"Masyarakat tidak perlu mempersoalkan perbedaan, namun harus bisa mencari persamaan-persamaan dari perbedaan tersebut," kata Mahfud MD di Yogyakarta, Jumat (5/5/2017).
Menurut dia, masyarakat diharapkan untuk tidak mudah terprovokasi oleh kelompok-kelompok radikal yang sering melakukan provokasi dengan menggunakan isu kebijakan pemerintah.
"Jangan terprovokasi isu-isu dari kelompok-kelompok radikal yang sering menjadikan isu-isu strategis, baik sosial politik dan isu kebijakan pemerintah. Isu itu yang sering digunakan untuk menciderai Kebhinekaan yang selama ini sudah dibangun dalam wujud Pancasila," katanya.
Ia mengatakan, masyarakat harus bangga dengan keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia dan tidak dimiliki oleh negara lain di dunia. Mahfud mengatakan, Pancasila merupakan azimat kesaktian bangsa untuk bersatu. Potensi perpecahan di Indonesia sangatlah besar. Dimana memiliki belasan ribu pulau, ribuan suku dan ratusan bahasa daerah.
Ia mengatakan, Indonesia adalah negara di dunia yang mampu bertahan dalam pluralisme. Bukan melihat sebagai ancaman tapi sebagi aset negara.
"Pakistan pada 1947 pisah dari India karena adanya perbedaan. Pada 1971 Bangladesh pisah dari Pakistan. Sementara Indonesia mampu mempertahankan Bhinneka sebagai dasar kehidupan bersama," katanya.
"Saya sempat berbincang dengan kelompok intoleransi. Pokok ide dari kelompok ini adalah mengganti idiologi negara. Mereka datang ke rumah saya mengajak diskusi bahwa Indonesia gagal dengan Pancasila-nya lalu menawarkan khilafah, khilafah itu yang mana? Saya sudah berdebat lama tidak ada itu khilafah. Pancasila adalah harga mati," katanya.