Ada sedetik kesunyian yang muncul saat atmosfer ruangan berubah dari perenungan menjadi rasa tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" ucap seorang pengunjung, sambil menunjuk ke langit-langit ruang tamu. "Apakah ini masih akurat?" kata pengunjung lain.
"Kenapa saya tidak pernah mendengar ini sebelumnya?" tanya rekannya. Sambil mendongak ke atas, saya juga tak bisa mempercayainya.
Di atap kayu di atas kepala kami, ada model skala semesta kita, dicat dengan emas yang berkilau dan biru tua yang mengilap. Ada bumi sebuah bola emas yang bergantung dari kawat yang nyaris tak terlihat
Di sebelahnya, Matahari, berbentuk bintang yang terbakar, berkilau seperti hiasan natal. Lalu merkurius Venus, Mars, dan bulan-bulanya secara berurutan dalam jalur eliptis yang menempel di langit-langit.
Semuanya berkilau di satu sisi, menggambarkan terangnya matahari, sementara di jarak yang lebih jauh, di lingkar luar, adalah planet-planet terluar, jupiter dan Saturnus. Sementara posisi bulan, yang digunakan untuk menentukan posisi zodiak, melengkapi sistem model tersebut.
Tersembunyi di salah satu rumah di pinggir kanal di kota kecil Franeker, di provindi barat laut Friesland, ini adalah planetarium tertua dunia yang masih berfungsi.
Astronomi Barat berasal dari Mesopotamia Kuno, di sepanjang lembah sungai Tigris dan Eufrat. Tapi seorang astronom amatir Eise Eisinga menjebak tata surya di ruang tamunya. Dan perhitungan yang digunakan sampai hari ini masih akurat.
Seakurat apa? Lihat ke atas, dan semua planet, bintang, matahari dan bulan berada di tempat yang tepat seperti seharusnya, meski jaraknya dikurangi dalam skala satu triliun, artinya 1mm dari langit-langit itu mewakili jarak satu juta km.
Jupiter butuh 12 tahun untuk mengelilingi matahari. Saturnus, 29 tahun. Uranus, Neptunus,dan pluto tidak ada di sini karena planet-planet itu belum di temukan saat Eisinga menyelesaikan model skala sistem tata surya yang dibangunnya pada 1781.
Meski begitu, ini menakjubkan: sebuah teater Barok bagi para pengamat bintang, menjadi perhiasan di ruang tamu dari rumah sederhana seorang penyisir wol yamg hidup tak lama setelah zaman keeamasan Belanda.
Dan semuanya merupakan pencapaian yang tak terbayangkan mengingat Eisinga berhenti sekolah pada usia 12 tahun.
Planetarium Royal Eise Eisinga kini menjadi museum astronomi serta pusat eksplorasi luar angkasa.sejak dibuka pada 1781, tempat ini sudah menarik banyak pengunjung dari seluruh dunia.
Tempat ini terdaftar sebagai Rijksmonument, atau situs warisan nasional di Belanda, dan pengamat bintang, astronom amatir sampai astronot yang menjalani misinya sudah mengunjungi tempat ini dan berharap, seperti halnya Eisinga, bisa mendapat inspirasi.
Salah satu orang itu adalah Adrie Warmenhoven, direktur museum yang tak pernah tak kagum akan akurasi yang dibuat oleh Eisinga. Beberapa kali dalam setahun, kata Warmenhoven, dia bisa melihat matahari terbit di atas teluk IJsselmeer saat menyeberangi jalan Afsluitdijk dalam perjalanan ke tempat kerja.
"Saat kemudian saya masuk ke planetarium, saya bisa melihat waktu yang sama di pagi hari pada jam planetarium," katanya dengan bersemangat saat saya berkunjung pada sebuah siang yang cerah di bulan Februari.
"Beberapa tahun lalu, Venus transit di matahari, sebuah fenomena astronomi yang jarang, dan itu tetap terlihat di dalam planetarium. Sungguh menakjubkan.
Sistem tata surya Eisinga memiliki skala satu banding satu triliun, 1mm mewakili satu juta km. Meski kisah Eisinga sudah banyak diketahui di provinsi rumahnya di Friesland, namun kisah ini mungkin tak akan kita ketahui tanpa keberadaan planetarium dan buku yang jelas-jelas sering dibukanya.
Buku yang penuh dengan sketsa dan gambar ini menjelaskan dengan detail bagaimana cara mempertahankan dan mengelola planetarium meski penciptanya sudah tiada.
"Planetarium ini akurat, tapi tidak sempurna," tandas Warmenhoven, dia menjelaskan mekanisme kerjanya.
"Contohnya pendulum terbuat dari satu jenis besi sehingga terpengaruh oleh perubahan cuaca. Lalu ada planet-planet nya yang menjadi masalah karena ukurannya. Sehingga menurut manual Eisinga, kita harus menyesuaikannya setiap 10 atau 12 tahun. "Pada 8 Mei 1744, Eisinga pertama kali mengunakan pengetahuannya ini.
Sistem tata surya buatan Eisinga, yang terjalin dari sistem yang rumit dari lingkaran kayu yang bekerja secara mekanis dan kabel-kabel penuh debu, juga dikuatkan lebih 10.000 paku buatan sendiri.
Ada kepanikan di kalangan penduduk desa Franeker saat sebuah skenario kiamat dimunculkan oleh Eelcoalta, seorang teologi dan pendeta Frisian. Menurutnya, susunan planet bisa membuat bumi terbakar oleh matahari.
Eisinga yang tak lebih dari seorang astronom amatir, menunujukkan kebenarannya. Dia tidak bertujuan untuk mengejek gereja, tetapi untuk memprediksi pergerakan planet di masa depan dan memperlihatkan pada penduduk desa bahwa mereka salah.