Beredar informasi bahwa OG (28) korban kekerasan alat vital oleh pasangannya AST (28), di Jalan Horas, Kelurahan Pancuran Pinang, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), pada Sabtu 25 Februari kemarin, meninggal dunia.
Pria itu meninggal setelah mendapatkan perawatan intensif dari pihak Rumah Sakit Metta Medika.
Kabar itu muncul dari pembicaraan masyarakat, awak media berusaha untuk konfirmasi ke RS Metta Medika. Namun hasil konfirmasi itu, baik staff, dokter atau tenaga medis lainnya enggan untuk memberikan keterangan.
Saat kasus itu viral, awak media mencoba terus untuk meminta izin agar dapat mewawancarai korban namun tidak bisa.
Parahnya, saat salah satu pimpinan DPRD Sibolga datang membesuk korban, pihak RS Metta Medika justru mengizinkannya pada Selasa, (28/2) kemarin. Hingga berita ini dikabarkan, belum ada pihak manajemen RS Metta Medika yang bersedia memberi keterangan.
Terkait kelanjutan penanganan korban, hingga diisukan telah meninggal dunia. Hal itu dapat tanggapan dari Ketua LSM Metro Watch, Janer Silitonga.
Menurutnya, karena itu sebuah tindak kriminal, pihak Rumah Sakit Metta Medika juga harus terbuka dalam memberikan informasi tentang penyayatan alat kelamin, agar pemberitaan tersebut tidak membias
"Dikarenakan baru-baru ini kita melihat di media sosial, salah seorang oknum memberitakan bahwasanya telah terjadi penyembuhan alat kelamin yang disyayat oleh pelaku. Jadi pemberitahuan itu bias, benar tidaknya kita kan tidak tahu pada prinsipnya," ujarnya, Rabu (1/3/2023).
Pemerhati di Kota 'Berbilang Kaum' menambahkan. Seharusnya pihak rumah sakit terbuka dalam memberikan informasi maupun itu kepada pers juga kepada pihak penyidik.
"Dan pihak penyidik juga harus melakukan konferensi pers/ pres liris, agar pemberitaan itu berimbang, apa sebenarnya motif penyebab terjadinya tindak pidana itu, agar jangan tercederai hukum. Kita dengar bahwasanya si wanita tersebut telah berumah tanggah dan si pria itu juga telah berumah tangga. Akhirnya ini dapat merusak mental anak anaknya nantinya," sebut Janer Silitongah.
Dimana menurut pemberitaan sepihak, lanjut Ketua LSM Metro Watch, pihak Rumah sakit Metta Medika diduga tertutup kepada awak media.
"Pihak penyidik juga agar fair dan jelas menyampaikan informasi kepada media dan begitu juga pihak rumah sakit Metta Medika yang lagi merawat. Dan kebetulan mendengar informasi kemaren-kemaren itu, setelah dirawat di rumah sakit Metta Medica. Agar media dapat memberitakan pertimbangan berita tersebut," harapnya.