Walau pengangkatan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtasari, Ashari ST, sebelumnya sempat menuai kontroversi, namun hal itu ditunjukkan dengan kinerja yang nyata selama 100 hari kerjanya.
Perusahaan plat merah dibawah kepemimpinan Ashari ST, akhirnya mulai bangkit dan berubah dengan membeli pompa intake yang pertama kali selama kurun waktu 24 tahun terakhir ini.
Pun begitu diakui Ashari, mesin yang sebelumnya masih bisa dioperasikan. "Dengan mesin yang ada sekarang perlu peremajaan. Tujuannya
untuk efesiensi biaya listrik dan efesiensi biaya perbaikan karena sering rusak atau terbakar dinamonya," ungkap Ashari saat dikonfirnasi awak media, Jumat (17/5).
Disinggung bagaimana kondisi mesin produksi hingga saat ini, pria yang akrab dengan awak media ini pun mengatakan jika mesin yang lama masih dalam keadaan sehat.
"Kondisinya sekitar 60 persen. Bisa terbilang masih sehat. Kalau dinilai secara keseluruhan mekanikal dan elektrikalnya kondisinya berkisar 60-65 persen menurut penilaian saya," tuturnya.
Sebagai Direktur PDAM Tirtasari, Ashari juga berharap kepada masyarakat untuk bersama sama membantu dirinya dalam memperbaiki PDAM Tirtasari guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
"Mari sama sama kita perbaiki PDAM Binjai. Indikasi pelayanan menjadi baik ada di pelanggannya. Kita akui banyak faktor BUMD di Indonesia ini sulit berkembang terutama PDAM. Bukan hanya masalah internal, tapi external juga berpengaruh besar," ungkapnya.
Disoal maraknya isu yang berkembang terkait banyaknya tenaga honorer di PDAM Tirtasari Binjai sehingga membebani perusahan berplat merah itu, Ashari pun menampik hal itu.
"Untuk pegawai tidak ada nambah. Sedangkan tenaga honorer dari dulu cuma 2 orang," demikian tutup Ashari diakhir ucapannya.