Generasi Muda Masjid Sumut (GMM) Tanggapi Sikap Curiga Pada Penyelenggara Pemilu
MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Harry/Sam
Rabu, 08 Mei 2019 20:08
Syekh Haji Al-Syarwani Tuan Guru Besilam bersama Ustaz Masdar Tambusai S.Ag.
Masyarakat harus memberi kepercayaan penuh kepada KPU seiring selesainya Pilpres dan Pileg 2019.Demikian ditegaskan oleh Ketua Generasi Muda Masjid (GMM) Sumatera Utara, Ustaz Masdar Tambusai S. Ag., menanggapi masih adanya sikap curiga masyarakat terhadap Penyelenggara Pemilu.
"Kalau tidak KPU, siapa lagi rupanya yang kita percayai sebagai penyelenggara. Jangan masing-masing ngotot menyatakan c1-nya yang paling benar. Tidak bisa lah begitu. Kita harus legowo menerima hasil dari keputusan KPU", tuturnya di Medan, Rabu (8/5/2019).
"Kedua, pascapenetapan ini, ya bersatulah lagi, kemenangan ini adalah kemenangan kita. Siapa pun pemenang ini adalah kemenangan bangsa Indonesia. Kembalilah ke tugas masing-masing, yang PNS jadilah PNS dengan sungguh-sungguh, yang guru bekerjalah mendidik anak bangsa dengan sungguh-sungguh. Kita ademkanlah. Apalagi di bulan Ramadhan, menahan nafsu dari amarah, dari curiga. Di zaman Rasul ada 'perang badar', tapi ada perang lain yang lebih hebat, apa itu? Memerangi hawa nafsu. Jangan hawa nafsu ingin menang yang menguasai. Kita tahan. Hawa nafsu ingin memberontak, ingin merusuh. Jangan. Kita tahan", kata Ustaz Masdar.
Tokoh masyarakat kota Medan ini berharap tidak ada lagi provokasi yang negatif terhadap KPU, Bawaslu dan TNI-Polri. "Harus kita apresiasi yang sudah dilakukan oleh KPU saat ini, yang telah susah payah bekerja untuk demokrasi. Mereka selalu dicurigai, padahal ia bekerja sesuai dengan undang-undang", tambahnya.
"Satu yang saya sayangkan, kadang-kadang pemimpin kita ini tidak memberi contoh yang baik. Pejabat-pejabat kita kadang memprovokasi. Gak ada yang menyejukkan. Kalau kita sebagai orang tua, tokoh panutan, harus mengasih contoh pada kami ini. Jangan memprovokasi. Mahal sekali, mahal sekali yang kita bayar kalau sampai terjadi perpecahan negara kita hanya karena kepentingan kelompok. Jadi Masyarakat kota Medan kita harapkan 'Bersatulah lagi'. Tinggalkan itu sikap tidak percaya. Inikan politik, politik itu dinamis, tidak ada yang abadi, selain kepentingan. Jadi yang 'bawah-bawah' ini jangan pula sampai berlarut-larut. Jangan tidak bisa menerima perbedaan, perbedaan itu adalah anugerah. Sama seperti kita menerima perbedaan jari di tangan kita ini, ada jempol, telunjuk, kelingking dan lainnya. Tangan kita sempurna karena jari-jari kita berbeda, coba kalau jempol semua, cacat tangan kita. Tidak sempurna. Makanya perbedaan itu indah, jadi kita terima siapa pun pemenangnya dengan ikhlas sesuai undang-undang, jangan menurut kita, menurut kelompok kita," tukasnya.
"Jadi stop saling menghujat, saling memfitnah, mari kita bersatu kembali dan masing-masing bekerja dengan baik dan saling menjaga persatuan dan kesatuan, tidak terpancing oleh orang-orang luar jadi enak memangsa kita, karena kita yang nampaknya memang mau dilaga. Kalau gak menerima ya ke MK (Mahkamah Konstitusi) kan sudah ada aturannya. Seandainya ada salah satu kelompok yang tidak terima ya ke MK. Dan sesudah putus di MK jangan dicurigai lagi. Apa pun putusan MK itulah yang harus kita terima", pungkasnya.