Seribuan masyarakat Sari Rejo menggelar upacara kemerdekaan Indonesia bersama tiga Anggota Komisi II DPR RI dan tiga Anggota DPRD Sumut serta seorang anggota DPRD Medan, Rabu, 17 Agustus 2016. Upacara yang digelar sejak pukul 10.00 WIB diikuti dengan hikmat oleh masyarakat Sarirejo Polonia yang sebelumnya mengalami tindakan kekerasan dari aparat TNI AU dan TNI AD dari Armed Medan.
Anggota DPR RI tersebut antara lain, Ahmad Reza Patria (Gerindra), Arteria Dahlan (PDIP) dan Diah Pitaloka (PDIP). Sementara dari DPRD Sumut, hadir Ketua Komisi A, Sarma Hutajulu dan Richard Sidabutar serta Ari Wibowo, dan dari DPRD Medan hadir Waginto. Mereka disambut rasa haru dari warga.
Cuaca cukup terik namun masyarakat semangat mengikuti upacara. Pasukan pengibar bendera pun berasal dari masyarakat Sari Rejo. Upacara berlangsung sangat khidmat dan mendapat penjagaan ketat dari aparat kepolisian.
Ketua FORMAS Sari Rejo Pahala Napitupulu diunjuk sebagai pembina upacara. Saat bendera mulai dinaikkan, seluruh masyarakat memberi penghormatan.
Dalam amanat upacaranya, Sahala meminta agar bentrokan yang terjadi beberapa waktu lalu harus tetap diproses secara hukum. "Agar hal itu tdak menjadi kebiasaan dan memberikan efek jera kepada TNI AU," kata Pahala.
Pahala mendapat informasi bentrokan saat ia berada di Jakarta. Hal itu sangat disayangkan, apalagi informasi yang beredar, TNI AU dibantu oleh pasukan Artileri Medan (ARMED) saat mensweeping warga.
"Dari informasi yang saya dapat, perusakan dan kebrutalan yang sangat tidak berprikemanusiaan, memecahkan kotak infaq dan mengambil uangnya, membakar rumah ibadah tanpa etika. Sungguh ini adalah perbuatan yang sangat biadab," katanya.
Pahala juga menyayangkan sikap Wali Kota Medan yang diduga tidak independen dalam mengatasi masalah Sari Rejo.
"Saya juga menyampaikan, bahwa saya mendapat informasi bahwa Wali Kota Medan Eldin tidak pada posisi yang independen. Lewat forum ini saya ingatkan kepada Wali Kota Medan. Jangan sampai rakyat ini marah," katanya.
Pahala meminta masyarakat bisa tenang. Dia mengingatkan pihak TNI AU agar menghentikan kekerasan terhadap warga ataupun jurnalis.
"Saya ingatkan kepada TNI, hentikan perlakuan seperti ini. Atau kami melawan dengan satu prinsip. Tiada damai tanpa perang. Tetapi saya katakan lagi, hentikanlah semua itu. Jangan lagi ada kegaduhan," pungkasnya.
Amatan di lapangan, beberapa korban luka dari warga juga hadir saat upacara. Mereka hadir untuk bercerita langsung tentang kronologis brutalnya TNI AU saat melakukan sweeping masyarakat Sari Rejo.
Arteria Dahlan menanggapi aduan masyarakat menyatakan bahwa DPR RI akan memanggil Panglima TNI untuk mempertanggung jawabkan tindakan represif ini.
“Minimal Danlanud (Soewondo) harus dicopot. Minimal itu,” ujarnya yang langsung disambut pekik merdeka oleh masyarakat Sarirejo.