Laboratorium Klinik Prodia Medan menyelenggarakan seminar dengan tema “Good Doctor for the Great Family: Seminar on Managing Cardiovascular Disease Risks” pada Sabtu, 18 Oktober 2014, di Grand Aston City Hall, menghadirkan 3 pembicara pakar, yaitu dr. Refli Hasan, Sp. PD, SpJP dengan topik “Risk Factors for Coronary Heart Disease”, dr. Mardianto, SpPD-KEMD dengan topik“Cardiovascular Disease Management”, dan narasumber dari klinik Prodia, Anggi Kartikawati, M.Kes.,Apt., yang membawakan topik “Pemeriksaan Laboratorium dalam Deteksi dan Pengelolaan Risiko Penyakit Kardiovaskular.” Sebagai moderator adalah Prof. dr. T. Bahri Anwar Johan, SpJP (K).
Tema seminar ini dipilih karena penyakit Kardiovaskular (PKV) atau penyakit Jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia. WHO melaporkan bahwa 30% dari total kematian di Indonesia disebabkan oleh PKV. Oleh karena itu upaya pengendalian PKV menjadi sangat penting baik dari sisi pengobatan ataupun pencegahan. Dalam seminar ini diberikan informasi mengenai faktor risiko PKV, cara deteksi dan pengelolaan pasien dengan faktor risiko PKV. Para peserta yang terdiri dari para dokter diharapkan mampu menangani pasien yang beresiko PKV dengan baik dan tepat, termasuk dalam hal memilih pemeriksaan yang tepat pada laboratorium terbaik.
Mengawali seminar, dr. Refli Hasan memaparkan fakta bahwa PKV masih menjadi penyebab utama kematian global dan merupakan penyebab utama morbiditas (keadaan sakit, terjadinya penyakit atau kondisi yang mengubah kesehatan dan penurunan kualitas hidup). “Berdasarkan data dari WHO, ± 17,3 juta orang meninggal karena PKV di tahun 2008 dan diperkirakan pada 2030, hampir 23,6 juta orang akan meninggal karena PKV,” ujar Sekretaris Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK USU/RSUP H. Adam Malik ini.
Beliau juga menjelaskan faktor risiko PKV diantaranya abnormalitas metabolisme lipid; hipertensi, merokok, diabetes dan obesitas sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi atau modifiable risk factors, dan faktor risiko non modifiable seperti usia, jenis kelamin dan riwayat keluarga atau faktor keturunan. Hipertensi merupakan penyebab PKV yang paling sering ditemui. Penderita Hipertensi berisiko 2 sampai 3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan individu normotensial pada usia yang sama. Selain itu, perokok aktif berisiko 2 sampai 5 kali lebih tinggi dibandingkan individu tidak merokok, sedangkan penderita Diabetes berisiko 2 sampai 7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan individu sehat.
“Individu yang menerapkan pola diet non-aterogenik, yakni rajin mengonsumsi sayur, buah, biji-bijian dan makanan dengan kadar asam lemak tak jenuh memiliki risiko PKV yang kecil. Oleh karena itu diharapkan masyarakat lebih sering mengonsumsi makanan jenis tersebut,” imbuhnya.
Pada akhir presentasinya, dr. Refli menegaskan bahwa PKV dapat dicegah dengan mengenali faktor risiko sejak dini dan meminimalkan faktor risiko tersebut sebagai upaya paling efektif untuk menurunkan angka kejadian PKV.
Anggi Kartikawati dari Klinik Prodia melengkapi informasi yang disampaikan pembicara pertama dengan memaparkan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi atau menurunkan seberapa besar risiko seseorang untuk terkena PKV. Anggi menjelaskan peran Lipoprotein dalam jalur metabolisme lipid termasuk kolesterol LDL yang dikenal sebagai “kolesterol jahat”. Peningkatan kolesterol sebesar 10% akan meningkatkan risiko aterosklerosis dan PKV sebesar 20%. Oleh karena itu, sangat penting mengukur kadar kolesterol LDL-C dalam tubuh dan menjaga kadarnya dalam batas normal. Akan tetapi pemeriksaan kolesterol LDL saja tidak cukup karena ternyata ada beberapa jenis lipid dan lipoprotein yang lebih aterogenik atau lebih berbahaya, yakni Apo B dan Lp(a) atau lipoprotein (a).
Menurut Anggi, Apo B dan Lp(a) sangat dianjurkan bagi individu penyandang diabetes, obesitas, resistensi insulin dan hipertensi. Selain itu. Anggi menjelaskan juga peran pemeriksaan penanda inflamasi atau perdanagan yakni hs-CRP, karena dalam perkembangan PKV terjadi inflamasi ringan pada pembuluh darah.
Direktur Pelayanan Medik dan Supervisor Divisi Endokrin RSUP H. Adam Malik, dr. Mardianto menutup sesi ilmiah dengan mengingatkan pentingnya memahami dan mendeteksi faktor penyebab PKV pada pasien, mengidentifikasi gejala yang timbul, memastikan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sekaligus mengajari pasien bagaimana melakukannya dan memantau kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang diberikan.
Ditambahkan juga bahwa dokter harus memberitahukan kepada setiap pasien untuk mengetahui bagaimana pentingnya tekanan darah, menjaga berat badan optimal, mengurangi konsumsi garam dan lemak jenuh serta meminum obat yang diberikan secara teratur.
Antusiasme peserta seminar ini sangat menggembirakan, terlihat dari banyaknya pertanyaan selama sesi diskusi. Untuk memastikan pemahaman peserta terhadap materi yang dipresentasikan dalam seminar ini, penyelenggara menyiapkan 2 studi kasus untuk dibahas peserta seminar. Peserta cukup antusias untuk memecahkan kasus yang dibacakan moderator tersebut dan dari analisa serta solusi yang diberikan untuk kasus yang dibahas menunjukkan bahwa pemahaman peserta terhadap materi yang dipaparkan cukup baik. Diharapkan, pemahaman peserta semakin lengkap dengan review kasus dari ketiga narasumber yang menjadi pembicara dalam seminar ini.
Memberikan edukasi dan informasi diagnosik melalui seminar, merupakan salah satu komitmen laboratorium Klinik Prodia untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap berbagai masalah kesehatan untuk mendukung terwujudnya Indonesia Sehat, sebagaimana dicanangkan oleh pemerintah. Program ini dilakukan oleh PT. Prodia Widyahusada secara berkala dengan berbagai topik, sesuai dengan masalah kesehatan yang sering ditemukan. Pada tahun 2011, Prodia menggelar roadshow seminar di 9 kota besar di Indonesia dengan tema Hepatitis, tahun 2012, seminar di 12 kota besar dengan tema Sindrom Metabolik, di tahun 2013, seminar digelar di 14 kota besar dengan tema penyakit Ginjal dan Hipertensi, sedangkan untuk tahun ini roadshow seminar diadakan di 15 kota besar, yakni Medan, Banda Aceh, Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Balikpapan, Makassar, Manado, Palembang, Pekanbaru dan Denpasar. (irwan)