, siswa pelaku pengeroyokan itu pun sampai sekarang tidak muncul ke sekolah. Dan surat panggilan yang kedua akan dikirim," kata Rita, di ruang guru, meski sempat menolak memberikan keterangan kepada sejumlah awak media.
Ketika ditanya, apakah pihak sekolah melakukan pendekatan terhadap siswa korban perundungan, dan mendatangi langsung keluarga pelaku perundungan, pihak sekolah mengaku belum ada waktu
"Kejadiankan masih baru Seninnya, kejadian, jadi kami belum ada mendatangi korban. untuk pelaku pun kami mengirim surat saja, karen itu sesuai prosedur sekolah," tandas seorang guru yang mengaku wakil kepala sekolah.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Sibolga, belum dapat dikonfirmasi.