Gerakan Literasi Terbit Ajak Netizen Dukung Hasil Pemilu Yang Konstitusional dan Perangi Hoax Untuk Berlanjutnya Kepemimpinan Nasional
JAKARTA (utamanews.com)
Oleh: Iman
Rabu, 24 Apr 2019 15:54
Iman
Peserta Gerakan Literasi Terbit Ajak Netizen Dukung Hasil Pemilu Yang Konstitusional
Sebagai wujud kepedulian terhadap perkembangan politik nasional pascapelaksanaan Pemilu 2019, Komunitas Gerakan Literasi Terbit (GESIT) menggelar diskusi bagi Warganet di Ballrom Hotel Mega Menteng, Jalan RP Soeroso No 28, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (24/4/2019).
Mengusung tajuk "Pemilu Sudah Selesai, Saatnya Bersatu Dukung Hasil Pemilu Demi Berlanjutnya Kepemimpinan Nasional dan Suksesnya Pembangunan Indonesia", kegiatan ini diikuti oleh sejumlah kalangan jurnalis, aktivis pers kampus serta Netizen seperti bloger, vloger, youtuber, serta content creator lainnya.
Koordinator GESIT Jakarta yang juga sebagai narasumber Agus Hudori, mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai reaksi atas tersebarnya beragam berita hoaks di media sosial pasca Pemilu 2019 pada Rabu, 17 April 2019.
Berita hoaks yang disebar secara masif tersebut, menurutnya, banyak mengandung konten negatif terkait proses perhitungan suara maupun hasil Quick Count yang dianggap memiliki banyak kejanggalan oleh para tokoh dan pendukung salah satu paslon.
"Meskipun KPU sudah menghimbau untuk menunggu hasil resmi penghitungan KPU dan KPU serta Bawaslu sudah mengerahkan segala daya dan upaya untuk melakukan pekerjaannya secara profesional, namun para penyebar berita hoaks tersebut selalu punya cara untuk mendelegitimasi wewenang dan tanggung jawab kedua lembaga tersebut," ujar Agus Hudori saat ditemui usai acara, Rabu (24/4/2019).
Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial yang aktif, generasi muda dan warganet diharapkan menjadi penyaring utama dalam upaya meredam penyebaran berita hoaks dan tetap berpegang pada landasan konstitusional serta lembaga yang memiliki kewenangan secara legitimate.
Generasi muda dan para warganet juga harus mampu mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh konten negatif dan berita hoaks yang disebarkan melalui media sosial.
Senada dengan Agus, Hafyz Marshal Pimpinan Redaksi KataIndonesia.com, meminta kepada pihak-pihak yang turut berkompetisi di Pemilu dan Pilpres 2019, bisa legowo dengan hasil real count di KPU yang akan ditetapkan pada bulan Mei mendatang.
"Saya harap melalui kegiatan diskusi ini, para generasi milenial, khususnya warganet yang terhimpun pada GESIT dan FPMSI serta komunitas-komunitas lainnya agar mampu menjaga kondusifitas selama proses perhitungan suara, baik di lini media publik maupun di masyarakat sampai dengan keluarnya hasil resmi penetapan perhitungan suara dari KPU nanti. Selain itu para peserta pemilu 2019 juga, harus siap menang dan siap kalah, menghadapi kenyataan dalam rangka menghadirkan sebuah kompetisi yang sehat di Indonesia, dan tidak menebar narasi- narasi yang provokatif yang membahayakan persatuan bangsa", ucap Hafyz.
Hal senada juga disebutkan oleh Founder Kompasiana Pepi Nugraha.
Menurutnya, perkembangan penyebaran berita hoaks pasca Pemilu 2019, sangat memprihatinkan bahkan cenderung mengerikan. Hal ini terkolerasi dengan narasi- narasi prapencoblosan saat kampanye.
Perang narasi yang dilakukan oleh penyebar hoaks, kata Pepi, sudah tidak bisa lagi dipahami oleh nalar manusia pada umumnya. Sehingga berbagai upaya kejahatan terus dilakukan hanya demi menguntungkan salah satu pihak calon peserta pemilu 2019.
"Berita hoax yang menyebar di media sosial pascapencoblosan suara, memiliki narasi yang lebih mengerikan dibandingkan prapencoblosan suara. Maka, bangsa Indonesia saat ini sedang dipaksa untuk berpikir di luar nalar manusia pada umumnya, melalui berbagai klaim hasil perhitungan suara, meskipun belum diputuskan secara resmi oleh penyelenggara pemilihan umum. Harusnya semua pihak tetap menjaga situasi dan berpegang dengan hasil resmi nantinya, bukan malah memprovokasi dan mengklaim menang di luar nalar karena sesungguhnya hasil Quick Count yang dilakukan lembaga- lembaga survey krideble dapat dipertanggungjawabkan karena menggunakan rumus ilmiah yang teruji", ujar Pepih pada diskusi tersebut.
"Jadi kalau ada pihak yang tidak setuju dengan metode penghitungan berdasarkan ilmu matematika, maka harus membuktikan dengan metode yang lebih baik dan bersedia untuk diuji. Jadi kalau ada orang yang lebih senang menyebarkan berita hoaks tentang perhitungan suara di KPU, ketimbang menyampaikan fakta berdasarkan metode perhitungan yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan, maka nalar orang tersebut patut dipertanyakan", katanya.
Dalam acara diskusi tersebut juga dilakukan pembacaan dan penandatanganan Deklarasi Gerakan Literasi Terbit "Merajut Persatuan Dan Dukung Hasil Pemilu Secara Konstitusional Tanpa Hoax Demi Berlanjutnya Kepemimpinan Nasional dan Suksesnya Pembangunan Indonesia".