Kamis, 21 Mei 2026
Ini Inti Persoalan Ektensifikasi dan Layanan Olah Lahan Pertanian Di Taput
Tarutung (utamanews.com)
Oleh: W. Simanungkalit Jumat, 18 Sep 2020 12:48
Ini Inti Persoalan Ektensifikasi dan Layanan Olah Lahan Pertanian Di Taput
Pengembangan dan peningkatan suatu daerah, ditinjau dari pengelolaan potensi-potensi yang ada di daerah tersebut. Fokus dan intensive pada usaha yang dapat dilakukan, sehingga mampu menjamin kualitas dan kwantitas produk atau komuditi yang ada. Peran sumber daya manusia (SDM) sangat dibutuhkan untuk keseragaman pola pikir dan tujuan yang diharapkan. Berkembang dan meningkat dengan sendirinya, ketika hal kesadaran mendapatkan persamaan tujuan untuk melindungi hak dan kewajiban di suatu daerah tersebut.

Daerah Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara, yang mayoritas masyarakat bekerja pada lahan pertaniannya. Hampir 80 persen masyarakatnya yang bertani, rata-rata memiliki sedikitnya lahan setengah hektare. Sehingga dari potensi kemauan masyarakat dan lahan pertanian yang ada, sudah menunjang daerah ini untuk mensuplai daerah lain dari produk komuditi pertaniannya.
Masyarakat petani, dari pantauan UTAMANEWS, kini merasa diresahkan dalam pengelolaan lahan pertanian yang akan dikelolanya. Sehingga antrian panjang untuk usulan pengelolaan lahan ke dinas pertanian sangat membosankan mereka. Dan juga, ada lahan yang pernah dikelola oleh alat berat berupa traktor ditelantarkan, disebabkan kayu dan tungkul batang bekas penebangan. 

Ketika hal ini dipertanyakan UTAMANEWS pada Jumat (18/09) kepada dinas terkait, Revansius Nababan Kepala Bidang Sarpras (Sarana dan prasarana) Pertanian menjawab, "Kita siap membantu masyarakat yang bersungguh mau bekerja dengan baik untuk peningkatan lahan pertanian di daerah Taput. Keseriusan kita ini sudah berbuah dengan adanya semangat masyarakat yang selalu datang mendaftarkan untuk pengelolaan lahannya."

"Inilah yang menjadi kendala kita, selain daftar tunggu yang menumpuk dan dengan keterbatasan alat berat, juga Traktor kita tidak mampu mengelola lahan yang di dalamnya masih ada kayu dan tungkul kayu di lahan tersebut. Resiko yang selalu terbebani operator, ketika mata bajaknya rusak. Sehingga target kerja tidak tampak dan pekerjaan sering sia-sia karena sering mencoba mengelola lahan pertanian masyarakat", jelas Kabid yang dikenal Revan selama ini.

Apa yang menjadi kendala sebenarnya?
Revan menerangkan, "Alat Traktor tidak mampu memaksa untuk kayu dengan diameter di atas 5 Centi meter. Karena jika lebih dari diameter tersebut, sungguh menjadi resiko alat berat kita. Sebenarnya alat berat lainnya yang menunjang untuk membantu traktor sangat kita butuhkan untuk menjawab pelayanan kita kepada masyarakat pemohon."

"Kemaksimalan pelayanan kita, tergantung pada kemampuan alat yang tersedia. Padahal jika lahan masyarakat yang tidak mampu kita kelola sudah pasti mereka merasa tidak dilayani", terangnya
produk kecantikan untuk pria wanita

"Dari sisi estetika lahan pertanian, kita mampu mengelolanya untuk keindahan dan rasa nyaman di lahan tersebut. Peran konsultan pertanian yang kita perankan di masyarakat sering membentur kepada kekurangan fasilitas alat pertanian kita", ungkapnya

Sangat diperlukan perhatian di dalam menanggulangi dan memikirkan kebutuhan masyarakat tani di Taput di dalam kendala olah lahan ini. Dan, Penulis mengharapkan aksi cepat kepada semua pihak yang berkompeten untuk ikut memperhatikannya. 

Di tempat lain, UTAMANEWS meminta tanggapan Ketua DPRD Taput Ir. Poltak Pakpahan untuk ikut campur tangan dalam persoalan ini. "Sebenarnya, alat kita ini tidak mampu untuk mengelola lahan yang di dalamnya ada kayu ataupun tungkul kayu. Sehingga kita membutuhkan alat lainnya berupa beko sebagai pemotong kayu dan dozzer sebagai pendorong limbah kayu tersebut. Sehingga kemaksimalan pelayanan dan perawatan alat kita dapat diupayakan", ujar ketua DPRD Taput.
busana muslimah
Kontak   Disclaimer   Karir   Iklan   Tentang Kami   Pedoman Media Siber

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

gopay later