Praktik kerja lapangan (PKL) adalah bentuk pelatihan pendidikan kejuruan yang dilakukan mahasiswa dengan bekerja secara langsung di lapangan usaha yang relevan dengan kompetensi pendidikannya. PKL dilakukan secara sistematik dan terarah serta didampingi oleh supervisi yang berkompeten. Dengan melakukan PKL, mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari hingga bisa mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu, baik dalam segi pengetahuan, keterampilan, maupun etos kerja. Dengan begitu, mahasiswa akan memiliki modal keahlian profesional sebelum ia lulus dari pendidikan dan dapat bekerja dengan baik di dunia pekerjaan.
PKL ini dilakukan oleh Prima Sihombing selaku mahasiswa Kesejahteraan FISIP USU dengan NIM 200902068, guna memenuhi mata kuliah PKL1 di semester 6 dengan supervisi Ibu Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. PKL dilaksanakan bersamaan dengan program Kampus Mengajar Mitra USU di UPT SDN 060886 Rebab dengan alamat Jl. Rebab, No. 99, Pasar II, Titi Rantai, Medan Baru, Kota Medan. Dan guru pamong sekolah untuk mahasiswa adalah Ibu Anda Yani Saputri, S.Pd. Program yang dilakukan dalam PKL ini adalah "Pengenalan Profil Pelajar Pancasila" dengan fokus pada siswa kelas 5.
Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab pertanyaan yang selalu berulang di masyarakat luas Indonesia, yaitu "Pelajar seperti apa yang diinginkan oleh sistem pendidikan Indonesia?" dan pemerintah menjawab dengan keberadaan Profil Pelajar Pancasila, yaitu "Pelajar sepanjang hayat yang berkompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai Pancasila". Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk membentuk siswa yang unggul. Unggul artinya siswa Indonesia mampu bersaing dengan siswa dari luar negeri dalam hal pengetahuan, namun tetap memiliki karakter Pancasila dalam dirinya.
Untuk membentuk manusia unggul itu, ada 6 dimensi yang dirumuskan sebagai dimensi kunci dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu:
- Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia;
- Berkebhinekaan Global;
- Gotong Royong;
- Mandiri;
- Bernalar Kritis; dan
- Kreatif.
Keenam dimensi ini dirancang dengan harapan bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif siswa, tetapi juga berfokus pada sikap dan perilaku siswa yang sesuai dengan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia dan warga dunia.
Dalam melaksanakan program pengenalan Profil Pelajar Pancasila kepada siswa kelas 5, saya mengkolaborasikannya dengan metode pekerjaan sosial dan menggunakan metode intervensi Groupwork. Ada beberapa tahap dalam pelaksanaannya, antara lain:
Dalam tahap ini, saya melakukan tahap pengenalan terhadap wali kelas dan siswa kelas 5. Pada perkenalan dengan wali kelas, awalnya saya memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan kedatangan, dan apa program yang akan saya bawakan di kelasnya. Untuk perkenalan kepada siswa, saya memulainya dengan mengajar mereka di kelas ketika guru sedang berhalangan, melakukan beberapa permainan menarik ketika sedang mengajar, dan intens melakukan interaksi kecil dengan siswa seperti saling tukar senyum, salim ketika datang dan pulang sekolah, dan berkumpul bersama ketika jam istirahat.
Ketika berinteraksi dengan siswa, saya selalu berusaha melakukan observasi mengenai pengetahuan dan cara mereka berperilaku. Dari aspek pengetahuan, saya menemukan bahwa siswa cenderung lambat untuk memahami sesuatu, kurang antusias ketika belajar, dan cenderung cepat puas ketika mengetahui sesuatu sehingga hanya sedikit yang mau belajar lagi tentang hal baru. Sedangkan untuk aspek karakter, siswa memiliki sifat yang cukup baik dan bisa menghargai sesama, namun siswa memiliki masalah dalam hal kesopanan, misalnya kurang mendengarkan arahan yang diberikan oleh guru, berjalan-jalan di dalam kelas, keluar masuk kelas tanpa permisi, dan suka mengangkat kaki ke atas kursi atau meja.
b. Potensi Sekolah dan Siswa Kelas 5.
Ketika melaksanakan program, saya berencana akan menggunakan peralatan yang disediakan sekolah, seperti laptop sekolah, infocus, speaker, dan alat peraga olahraga seperti kerucut, matras, dan congklak. Karena siswa kelas 5 memiliki jumlah yang banyak, walau tidak semuanya hadir, saya berencana untuk mengadakan pembelajaran melalui kelompok dan lomba.
Setelah melakukan engagement dan asesmen, saya mulai menyusun rencana kegiatan yang akan dibawakan saat di kelas. Ketika menyusun rencana kegiatan, perlu kehati-hatian karena harus memperhitungkan segala aspek yang ada, sehingga tahap ini membutuhkan waktu yang cukup lama karena banyaknya perbaikan dan perubahan yang saya lakukan.
Dalam jangka waktu 4 bulan ketika melakukan program Kampus Mengajar di UPT SDN 060886, penelitian program PKL Profil Pelajar Pancasila ini saya jalankan selama 5 minggu, terhitung sejak 1 Mei s/d 3 Juni 2023. Saat mengajarkan materi, saya berencana menggunakan slide ppt sebagai media ajar agar dapat menampilkan visual yang berkaitan dengan Profil Pelajar Pancasila, serta akan dilakukan ice breaking yang berisi 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila. Untuk program lomba kelompok, akan diadakan lomba sederhana yang berhubungan dengan 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila.
Dalam 1 minggu, guru hanya memberi 1 kali kesempatan mengajar Profil Pelajar Pancasila, sehingga saya merancang di setiap pembelajaran ada 2 dimensi yang akan dibahas setiap pertemuan dengan siswa. Pertemuan pertama adalah pengenalan secara menyeluruh tentang Profil Pelajar Pancasila, pertemuan 2, 3, dan 4 diisi dengan pembahasan 2 dimensi Profil Pelajar Pancasila. Lalu di pertemuan ke-5, adalah akhir dari pembelajaran Profil Pelajar Pancasila dengan siswa. Namun, observasi dampak dari pembelajaran tetap berlangsung hingga 21 Juni, di mana saya selesai melakukan program Kampus Mengajar Mitra USU di sekolah tersebut.
Saat menjalankan program, saya memulainya dengan mengajarkan Profil Pelajar Pancasila kepada siswa. Sebenarnya, siswa telah mengenal Profil Pelajar Pancasila, namun hanya sebatas lagu ketika senam saja. Sehingga saya memutuskan untuk memberi mereka penjelasan mengenai arti, tujuan, manfaat, dan program-program yang akan dilakukan ke depannya. Saat menjelaskan ini, saya menggunakan slide ppt sebagai media ajar dan menampilkannya menggunakan alat infocus sehingga ada tampilan visual seperti gambar dan video ketika saya menjelaskan tentang Profil Pelajar Pancasila. Dengan begitu, siswa dapat memahami lebih jelas tentang Profil Pelajar Pancasila.
Setelah penjelasan materi dan sebelum lomba dimensi berlangsung, dilakukan ice breaking yang berisi 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila. Ice breaking dilakukan dengan cara siswa bernyanyi sambil bergerak di tempat mereka masing-masing. Ini bertujuan untuk mengubah suasana yang awalnya serius dan fokus menjadi sedikit lebih rileks bagi para siswa, namun tetap tidak keluar dari pembahasan Profil Pelajar Pancasila.
Sebelum mengakhiri pembelajaran, diadakan permainan sederhana yang berhubungan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Contohnya, lomba untuk dimensi kreatif adalah melanjutkan beberapa pola menjadi 1 gambar, dimensi bernalar kritis dengan melakukan lomba cerdas cermat sederhana tentang materi Profil Pelajar Pancasila yang dipelajari sebelumnya, atau dimensi gotong royong dengan melakukan sebuah permainan kekompakan kelompok yaitu lomba mempertahankan keseimbangan semua anggota.
Tahapan ini adalah saat di mana mahasiswa melakukan pengamatan apakah materi Profil Pelajar Pancasila memiliki dampak pada siswa, baik itu kompetensi maupun karakter mereka. Evaluasi program berlangsung selama 1 bulan 3 minggu, mulai dari program penelitian berlangsung hingga mahasiswa selesai melakukan KM Mitra USU.

Bersama Guru-guru SDN 060886 Jl. Rebab, No. 99, Pasar II, Titi Rantai, Medan Baru
Hasil yang didapatkan oleh mahasiswa adalah siswa mengetahui jika kompetensi dan karakter mereka berada di tahap kurang, namun hanya sedikit siswa yang mau memperbaiki dirinya. Contohnya, ketika saya menjelaskan dimensi berkhebinekaan global dan memaparkan nilai mereka, mereka mengakui jika mereka tidak memiliki motivasi pada belajar dan cenderung pasrah terhadap keadaan. Untuk aspek karakter, ketika saya mengajarkan tentang sopan santun dan menyinggung kebiasaan mereka yang sesuka hati ketika di kelas, mereka seakan menganggap hal itu adalah hal yang sepele. Ini membuktikan bahwa pembelajaran Profil Pelajar Pancasila yang dilakukan selama 5 minggu masih belum bisa memberi dampak terhadap kompetensi dan karakter siswa kelas 5.
Pada tahap ini, program penelitian berhenti, baik proses pengajaran maupun observasi hasilnya. Pemberhentian ini dilakukan oleh mahasiswa, siswa kelas 5, dan guru wali kelas 5.
Secara keseluruhan, program penelitian PKL ini berjalan dengan baik dan lancar, meskipun ada hambatan. Dengan diadakannya PKL ini bersamaan program Kampus Mengajar Mitra USU yang diselenggarakan oleh USU dan bekerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan Kota Medan, memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri dan potensial, serta lebih mengetahui bagaimana keadaan faktual pendidikan di Kota Medan. Mahasiswa identik dikenal sebagai agen perubahan, dan dengan adanya mahasiswa di sekolah, diharapkan dapat memberikan dampak yang positif dan membawa perubahan bagi pendidikan Indonesia.