Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Medan (UNIMED) tahun 2025 hadir di Desa Aornakan I, Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat dengan semangat membangun desa melalui ide kreatif. Kehadiran mereka disambut hangat oleh perangkat desa dan masyarakat setempat. Sejak awal, para mahasiswa menegaskan niatnya untuk tidak hanya tinggal dan belajar dari masyarakat, tetapi juga menggali potensi desa yang bisa dikembangkan demi meningkatkan kesejahteraan warga.
Sesampainya di Desa Aornakan I, mahasiswa KKN terlebih dahulu melakukan observasi dan analisis sederhana mengenai kondisi sosial, ekonomi, serta potensi alam. Dari hasil diskusi dengan Kepala Desa, Tokoh Adat, hingga Ibu-Ibu Rumah Tangga, mereka menemukan bahwa desa ini memiliki kekayaan alam berupa gadong atau yang biasa kita sebut ubi kayu yang melimpah. Sayangnya, selama ini ubi kayu hanya dikonsumsi dalam bentuk rebusan atau penganan sederhana, bahkan sebagian besar hanya dibiarkan menumpuk tanpa nilai jual berarti.
Berangkat dari temuan tersebut, mahasiswa KKN UNIMED menggagas program olah kreatif ubi kayu. Ide ini bertujuan menjadikan ubi kayu tidak hanya sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga sebagai produk kuliner inovatif yang dapat dipasarkan. “ Kami ingin desa ini menjadi contoh desa cerdas, di mana masyarakatnya mampu melihat potensi lokal dan mengolahnya dengan cara kreatif. Ubi kayu yang dulunya dianggap biasa saja, kini bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Andika Pratama, salah seorang mahasiswa KKN.
Mahasiswa UNIMED kemudian menggagas kegiatan "Masak Bareng dari Potensi Lokal Desa". Salah satu menu yang lahir dari ide tersebut adalah "Bingka Ubi", olahan khas yang terinspirasi dari resep tradisional, namun dikreasikan dengan sentuhan baru. Proses pembuatannya sederhana, namun cita rasanya gurih, manis, dan bertekstur lembut, sehingga dapat diterima semua kalangan. Bingka ubi pun menjadi simbol kreativitas desa yang berangkat dari bahan sederhana namun punya potensi besar untuk menembus pasar lokal bahkan digital.
“Dulu kami hanya rebus atau goreng ubi untuk dimakan sendiri. Sekarang kami tahu kalau ubi bisa dijadikan bingka, rasanya enak sekali, dan kalau dijual bisa menambah uang belanja. Terima kasih anak-anak mahasiswa sudah ajarkan kami,” tutur Ibu Mariana br. Manik, salah satu warga yang aktif mengikuti pelatihan.
Selain aspek ekonomi, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong royong. Dalam kegiatan masak bersama, mahasiswa dan ibu-ibu desa tampak antusias mengolah ubi kayu menjadi Bingka Ubi. Prosesnya diawali dengan menghaluskan ubi, mencampurnya dengan santan, telur, tepung, dan bahan lainnya, kemudian adonan dikukus hingga matang dengan lapisan karamel yang manis di bagian atas. Aroma harum dan tekstur lembut dari bingka membuat hasil olahan ini langsung disukai warga yang hadir.
Dokumentasi Hasil Masak Bareng Bersama Ibu-Ibu Desa Aornakan I
Hal ini menciptakan suasana harmonis antara mahasiswa dan warga. Kegiatan sederhana tersebut menjadi ruang interaksi yang hangat, tempat berbagi cerita, pengalaman, dan harapan. Inilah nilai kearifan lokal yang semakin kuat yaitu gotong royong sebagai fondasi pengembangan desa.
“Bagi kami, ini bukan hanya soal makanan. Ini soal pemberdayaan, bagaimana masyarakat bisa mandiri, meningkatkan ekonomi, dan tetap menjaga kearifan lokal. Itulah makna Desa Cerdas, masyarakat mampu memanfaatkan potensi dengan bijak dan kreatif,” jelas Ambar Wulan, mahasiswa KKN lainnya.
Pihak desa pun mendukung penuh inisiatif mahasiswa. Kepala Desa Aornakan I, dalam sambutannya, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih. Menurutnya, ide ini sejalan dengan program pemerintah dalam membangun desa mandiri dan kreatif. “Kami berterima kasih karena anak-anak mahasiswa sudah membuka wawasan masyarakat. Ubi kayu yang dulu kami anggap tidak ada harganya, sekarang bisa jadi sumber ekonomi baru. Semoga ini berlanjut dan semakin berkembang,” ujarnya.
Dengan adanya kegiatan ini, Desa Aornakan I semakin dekat dengan konsep Desa Cerdas yaitu desa yang berdaya, kreatif, dan mandiri. Bingka Ubi bukan sekadar makanan, melainkan simbol perubahan cara pandang masyarakat terhadap potensi lokal. Dari ubi kayu yang sederhana, lahirlah harapan baru untuk ekonomi keluarga, pemberdayaan perempuan, dan penguatan kearifan lokal.
Meski demikian, mahasiswa KKN UNIMED sebenarnya masih memiliki banyak ide olahan kreatif lainnya dari ubi kayu yang ingin diajarkan kepada masyarakat. Namun, mengingat waktu yang terbatas dan padatnya jadwal kegiatan KKN, mereka memilih untuk fokus pada satu olahan andalan, yaitu Bingka Ubi. Harapannya, resep ini bisa menjadi pintu awal masyarakat untuk terus berinovasi secara mandiri.
Pada akhirnya, Desa Cerdas bukan hanya tentang membuat masyarakat pintar, tetapi juga cerdas dalam melihat dan memanfaatkan seluruh potensi alam di sekitarnya. Tidak semua daerah memiliki kekayaan alam yang melimpah seperti Desa Aornakan I. Oleh karena itu, dengan pemanfaatan yang bijak dan kreatif, kekayaan lokal bisa menjadi sumber keberdayaan, kemandirian, dan kebanggaan desa.