Kamis, 21 Mei 2026
KN-LWF Indonesia, GMKI PSS, dan AMAN Tano Batak Gelar Diskusi: “Pemuda untuk Hutan, Hutan untuk Masa Depan”
Pematang Siantar (utamanews.com)
Oleh: Dian Rabu, 01 Apr 2026 16:41
Istimewa

KN-LWF Indonesia bersama GMKI Pematangsiantar–Simalungun (PSS) dan AMAN Wilayah Tano Batak menggelar diskusi bertajuk Ngopi & Nalar dengan tema “Pemuda untuk Hutan, Hutan untuk Masa Depan”. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menjawab kekhawatiran atas pentingnya peran pemuda dan mahasiswa dalam menjaga kelestarian hutan.

Diskusi dilaksanakan pada Selasa, 31 Maret 2026, di Pematangsiantar, dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), aktivis lingkungan, pemuda/i gereja, hingga masyarakat sipil yang memiliki perhatian terhadap isu keberlanjutan hutan.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dan reflektif, menjadi ruang bertukar gagasan, pengalaman, serta strategi dalam merespons berbagai persoalan kehutanan yang kian kompleks.

Dalam sambutannya, Mangisi Erlinda selaku Peace & Justice Program Officer KN-LWF Indonesia menegaskan bahwa hutan bukan sekadar sumber daya ekonomi, melainkan ruang hidup yang memiliki nilai ekologis, sosial, bahkan spiritual.
Senada dengan itu, Ketua Pengurus Harian AMAN Wilayah Tano Batak, Jhonntoni Tarihoran, menyampaikan bahwa hutan berfungsi sebagai penyangga kehidupan, menjaga keseimbangan iklim, serta menjadi sumber penghidupan, khususnya bagi masyarakat adat. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa hutan terus mengalami tekanan akibat eksploitasi berlebihan, alih fungsi lahan, serta kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan.

Sementara itu, Ketua GMKI Pematangsiantar–Simalungun, Yova Ivo Cordiaz Purba, menekankan bahwa mahasiswa dan pemuda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Ia menegaskan bahwa kesadaran ekologis harus dibangun sejak dini, dan generasi muda harus berada di garis depan dalam menjaga hutan sebagai warisan kehidupan.

Dalam sesi diskusi, Ketua Pengurus Harian AMAN Tano Batak sebagai pemantik pertama menyoroti eratnya hubungan antara hutan dan kehidupan masyarakat adat. Ia menjelaskan bahwa hutan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang budaya, identitas, dan spiritualitas. Kerusakan hutan berarti hilangnya ruang hidup sekaligus ancaman terhadap eksistensi masyarakat adat.

Pemantik kedua dari KN-LWF Indonesia menekankan bahwa hutan merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dilindungi dari segala bentuk kerusakan dan eksploitasi yang tidak bertanggung jawab. Di tengah meningkatnya ancaman deforestasi, kebakaran hutan, dan krisis iklim, pemuda—termasuk pemuda gereja—dituntut untuk tidak bersikap pasif. Pemuda harus hadir sebagai agen perubahan yang mampu membangun kesadaran ekologis, menggerakkan aksi nyata, serta menjadi suara kritis terhadap kebijakan dan praktik yang merusak lingkungan.
produk kecantikan untuk pria wanita

Pemantik terakhir, Ketua GMKI PSS, menegaskan pentingnya peran mahasiswa dan pemuda sebagai kelompok intelektual yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga bertindak nyata. Dalam konteks krisis lingkungan, mahasiswa dan pemuda diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan melalui edukasi, advokasi, serta keterlibatan langsung dalam aksi pelestarian lingkungan. Ia juga menambahkan bahwa isu kehutanan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan keadilan sosial, di mana kelompok masyarakat kecil sering menjadi pihak yang paling terdampak.

Dalam sesi tanya jawab, peserta mengangkat berbagai tantangan nyata dalam upaya pelestarian hutan, seperti maraknya penebangan liar, ekspansi industri ekstraktif, konflik agraria, serta lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku perusakan lingkungan. Diskusi ini sekaligus menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dan mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga hutan.

Para peserta sepakat bahwa persoalan kehutanan tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor. Masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan komunitas adat perlu bersinergi dalam merumuskan serta menjalankan kebijakan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

iklan peninggi badan
Diskusi ini juga menjadi momentum untuk mendorong lahirnya gerakan pemuda yang lebih terorganisir dan berkelanjutan dalam menjaga hutan. Pemuda tidak hanya didorong untuk memahami isu, tetapi juga mengambil peran konkret melalui berbagai aksi, seperti kampanye lingkungan, penanaman pohon, pengawasan terhadap praktik perusakan hutan, serta advokasi kebijakan publik.

Sebagai bagian dari komitmen bersama, kegiatan ini menghasilkan beberapa poin penting, yaitu:
  1. Meningkatkan kesadaran ekologis di kalangan pemuda dan mahasiswa.
  2. Memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan dalam isu lingkungan.
  3. Mendorong kolaborasi lintas sektor dalam upaya pelestarian hutan.
  4. Menginisiasi gerakan nyata berbasis komunitas maupun individu untuk menjaga keberlanjutan hutan, termasuk melalui penanaman pohon.

Kegiatan ini ditutup dengan seruan bersama bahwa masa depan hutan sangat ditentukan oleh kesadaran dan tindakan generasi muda hari ini. Hutan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga titipan bagi generasi mendatang yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Dengan mengusung semangat “Pemuda untuk Hutan, Hutan untuk Masa Depan”, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun gerakan kolektif yang lebih luas dan berdampak nyata bagi kelestarian hutan.
busana muslimah
Berita Terkini
Berita Pilihan
adidas biggest sale promo samsung flash sale baju bayi wardah cosmetic cutbray iklan idul fitri alfri
Kontak   Disclaimer   Karir   Iklan   Tentang Kami   Pedoman Media Siber

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

gopay later