Kegiatan Ramadhan Fair sebagai syiar Islam yang sudah menjadi program Pemko Medan sebagai kelender tahunan setiap bulan suci Ramadhan, kali ini mendapat kritisi dari empat elemen mahasiswa yakni, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Medan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Alwashliyah (IMMAH) dan Himpunan Mahasiswa Islam.
Kritik dan masukan ini disampaikan saat keempat perwakilannya audensi ke balai Kota Medan, Selasa (23/7) dan diterima langsung oleh Plt Walikota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi.
Ketua PMII Andi Harumunan didampingi ketua IMM Abdullah Harahap, ketua HIMMAH Nurul Yakin Sitorus dan ketua HMI Hendra Hidayat, dalam audensi tersebut menjelaskan, kunjungan ini selain silaturahmi juga memberikan masukan dan buah fikir kepada pemerintah Kota Medan selaku penanggung jawab kegiatan Ramadahan Fair, yang mereka nilai perlu dievaluasi, dimana kegiatan tersebut menyimpang dari tujuan nuansa Ramadhannya. Kegiatan lebih menonjolkan aktivitas ekonomi dan layaknya seperti pasar malam.
Menurutnya, Ramadhan Fair yang yang digaungkan untuk menjadi ikon Kota Medan menjadi kehilangan identitas nuansa Ramadhan, dan nilai-nilai relegius yang seharusnya ditonjolkan menjadi tereleminir, lebih menonjolkan peningkatan ekonomi, sementara banyak pengunjung yang berbuka tetapi mereka tidak menunaikan sholat magrib, padahal masjid sangat dekat dilokasi tersebut.
“Ini sebagai masukan agar kedepan Ramadhan Fair menghidupkan budaya religi, karena kita melihat budaya relegius tersebut tidak ada lagi, dan kami sebagai empat elemen mahasiswa saat ini sedang melakukan road show safari Ramadhan di tengah-tengah masyarakat Kota Medan, “ ujar Andi Harumunan.
Dikatakannya, road show safari ramadhan ini melakukan kunjungan ke berbagai Masjid dan tempat-tempat tertentu yang ramai pengunjung, dan juga kepada para anak yatim serta anak-anak jalanan dengan tujuan berbagi rasa dan memberikan motivasi untuk menumbuhkan cita-cita, memiliki spirit dan semangat untuk menjadi orang yang berguna kelak bagi nusa dan bangsa.
Plt Walikota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi mengatakan, sangat berterima kasih atas kunjungan empat elemen mahsiswa ini, dan semua masukan ini sangat berharga untuk suksesnya Ramadhan Fair, dan masukan ini akan menjadi acuan kedepannya untuk menjadikan kegiatan Ramadhan Fair menjadi kegiatan betul-betul memiliki makna relegius, diakuinya pada awalnya niat untuk menggelar Ramadhan fair ini adalah untuk mengumpulkan para pedagang agar para pedagang tidak berserak.
Menurutnya, kegiatan Ramadhan fair memang sebelumnya menonjolkan nilai-budaya Islami yang relegius, selain kegiatan kuliner dan non kuliner setiap harinya baik siang hari dan malam hari digelar berbagai kegiatan yang bernuansa budaya Islam, seperti, lomba azan, lomba kaligrafi, lomba membaca Al Qur’an, lomba barzanzi, lomba memuklul beduk, lomba busana muslim, lomba membangunkan orang bersaur dan lainnya, namun belakangan ini kegiatan tersebut mulai menurun
“Saya akui kegiatan Ramadhan fair tahun ini, kegiatan-kegiatan yang bernuansa Islami sepertinya menurun, ini menjadi masukan bagi kami kedepan kegiatan yang bersifat nuansa bdaya Islam yang relegius akan kita tonjolkan di Ramadhan fair, dan kegiatan road show yang dilakukan oleh empat elemen mahasiswa ini saya nilai sangat positf sekali, “ uajar Dzulmi Eldin (D)