Rapid Test Antigen-Swab merupakan salah satu cara untuk mendeteksi adanya materi genetik atau protein spesifik dari Virus SARS CoV-2. Tes Antigen-Swab dilakukan pada saat akan melakukan aktivitas, seperti perjalanan maupun kegiatan belajar.
Untuk menjamin keamanannya, pemeriksaan rapid test antigen harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan serta menggunakan standar operasional yang diyakini oleh tenaga kesehatan.
Seperti yang dilakukan sekolah SMAN 1 Plus Matauli Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Mewajibkan siswanya untuk melakukan swab bagi yang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM).
Namun hal tersebut, tidak sepenuhnya mendapatkan persetujuan dari banyaknya orangtua siswa. Dikarenakan akan kekhawatiran pandemi covid-19.
Serta kewajiban swab bagi siswa tersebut mendapatkan perhatian dari beberapa aktivis. Akan biaya swab antigen yang dibebankan kepada orangtua siswa sebesar Rp 100.000 per swab.
Jan Hendrik Simanjuntak, dari Organisasi Pergerakan Indonesia (PI) Sibolga Tapteng, mengatakan kebijakan swab yang dilaksanakan oleh pihak SMAN 1 Plus Matauli sudah tepat. Akan tetapi biaya yang dibebankan kepada orangtua siswa sangat tidak tepat.
Dijelaskannya, pengambilan kebijakan pada sektor pendidikan itu harus melalui pertimbangan yang holistik dan selaras dengan kebijakan pada sektor lainnya.
"Seharusnya pihak sekolah harus lebih memperhatikan keadaan ekonomi di tengah-tengah pandemi covid 19, swab kan harusnya tidak membebankan para orang tua siswa yang keadaan ekonominya merosot dikarenakan pandemi," jelas Jan kepada Utamanews.com, Senin (4/10/2021).
Ditambahkannya, Pemerintah Pusat sudah menyalurkan 20 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan, salah satunya dalam bentuk dana BOS.
"Ditengah-tengah kondisi pandemi ini, sekolah itu berhak membuat kebijakan penggunaan dana BOS untuk swab antigen para siswa. Ini demi berjalannya proses belajar mengajar dan agar tidak menjadi klaster penyebaran virus covid 19," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, Plt Kepala Sekolah SMAN 1 Plus Matauli Pandan, Deden Rahman ketika ditanya menyampaikan, apabila biaya swab dibebankan dari dana BOS akan tidak mencukupi karena banyaknya siswa yang berjumlah 1250 orang.
"Wah, kalau ditanggung 1250 orang berapa itu, takkan sanggup sekolah itu mas, mendingan buat memperbaiki kampus kita yang sudah banyak untuk diperbaiki," ungkap Deden.