Diperkirakan 700.000 batang bibit pohon mangrove yang dikerjakan warga nelayan pada kelompok kerja “Mangrove Bahari” Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat yang akan ditanam dikawasan hutan register 8/L dirusak.
“Kita prihatin dengan kejadian pengrusakan tanaman bibit mangrove (pohon kayu bakau) oleh orang tidak bertanggungjawab,” ungkap Sekretaris Kelompok Kerja “Mangrove Bahari” Rohman di Brandan Barat, Selasa.
“Hingga sekarang ini belum diketahui siapa yang merusak tanaman bibit mangrove tersebut,” kata Rohman.
Rohman menjelaskan, selama ini hutan kawasan register 8/L sudah rusak parah, karena kayu bakaunya dirambah dan dijadikan perkebunan kelapa sawit.
Salah satu upaya untuk penyelamatan itu dengan melakukan penanaman kembali hutan mangrove yang rusak tersebut.
Namun upaya yang dilakukan itu, rupanya diduga menjadi kendala buat oknum tertentu yang merasa kawasan hutan tersebut miliknya.
Sehingga hampir 50 persen dari pembibitan mangrove tersebut rusak, sehingga tidak bisa ditanam.
Padahal kelompok kerja ini rencananya akan melakukan penananam mangrove usai lebaran ini, namun karena dirusak terpaksa penanaman mangrove ditunda sementara dan akan dipersiapkan kembali pembibitannya.
“Tidak ada langkah surut untuk menghijaukan kembali hutan mangrove register 8/L,” kata Rohman.
Dirinya juga berharap agar aparat kepolisian segera mengusut laporan pengrusakan pembibitan mangrove tersebut, agar dapat diketahui siapa dibalik dalang pengrusakan buat hijaunya hutan mangrove Langkat itu.
“Langkah cepat harus ditunjukkan aparat kepolisian di Pangkalan Brandan mengungkap segera mungkin laporan warga nelayan,” katanya.
Rohman menjelaskan di sekitar tempat pembibitan mangrove tersebut kini juga diusai perkebunan kelapa sawit.
Hutan register 8/L ditanami sawit, itu yang harus dikembalikan fungsinya untuk ditanami mangrove, agar kehidupan nelayan semakin meningkat, karena produksi ikan, kepiting dan hasil laut lainnya akan semakin banyak dengan bekembangnya tempat habitat.
Berdasarkan data yang ada pada Lembaga Swadaya Masyarakat Kabupaten Langkat, yang disampaikan Sekretaris Eksekutifnya Heri Widiyanto hampir 20.000 hektare hutan mangrove yang ada di kawasan pesisir pantai timur dari mulai Secanggang, Tanjungpura, Gebang, Babalan, Brandan Barat, Sei Lepan, Pangkalan Susu, Pematang Jaya rusak parah.
“Hampir punah keseluruhan hutan mangrove yang ada itu,” katanya, bila tidak secepatnya direhabilitasi kembali kemungkinan kehidupan nelayan pesisir pantai akan semakin susah.
Jalan satu-satunya kembalikan hutan mangrove yang ada, perkebunan kelapa sawit harus dikembalikan ke mangrove, bila tidak semakin menderitalah anak cucu kelak, ujar Heri Widiyanto. (ant)