Sejumlah pihak menyayangkan peristiwa pengrusakan dan pembakaran gereja di Aceh Singkil, kemarin, 13 Oktober 2015. Diantaranya adalah ASB singkatan dari Aliansi Sumut Bersatu, organisasi non pemerintah di Medan, yang mengusung semboyan "bersama dalam keberagaman".Melalui sambungan telepon, Wira Padang, aktifis pluralisme dari ASB, menegaskan bahwa ASB menyampaikan duka yang mendalam atas terjadinya peristiwa penyerangan terhadap gereja-gereja dan perkampungan masyarakat Kristen di kabupaten Aceh Singkil kemarin.
“Kami mendesak pemerintah dan aparat keamanan di Aceh Singkil memberikan perlindungan terhadap masyarakat, khususnya umat Kristen dan Islam di desa-desa tujuan penyerangan tersebut, serta melakukan penyelidikan untuk mengungkap aktor dan pelaku penyerangan,” ujarnya siang tadi, Rabu (12/10).
Ditambahkannya bahwa ASB mendukung dan menyerahkan setiap upaya-upaya menjaga dan memulihkan keadaan di Aceh Singkil kepada pemerintah dan aparat keamanan, disertai dengan dukungan dari setiap elemen organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi pemuda dan pers. “Sehingga kondisi aman dapat dirajut kembali,” tambahnya.
Menurut Wira, kronologis peristiwa penyerangan mayoritas terhadap minoritas ini bermula dari aksi demo pada Selasa, 6 Oktober 2015, oleh Aliansi Pemuda Peduli Islam yang menuntut Bupati Aceh Singkil atau Pemkab Aceh Singkil untuk menutup dan membongkar gereja yang tidak sesuai dengan kesepakatan tahun 1979, yang hanya memperbolehkan 1 gereja dan 4 undung-undung (ungkapan masyarakat setempat untuk tempat ibadah yang levelnya di bawah gereja-red) di Aceh Singkil.
“Jika pemerintah dalam kurun waktu 1 minggu setelah dilaksanakannya demo, menghiraukan tuntutan dan tidak membongkar gereja, maka Aliansi Pemuda Peduli Islam akan melakukan pembongkaran, tegas mereka waktu itu,” ujar Wira.
Merespon tuntutan tersebut, tambahnya, pada 8 Oktober 2015, Pemkab Aceh Singkil melakukan rapat bersama Muspida, SKPD Aceh Singkil, FKUB, dan MPU membahas tentang perjanjian tahun 1979 dan tahun 2001, dan rapat meminta pihak gereja konsisten pada 2 perjanjian tersebut.
“Kemudian, tepat seminggu kemudian, terjadilah aksi ratusan pemuda yang dikomando Aliansi Pemuda Peduli Islam tersebut. Mereka melakukan penyerangan dan pembakaran terhadap 2 gereja, yakni Huria Kristen Indonesia (HKI) Gunung Meriah dan Gereja Katolik di desa Gunung Meriah. Dari sana, massa kemudian melanjutkan penyerangan ke desa Dangguren dengan tujuan ingin melakukan pembakaran Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), dimana pada saat penyerangan ini timbul korban jiwa satu orang meninggal dunia,” tambahnya lagi.
Dalam kesempatan ini, ASB juga mengapresiasi respon cepat Pemkab Tapanuli Tengah dan Pemkab Pakpak Bharat yang menerima dan memberikan makanan serta layanan kesehatan kepada masyarakat Aceh Singkil yang mengungsi di wilayahnya.
Menurut Wira, saat ini, sekitar 2.000 warga mengungsi di desa Seragih, kecamatan Manduamas, kabupaten Tapanuli Tengah dan 1.000 warga mengungsi di kecamatan Sibagindar, kabupaten Pakpak Bharat. Sementara ribuan lainnya terisolir di wilayah Aceh Singkil karena jalur keluar masuk telah diblokade dan ada sweeping dari Aliansi Pemuda Peduli Islam.